True Success

Jonah 3:4-4:2

But it displeased Jonah exceedingly, and he was very angry. – Jon. 4:1 (KJV)

 

For many years, self achievement becomes the main indicator of success, at least for me. I struggle much to gain success. Spiritually, i keep to train myself in spiritual maturity. At the end, i am aware that true success is more than that.

The repentance of Nineveh was resulted from the ministry of Jonah. The repentance failed God’s anger to happen. Unfortunately it displeased Jonah. He was really angry. For him, the real success was to watch the overthrow of Nineveh. To see other falling down pleased him. Unlike him, the true success for God is to hear the repentance.

We are urged to muse over the real success. It’s not only about ours, but also theirs. Our success should involve other to join. Sometimes our success proudly stands on other’s failure. Conversely, our friends’ failure and destruction now become our failure. If we are willing to raise them up, participate in their failure, the love of God will shine upon them through us.

Prayer : God of love, teach us to take part in our friends’ failure, not to be pleased of their destruction. Help us to raise success to the people. Amen.

Intercessory prayer: unemployed and bankrupt person

Main theme: God urges us to participate in other’s failure, rather than to be pleased with that.

Interfaith Consultation on Religious Life and Public Space in Asia (Hong Kong, 3 – 7 September 2015)

Adalah hal yang mendesak untuk merenungkan ulang makna dan peran agama dalam ruang publik dewasa ini. Dalam kerangka itu, konsultasi antariman digagas oleh The Lutheran World Federation/Federasi Gereja Lutheran Dunia (LWF), yang menggumuli peran kehidupan agama dalam ruang publik, secara khusus dalam konteks Asia. Januari 2014 lalu, konsultasi serupa diadakan di Jerman yang menggumuli konteks Eropa dengan mengangkat refleksi teologis bersama antara Kristen dan Islam. Tahun ini, tanggal 3-7 September 2015, LWF menggumuli konteks Asia dari kacamata Kristen dan agama-agama lain di Asia, yang begitu beragam dan kompleks. LWF bekerja sama dengan Tao Fong Shan Christian Centre dan Areopagos. Konsultasi ini diadakan di Tao Fong Shan Christian Centre Hong Kong.

Peserta konsultasi ini sebanyak 45 orang, yang mayoritas merupakan teolog terkemuka dari 12 negara, mulai dari Tiongkok (termasuk Hong Kong), India, Indonesia, Jepang, Filipina, Jerman, Amerika Serikat, Swedia, Norwegia, Jerman, Myanmar, dan Malaysia. Selain berasal dari latar belakang pendidik di universitas/seminari terkemuka, terdapat juga peserta dari Dewan Gereja Dunia (DGD/WCC), gereja Ortodoks Syria Malankara India, National Council of Churches in India (dewan gereja India), dan peserta pemuda. Peserta dari Indonesia ada 7 orang, yaitu Dr. Joas Adiprasetya dari STT Jakarta, Dr. Leonard Chrysostomos Epafras dari ICRC Yogyakarta, Prof. Bambang Ruseno Utomo yang kini mengajar di Lutheran Theological Seminary Hong Kong, dan empat peserta pemuda yaitu Fernando Sihotang dari Komite Nasional LWF, Hesron Sihombing dari GKPI, Parulihan Sipayung dari GKPS, dan Icce Lolaria Sinaga dari HKBP. Semua peserta pemuda berasal dari Indonesia setelah melalui seleksi tulisan (paper). Jadi, latar belakang peserta menunjukkan keragaman perspektif berdasarkan konteks negara, isu ruang publik yang mengemuka, dan usia.

Agama dan Ruang Publik di Asia

Hari pertama, para peserta disambut dengan makan malam oleh The Chinese  University of Hong Kong. Selama 4 hari berikutnya, para peserta disuguhkan dengan beragam kenyataan dan ide tentang agama dan ruang publik. Pembukaan konsultasi diadakan pada tanggal 4 September 2015 di Lutheran Theological Seminary (LTS) Hong Kong. Kata pembuka disampaikan oleh Dr. Tong Wing Sze dari Tao Fong Shan Christian Centre, Dr. Raag Rolfsen dari Areopagos, dan Dr. Simone Sinn dari LWF. Setelah itu, dilanjutkan dengan presentasi pembicara utama yaitu Prof. Anselm K. Min dan Prof. Notto Reidar Thelle.

