Memperkenalkan Metode Sosial-Saintifik dalam Tafsir Perjanjian Baru

Pendahuluan

Perjanjian Baru mengandung makna penting dalam kehidupan orang percaya, terutama sebagai dasar hidup berteologi. Mengerti PB adalah suatu keharusan, bahkan kemendesakan di tengah kompleksitas hidup yang menantang kekristenan dewasa ini. Dinamika ini menuntut pengertian terhadap PB haruslah lebih komprehensif.

Karenanya, kita membutuhkan tafsir PB yang di dalamnya proses untuk mengerti teks-teks PB dilakukan. Di antara sekian banyak metode tafsir dalam sejarah kekristenan, salah satu metode yang saat ini banyak mendapat perhatian adalah metode sosial-saintifik.

Apa Itu Metode Tafsir Sosial-Saintifik?

            Menurut Elliot, kritik sosial-saintifik terhadap Alkitab berarti fase dari tugas eksegese yang menganalisa dimensi sosial dan budaya teks dan konteks lingkungannya melalui penggunaan perspektif, teori, model dan penelitian sains sosial.[1] Dengan kata lain, kritik ini bukanlah keseluruhan tugas tafsir, tetapi tahap tertentu yang memperhatikan konteks sosial teks melalui penelitian sains sosial. Ini adalah suatu subdisiplin dari eksegese dan tidak dapat dipisahkan dari tugas eksegese lain seperti kritik teks, kritik literer, kritik naratif, kritik sejarah, kritik tradisi, kritik bentuk, kritik redaksi, kritik retoris dan kritik teologi.

Metode tafsir ini dibimbing dan diberi informasi oleh pertanyaan dan penelitian dari sains sosial. Penelitian ini tidak hanya menyangkut sosiologi (terutama studi tentang sistem sosial modern), tetapi juga antropologi (terutama studi tentang sistem sosial pra-industri), ekonomi, sosiolinguistik, semiotic, dan subdisiplin lain dari lapangan sains sosial yang lain yang berhubungan.[2]

Studi sosial-saintifik mencakup:[3]

  1. Bukan hanya aspek sosial dari bentuk dan isi teks tetapi juga faktor yang mempengaruhi keadaan dan konsekuensi-konsekuensi yang punya maksud dari proses komunikasi.
  2. Korelasi dimensi-dimensi linguistik, literer, teologi (ideologi), dan sosial dari teks.
  3. Cara/sikap yang di dalamnya komunikasi tekstual ini adalah baik sebuah refleksi maupun jawaban terhadap konteks sosial dan budaya tertentu.

Berkaitan dengan historis kritis, metode ini adalah suatu perluasan, bukan penggantian metode historis kritis. Itu justru melengkapi tugas subdisiplin lain melalui perhatiannya pada dimensi sosial teks, konteks penulisan dan penerimanya, dan interrelasi mereka[4] yaitu sistem sosial dan budaya kuno sebagaimana yang ditemukan oleh sejarawan, sosiolog, antropolog dan arkeolog.[5]

Presupposisi yang terdapat dalam sudut pandang sosial-saintifik yaitu:[6]

  1. Manusia disosialisasikan dan dibudayakan dalam sebuah  sistem sosial tertentu, pada waktu dan tempat tertentu. Demikian juga Yesus.
  2. Karena sosialisasi dan pembudayaannya, manusia berbagi pemaknaan dengan yang lainnya dalam kelompok sosial mereka, dan pemaknaan-pemaknaan ini diungkapkan dalam bahasa, gesture, benda-benda, dan sejenisnya. Makna yang diungkapkan dalam bahasa, gesture, dan benda-benda itu didapat dari dan mengungkapkan sistem sosial pada waktu dan tempat tertentu, yang ke dalamnya orang yang berkomunikasi telah dibudayakan. Demikian juga Yesus.
  3. Apapun yang orang rasakan, mereka merasa menurut presuposisi sosial yang mereka bawa pada kejadian yang mereka rasakan. Demikian juga Yesus.
  4. Pastilah bahwa Yesus dibudayakan dan dibudayakan dalam suatu masyarakat Mediterania timur yang tidak dipengaruhi globalisme, universalime, saintisme, kota modern, revolusi industri, negara, Pencerahan, hukum internasional, Renaissans, skolatisisme Arab-Eropa, Kode Justinian, Kekristenan Konstantinus, agama Yahudi talmudis, dan sejenisnya. Pastilah dia disosialkan dan dibudayakan dalam masyarakat tani Israel yang terhelenisasi, yang karenanya dipengaruhi oleh apa yang kita sebut sebagai Helenisme yang diterima dalam kehidupan desa tani Israel dalam bagaian provinsi Siria di Roma yang disebut Galilea.
  5. Sama pastilah bahwa Yesus disosialkan dan dibudayakan dalam masyarakat konteks-tinggi yang menghasilkan dokumen yang sederhana dan berkesan, meninggalkan banyak imaginasi dan pengetahuan umum bagi pembaca dan pendengar.