Prof. Anselm K. Min menyoroti tentang peran agama dalam ruang publik yang dialektik dalam masyarakat pluralis. Dia menyatakan bahwa semua agama di Asia harus menerima kenyataan bahwa politik adalah bentuk yang paling efektif untuk mempraktikkan kasih dan kemanusiaan. Tugas agama karenanya adalah untuk merenungkan secara mendalam ajarannya tentang bagaimana kita harus memperlakukan orang lain dan juga menerjemahkan pesan agama itu dalam istilah-istilah yang bertanggung jawab dan mampu mempengaruhi publik sehingga berpengaruh pada kebijakan publik, sambil menjadi alat kritik bagi negara. Agama juga harus berhenti untuk menggunakan negara demi kepentingan ajarannya dan menekan pihak agama lain, sebaliknya perlu mengembangkan semangat dialog antarumat beragama. Selain itu, agama harus mengarahkan ajarannya pada asas-asas kesamaan berdasarkan gender, etnik, agama, dan budaya untuk menginklusi manusia dalam semua perbedaannya.

Prof. Notto Reidar Thelle menyoroti teologi Lutheran yang berada di ambang ekslusivisme dan keterbukaan. Dia merenungkan ulang makna perbedaan klasik konsep Lutheran tentang “penciptaan” dan “keselamatan”. Konsep “penciptaan” (dunia) Lutheran memang telah memberi keterbukaan bagi orang Kristen untuk berkontribusi dalam ruang publik. Tapi, konsep “keselamatan” yang dihubungkan dengan Yesus Kristus telah memproduksi ungkapan eksklusif/sola (hanya Kristus, hanya Alkitab, hanya anugerah, hanya iman) yang seolah menyekat dan lalu memberi ketegangan pada konsep penciptaan. Karenanya, Prof. Thelle mencoba mendekati persoalan ini dengan konsep Trinitarian. Eksklusivitas konsep sola- itu dimaknai dalam terang pekerjaan Allah Tritunggal.

Setelah sesi keynote speech itu, para peserta kembali ke Tao Fong Shan Christian Centre. Konsultasi dilanjutkan. Secara keseluruhan terdapat 7 panel dengan 3 panelis yang dipimpin 1 orang, kecuali untuk panel 4 yaitu panel pemuda dengan 4 panelis. 7 panel ini dibagi lagi menjadi 2 panel teologi,  3 panel berdasarkan konteks, 1 panel pemuda, dan 1 panel interaksi.

Panel teologi bergumul tentang persoalan teologi yang berkaitan dengan ruang publik. Panel ini menyoroti berbagai pergumulan teologi Kristen dalam memandang ruang publik. Berbagai isu teologi yang diangkat misalnya tentang pertimbangan ulang doktrin keselamatan, konsep Trinitas dan isu ruang publik, Roh Kudus dan spiritualitas dialog yang transformatif, konsep solidaritas di antara komunitas agama, teologi politik dan konsep misi dalam ruang publik. Kesemuanya itu kira-kira hendak mengatakan bahwa teologi Kristen perlu menghargai kekayaan keragaman agama, konsep agama dan negara, serta budaya dalam konteks Asia. Teologi Kristen perlu didaratkan dalam konteks masa kini untuk bisa menjalin kerja sama dan solidaritas dengan umat lain untuk sama-sama berjuang dalam ruang publik demi masyarakat yang adil dan sejahtera. Kita dapat berjalan bersama dengan agama dan budaya lain, tetapi titik berangkat kita tetaplah harus teologi Kristen, teologi kita.

Panel berdasarkan konteks menyoroti konteks Hong Kong, Tiongkok, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Teolog Hong Kong (dan masyarakat Hong Kong) menampilkan 3 isu, yaitu gerakan payung (Umbrella Movement) demi perjuangan menuntut demokrasi dari pemerintah Tiongkok, masyarakat Muslim di Hong Kong dan tempat-tempat ibadahnya, serta penggunaan tenaga nuklir sebagai refleksi atas peristiwa bencana nuklir Fukushima.

Panelis dari Tiongkok menampilkan Kristen Sanshu sebagai sekte Kristen di Tiongkok, gereja migran orang Tiongkok di Perancis sebagai ruang moral, serta suatu survei tentang kehidupan agama di antara para mahasiswa di Tiongkok. Konteks Tiongkok sendiri dipenuhi dengan penindasan terhadap kehidupan agama. Kepentingan negara yang dominan menjadikan kekristenan diasumsikan sebagai produk dan bisa jadi mata-mata barat. Karenanya, seluruh agenda agama harus disesuaikan dengan tuntutan pemerintah. Pertemuan dalam jumlah besar tidak diperkenankan.

Panelis dari Asia Selatan menghadirkan konteks agama dan politik di India yang ditandai kebangkitan fundamentalis Hindu yang bertujuan merekonversi para petobat Kristen, juga kekerasan pada anak dan perempuan. Karenanya, perspektif teologis yang ditawarkan para panelis merupakan upaya teologi pembebasan dan misiologis dari perspektif marjinal, feminis, dan warga kelas dua.

Panelis dari Asia Tenggara berasal dari 3 negara berbeda: Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Panelis dari Malaysia menghadirkan peluang toleransi yang dapat dihasilkan bagi perkembangan hubungan antaragama di Malaysia. Perjuangan bersama ini terhasil sebagai dampak dari perjuangan bersama melawan keputusan pemerintah tentang larangan penggunaan nama “Allah” oleh Kristen dan Alkitab Malaysia. Panelis dari Filipina menyoroti isu LGBTQ dengan queer reading atas kisah Daud dan Jonatan, lalu kisah Lilith dalam mitos Yahudi (Midrash) yang lari dari Eden. Panelis dari Indonesia akan dihadirkan berikut.

Selanjutnya, panel interaksi mengasumsikan pentingnya interaksi antar agama-agama sebagai usaha saling menyuburkan. Panelis pertama memaparkan kehadiran organisasi transnasional yoga yang berfokus untuk pengumpulan dana bagi charity. Panelis kedua menceritakan adanya petualang yang berjalan kaki demi perdamaian dalam tengah konteks perdagangan senjata di Swedia, yang merupakan kerjasama antara Kristen dan Buddha. Panelis ketiga dari Myanmar memaparkan tentang potensi konflik karena kehadiran agama-agama lain di tengah dominasi agama Buddha di negaranya. Bagaimanapun, dia melihat kepelbagaian itu sebagai kesempatan untuk membangun hubungan yang sehat antarumat beragama.

 

Agama dan Ruang Publik dalam Konteks Indonesia

            Dari 6 panelis Indonesia, 5 di antaranya berbicara tentang agama dan ruang publik di Indonesia, hanya seorang berbicara dalam tataran teologi. Panel pemuda dilakukan bersamaan dengan menghadirkan 4 pemuda dari Indonesia. Fernando Sihotang berbicara tentang tantangan pluralitas di Indonesia dengan ide bangunan communion (persekutuan) demi perdamaian dan keadilan. Parulihan Sipayung berbicara tentang memaknai ulang agama, apakah di dalam agama kita yang menemukan Allah atau sebaliknya Allah yang menemukan kita. Penulis meninjau ulang doktrin Luther tentang dua kerajaan, menemukan peran Kristen dan agama-agama lain di dalam kedua kerajaan itu, lalu memakainya bagi dialog pembebasan agama-agama. Terakhir, Icce Lolaria Sinaga menyoroti hubungan antara komunitas-komunitas agama, negara dan masyarakat.

Konteks Indonesia yang ditampilkan adalah kemajemukan yang begitu luas, mulai dari agama, aliran agama, suku, ras, bahasa, juga konteks kemiskinan dan ketidakadilan. Kehidupan agama di Indonesia dicirikan dengan dominasi ruang publik oleh agama dominan, terutama ditandai dengan kehadiran dan berkembangnya kelompok fundamentalis Islam yang menginfiltrasi kelompok Islam moderat (yang merupakan mayoritas di Indonesia) pasca reformasi. Pengaruh mereka tampak dengan usaha mengganti dasar negara Pancasila menjadi syariat Islam sebagai ideologi politik. Karena kandas di level nasional, maka usaha tersebut dikerjakan di level daerah dengan memanfaatkan peraturan tentang Otonomi Daerah.