Mengapa Perlu?

Ini menghasilkan penilaian yang baru dan lebih komprehensif terhadap situasi sosial yang terdapat dalam tulisan dan strategi yang mendasari jawabannya, hubungan antara kondisi sosial, pola kepercayaan, dan pola kelakuan.[7]

Bagaimana Melakukannya?

Kritik sosial-saintifik adalah berdasarkan sebuah pembacaan pertama teks secara dekat. Sebagai suatu analisa eksegetis, kritik sosial-saintifik terhadap dokumen Alkitab pertama dimulai dengan analisa terhadap teks literer (teks yang telah ditetapkan di atas dasar sebuah usaha kritik teks terdahulu).[8] Operasi pertama berarti dimulai dengan kritik teks kemudian kepada analisa literer/sastra.

Kritik teks bertujuan untuk:[9]

  1. Menentukan proses penerusan teks dan timbulnya bentuk-bentuk varian teks yang beragam,
  2. Menentukan susunan kata yang asli jika dinilai mungkin atau terjangkau,
  3. Menentukan bentuk dan susunan kata yang terbaik dari teks yang pembaca modern harus pakai.

Dengan mengandalkan bukti internal[10] dan eksternal[11] teks, maka teks literer telah bisa ditentukan. Inilah yang akan terus dipakai dalam eksegese.

Kritik literer/sastra pun dilanjutkan. Kritik ini berkaitan dengan komposisi dan gaya  retorik teks. Kritik sastra sendiri adalah langkah-langkah untuk memilah-milah  sumber atau lapisan-lapisan teks untuk menggambarkan isi dan ciri-ciri khasnya, serta untuk menghubungkannya satu sama lain.[12] Ini mencakup topik-topik: struktur karangan dan karakter teks, teknis-teknis gaya  bahasa, pemakaian gambar-gambar dan simbol-simbol oleh pengarang, efek-efek dramatis dan estetis yang ditimbulkan sebuah karya, dsb.[13] Dengan demikian, ketahuanlah genre dan subgenre dari teks tersebut.

Bab-bab berikutnya melibatkan bukan hanya studi tentang kata-kata belaka dari suatu istilah/konsep, tetapi lanjut kepada penyelidikan terhadap realita sosial berbeda dari kata-kata itu tunjukkan dan artikan dan cara yang di dalamnya perbedaan mereka mendasari dan membentuk isi, desain, dan kuasa persuasif dari surat itu sebagai suatu keseluruhan.

Menurut Elliot, perkembangan metode eksegese telah dipengaruhi oleh keyakinan bahwa tujuan penafsiran Alkitab adalah penentuan makna teks Alkitab dalam konteks aslinya melalui pengujian komprehensif terhadap semua karakter teks (tekstual, literer, linguistik, historis, tradisional, redaksional, retorikal, dan teologis) dan semua penentu bagi maknanya. Teks-teks ini dan konteks yang di dalamnya mereka dihasilkan selalu punya dimensi sosial juga. PB mengandung kesaksian terhadap fenomena sosial, pengumpulan suatu komunitas Yesus dari Nazaret yang dipahami sebagai Mesias Israel dan Juruselamat masyarakat.[14]  

Melihat hal tersebut, metode historis kritis yang telah berkembang di kalangan para ahli harus diperlengkapi dengan pendekatan baru guna memahami Alkitab sebagai produk dan jawaban terhadap lingkungan sosial dan budaya. Pendekatan ini disebut kritik sosial-saintifik (sosial-sains). Kritik sosial-saintifik adalah suatu perluasan, bukan penggantian metode historis kritis. Itu melengkapi usaha eksegese subdisiplin lain melalui perhatiannya pada dimensi sosial teks, konteks penulisan dan penerimaannya, dan interrelasi mereka.[15] Metode ini bukanlah “sosiologi atau antropologi Alkitab.” Malah, dia menggabungkan sains sosial – yang terdiri dari sosiologi, antropologi, psikologi, politik dan geografi – dengan eksegese sebagai suatu gabungan operasi teologis, literer, sejarah, maupun sosial-saintifik. Metode ini berfokus pada penentuan apa yang penulis katakan dan maksudkan lewat perkataannya kepada para orang sezamannya. Makna teks ditentukan oleh sistem sosial.[16]

Kita bisa memulai dengan mendekati suatu teks berdasarkan pendekatan subdisiplin ilmu sosial satu persatu. Salah satu contoh misalnya dalam Yohanes 14:6 Yesus mengatakan bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Selanjutnya bagaimana secara sosiologis, lalu antropologis, psikologi, politik dan geografi hal ini bisa dipahami?