Selain itu, pergumulan tentang perlindungan kaum minoritas juga diperkenalkan dalam konsultasi. Pembangunan dan penutupan rumah ibadat minoritas karena izin, juga penindasan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap sesat/bidah (seperti Ahmadiyah) oleh kelompok arus utama, semuanya menunjukkan ketidakhadiran pemerintah dalam perlindungan kehidupan beragama. Agama-agama tradisional, seperti Parmalim, dll turut mendapat perhatian.

Panelis dari Indonesia sepakat bahwa Pancasila, sebagai dasar hidup bernegara, merupakan dasar utama bagi toleransi di Indonesia. Sebagai negara Pancasila, hubungan agama dan negara bersifat dialektik, bukan bersifat pemisahan total seperti negara sekuler, bukan pula bersifat penyatuan seperti dalam negara agama. Agama dan negara berbeda, tapi saling mengakui dan menyuburkan. Sila pertama Pancasila menunjukkan pengakuan akan theisme, secara historis maupun filosofis. Meskipun demikian, eksistensi ateisme menjadi pergumulan baru dalam konsep negara Pancasila.

Apa yang juga cukup menarik dipresentasikan adalah ruang publik Indonesia yang mencakup penggunaan cybersphere. Dr. Leonard C. Epafras mengatakan bahwa ruang publik dalam cybersphere—misalnya dalam penggunaan internet dan media sosial oleh pemuda (millennials; 18-34 tahun) yang masif di Indonesia—ternyata juga dipenuhi dengan ekspresi agama yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan politik.

     

Kunjungan ke Tiga Tempat Ibadah Hong Kong

            Pada hari minggu, 6 September 2015, para peserta berkesempatan beribadah di gereja All Saints’ Cathedral yang beraliran Anglikan. Setelah ibadah dan makan siang, para peserta dibawa oleh panitia untuk mengunjungi tiga tempat ibadah di Hong Kong: Kelenteng Wong Tai Sin, Mesjid Kowloon, dan Khalsa Diwan (kuil Sikh) Hong Kong.

Kelenteng Wong Tai Sin merupakan pusat ibadah agama tradisional Tionghoa di Hong Kong, yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha. Kepada para dewa, para umat berdoa memohon pertolongan dan menilik nasibnya.

Mesjid Kowloon merupakan salah satu dari 5 mesjid yang terdapat di Hong Kong dan merupakan yang terbesar. Mesjid ini juga merupakan pusat pembinaan agama Islam. Menurut manajer mesjid ini, toleransi di Hong Kong sangat bagus dan tidak ada larangan dari pemerintah tentang pembangunan mesjid. Yang menjadi masalah adalah keterbatasan lahan di Hong Kong. Di mesjid ini juga disediakan program pembinaan khusus bagi para tenaga kerja Indonesia, karena ternyata tenaga kerja dari Indonesia merupakan tenaga kerja asing yang terbesar di Hong Kong.

Di Khalsa Diwan kami berkesempatan diberikan penjelasan tentang sejarah agama Sikh, menikmati makanan mereka di langar, dan menyaksikan ibadah mereka. Menurut mereka, tugas agama bukan hanya untuk memberitakan ajaran, tetapi juga untuk memberi makan. Itu sebabnya, mereka mewajibkan adanya langar (tempat makan) yang menyediakan makanan bagi siapapun yang datang, apapun agamanya. Selain itu, setiap orang di langar dan kuil duduk di lantai, yang menunjukkan kesamaan derajat manusia, sebagai bentuk melawan praktik kasta terutama di awal munculnya agama Sikh di India.

 

Penutup

Konsultasi agama dan ruang publik ini sungguh menajamkan perspektif para peserta untuk merenungkan makna ulang agama di tengah-tengah dunia. Agama tidak hanya entitas doktrinal dan konfesional, melainkan juga entitas misiologis, yang bertanggung jawab untuk memberi kontribusi dalam ruang publik. Kenyataan-kenyataan, refleksi dan ide teologis yang diberikan oleh para panelis memberi cukup ruang untuk memaknai kehadiran agama dalam beragam perspektif dan konteks. Di dalamnya orang Kristen tidak hanya belajar dari orang Kristen lain di belahan Asia dan dunia lain, melainkan juga dari agama dan tradisi lain untuk menciptakan peran maksimal dalam ruang publik.

Selain menemukan bahwa agama itu punya peran signifikan, agama juga ternyata punya potensi menimbulkan masalah dalam ruang publik, atau paling tidak dijadikan masalah, berkaitan dengan hubungan antarumat beragama, masyarakat dan negara. Konsultasi ini pada gilirannya menjadi jembatan yang baik untuk saling memperkaya, terlebih lagi karena melibatkan tidak hanya suara dari kaum laki-laki, tetapi juga perempuan dan pemuda. Begitulah kira-kira isi panel kesimpulan yang dirembukkan semua panelis. Karenanya, adalah suatu anugerah bagi penulis dan tiga pemuda lain menjadi peserta konsultasi ini. Soli Deo gloria!

 

 

 

Memandang Salib

Memandang salib membuat kita teringat akan sosok Yesus yang tersalib. Dia memilih jalan sendiri: dikhianati, ditinggalkan sendirian, dinista, disiksa, dan disalib. Kematian tragis itu merupakan konsekuensi dari perjuangan pemberitaan Kerajaan Allah. Sementara dunianya hidup dengan kemapaman agama, tradisi yang mengkooptasi, dan gerakan revolusioner anarkis, dia menawarkan pilihan sepi. Tak sulit dimengerti, pilihan ini adalah kebodohon menurut para aktor pembunuh itu.

Ketika memandang salib, kita digugah mengenang ribuan orang yang telah disalibkan oleh Aleksander Agung dan para penggantinya. Romawi kuno memang mengadopsi bentuk hukuman ini dari orang Persia, terutama diperuntukkan bagi para pembunuh atau para budak yang memberontak. Karenanya, dikenallah hukuman ini sebagai “hukuman para budak” (servile supplicium (Lat.)). Tujuan utamanya ialah mencegah pemberontakan (Craig A. Evans, 2010). Pantaslah suara Kerajaan Allah dipandang berpotensi pemberontakan oleh mereka yang terusik.

Memandang Salib dan Menyelisik Hukum

Pengadilan Yesus adalah hukum yang diatur. Bahkan sebelum pengadilannya, hukuman telah diputuskan. Setelah ditangkap, berbagai tuduhan dibuat, termasuk ancamannya terhadap Bait Allah. Pengakuannya bahwa dialah Mesias, anak Allah, membuatnya tertuduh sebagai penghujat dan dianggap patut dihukum mati.

Terlibatlah turut beberapa lapisan ini dalam keputusan atas salib itu. Para pemimpin agama ingin membela Ilahi dengan kekuasaan agama. Tradisi agama nan ketat itu selama ini telah terlalu terganggu akan pemberitaan Yesus. “Demi Tuhan” jugalah slogan mereka. Khotbah Yesus tentang Kerajaan Allah mengancam status quo. Tindakannya memporakporandakan perdagangan di Bait Allah mengacaukan ekonomi dan lalu lintas hewan kurban yang menantang para imam yang diuntungkan dari sistem ekonomi monopoli itu. Para monopolislah yang kiranya juga perlu memandang salib di zaman ini.

Herodes Antipas tidaklah juruselamat baginya, melainkan jurusiksa lagi. Keinginan hatinya menyaksikan mujizat tak terkabul, malah menambah geram hati untuk melancarkan siksa dan mengalihkan bola. Sementara itu, kini kita melihat gambaran itu: para birokrat yang menyebabkan sengsara, bukan solusi. Yang ditemui rakyat, tapi mengelak dan menciptakan sengsara lagi.

Pontius Pilatus, gubernur Romawi itu menerima bola tendangan itu. Dia memusatkan perhatian pada tuduhan bahwa Yesus telah menyatakan diri sebagai raja orang Yahudi. Dia, yang secara historis dikenal tegas, kehilangan taring berhadapan dengan dalil pax Romana. Sekelompok kecil, bukan seluruh umat, yang berteriak “salibkan dia!” itu dapat mengancam keamanan. Karena mereka lebih memilih Barabas, si pembunuh, untuk dibebaskan, Pilatus mencuci tangan dan menjatuhkan hukuman mati itu.