Nah, kini saatnya kita membaca dan meneliti teori-teori subdisiplin ilmu sosial yang sesuai dengan pendekatan kita terhadap teks. Secara psikologi misalnya ada teori tentang “diri” (self). Diri adalah keyakinan yang kita pegang tentang diri kita sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tentang diri bisa berupa apa karakteristik penting dari diri kita, apa kelebihan kita, apa kelemahan kita, situasi apa yang kita sukai atau kita hindari. Seperangkat keyakinan tentang diri kita ini dinamakan self-concept (konsep diri). Penilaian kita tentang diri kita sendiri disebut sebagai self esteem (penghargaan diri).[17]

Orang yang memiliki tingkat penghargaan diri yang tinggi biasanya memiliki pemahaman yang jelas tentang kualitas personalnya. Sebaliknya, orang yang memandang rendah dirinya sendiri kurang memiliki konsep diri yang jelas, merasa rendah diri, sering memilih tujuan yang kurang realistis atau bahkan tidak memiliki tujuan yang pasti, cenderung pesimis dalam menghadapi masa depan, mengingat masa lalu secara negatif, berkubang dalam perasaan negatif.[18]

Konsep “diri” sendiri adalah sebuah bangunan budaya yang berbeda secara nyata dari satu masyarakat ke masyarakat lain.[19] Di Asia, Afrika dan Amerika Tengah dan Selatan menekankan kolektivisme. Ini disebut sebagai diri yang saling tergantung (interdependent self). Dalam budaya ini, masyarakat lebih kritis terhadap diri orang lain dan memiliki lebih sedikit kebutuhan untuk harga diri yang positip.[20]

Dalam dunia Perjanjian Baru atau tradisi Yesus tidak ada yang berkepribadian individualis,[21] melainkan kolektivis. Masyarakat Yesus tidak memahami diri sebagai identitas yang terpisah dari masyarakat atau kelompok. Mereka dimotivasi oleh norma kelompok, bukan kebutuhan atau aspirasi individu.[22] Karenanya, kesadaran diri Yesus sebagai jalan dan kebenaran dan hidup merupakan pemahaman diri yang tidak terpisah dari masyarakatnya. PernyataanNya itu merupakan pernyataan yang pastilah dibentuk dan didukung oleh norma kelompok, termasuk pengakuan orang banyak, para muridNya dan orangtuaNya.

Selanjutnya, kita bisa beralih kepada subdisiplin lain yang bisa dikaitkan dengan penelitian tentang kesadaran diri Yesus tersebut atau teks-teks lain yang kita pilih untuk interpretasikan.


[1] John H. Elliot, What is Social-Scientific Criticism, Minneapolis: Fortress Press, 1993, p. 7

[2] John H. Elliot, A Home for the Homeless: A Social-Scientific Criticism of 1 Peter, Its Situation and Strategy, Minneapolis: Fortress Press, 1990, p. xix

[3] John H. Elliot, What is Social-Scientific Criticism, Op.Cit., p. 7

[4] John H. Elliot, A Home for the Homeless, p. xix

[5] John H. Elliot, What is Social-Scientific Criticism, Op.Cit., p. 8

[6] Bruce J. Malina, Social-Scientific Methods in Historical Jesus Research” in The Social Setting of Jesus and the Gospels, Wolfgang Stegemann, Bruce J. Malina, Gerd Theissen, Minneapolis: Augsburg Fortress, 2002, pp. 4-5

[7] John H. Elliot, A Home for the Homeless, p. xix

[8] Ibid., p. xxii

[9] John H. Hayes, Carl R. Holaday, Pedoman Penafsiran Alkitab, Jakarta: BPK GM, 2006, hlm. 44

[10] Misalnya tentang teologi utama, bahasa, kosa kata, dan konteks teks tersebut.

[11] Misalnya penilaian terhadap varian teks dalam kritik apparatus

[12] Ibid., hlm. 86

[13] Ibid., hlm. 86. Bnd. A. A. Sitompul, Ulrich Beyer, Metode Penafsiran Alkitab, Jakarta: BPK GM, 2008, hlm. 227-229

[14] John H. Elliot, What is Social-Scientific Criticism, (Minneapolis: Fortress Press, 1993), 9

[15] John H. Elliot, A Home for the Homeless: A Social-Scientific Criticism of 1 Peter, Its Situation and Strategy, (Minneapolis: Fortress Press, 1990), xix

[16] John H. Elliot, What is Social-Scientific Criticism, Op.Cit., 91

[17] Shelley E. Taylor, Letitia Anne Peplau, David O. Sears, Psikologi Sosial, Edisi Kedua Belas (Jakarta: Kencana, 2009), 119

[18] Ibid., 120

[19] Richard L. Rohrbaugh, Op.Cit., 28

[20] David G. Myers, Op.Cit., 42

[21] Richard L. Rohrbaugh, Op.Cit., 29

[22] Ibid., 30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s