Ketika memandang salib kita mengingat para korban ketidakadilan. Pada mereka yang berharap pada hukum tapi ditelantarkan dan disengsarakan demi hasrat birokrat dan pemangku kepentingan.

Memandang salib kita mengingat suara teriakan dan anarkisme di zaman kita, yang tampaknya lebih bertaring daripada hukum. Dimanipulasilah hukum karena uang, kepentingan dan kuasa. Dipinggirkanlah keadilan oleh para birokrat cuci tangan dan takut pada suara teriakan dan anarkisme itu. Bungkamlah hati nurani dan kebenaran karena tradisi yang mapan dan status quo.

Sekali Lagi Memandang Salib
Salib Yesus menjernihkan pesan bahwa kuasa pedang yang ditawarkan para Zelotis dan Makabean tidak punya relevansi dalam kebenaran Ilahi. Anarkisme a la pembebasan Marxis bukan lagi pengharapan, melainkan re-kreasi pembungkaman lagi.

Yesus memilih jalan sepi itu: berpotensi menjadi raja, tapi menolak dimahkotai emas. Baginya, jabatan bukanlah elitis, melainkan karya. Menariknya, karya—karena lebih utama daripada jabatan—dapat berjalan tanpa jabatan. Dicecarlah para elitis kita dengan ini. Yesus mengosongkan diri dan berkeliling bukanlah demi jabatan elitis, bukan pula demi kekuasaan politis, melainkan demi kebenaran Ilahi. Untuk inilah dia telah memilih sendiri jalan itu.

Memandang salib Yesus kita tersadar bahwa mahkota sebenarnya adalah mahkota duri: karya yang dibalut derita, pembebasan yang tercipta dalam perjuangan. Kita yang memandang salib itu pun mempunyai salib sendiri untuk dipikul.

Kebenaran yang Memerdekakan/Kemerdekaan RI (Yohanes 8:30-36)

Pendahuluan  

Tanggal 17 Agustus tahun ini merupakan hari peringatan kemerdekaan RI (HUT RI). Selama 68 tahun kemerdekaan Indonesia, apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka? Banyak kalangan, mungkin kita juga mempertanyakan hal serupa, terutama karena kita melihat segala keterpurukan bangsa kita ini.

Yesus sendiri hidup dalam konteks penjajahan Romawi yang telah sekian lama menggerogoti bangsaNya. BangsaNya telah sekian lama mengharapkan datangnya seorang pembebas politik, yang mereka kenal sebagai “Mesias”. Label ini pernah diberikan pada kaum Makabe yang berjuang secara revolusioner, namun gagal. Yesus menyadari keadaan penjajahan ini dan dampak yang ditimbulkannya. Karenanya, Dia juga berbicara tentang kemerdekaan, yang berbeda dari yang dipikirkan orang Yahudi pada zamanNya.  

Penjelasan Teks  

Teks ini merupakan kelanjutan dari percakapan Yesus dengan orang banyak di Bait Allah. Di pagi itu, Dia mengajar rakyat Yahudi, yang di antara mereka terdapat orang Farisi dan ahli Taurat yang licik dan berusaha menjatuhkanNya.  Sebelumnya terdapat ketegangan antara Yesus dan ahli Taurat berkenaan dengan perempuan yang berzinah. Setelah berhasil menolong sang perempuan, Yesus melanjutkan pengajaranNya tentang siapa diriNya, bahwa Dia adalah terang dunia. Dia tidak berasal dari dunia, tetapi dari atas, dari Bapa. Bapalah yang mengutusNya ke dunia untuk menyampaikan maksud Bapa.

Ayat 30  Perkataan/pengajaran Yesus di Bait Allah ini merupakan percakapan yang panjang. Dan tampaklah terjadi proses perubahan paradigma dari masyarakat banyak ini. Ketika Yesus berbicara dan menyaksikan siapa diriNya, banyak di antara mereka percaya kepadaNya. Itu berarti tidak semua orang yang mendengar perkataanNya percaya kepadaNya. Di antara mereka yang mendengar itu terdapat juga orang-orang pintar dan faham Kitab Taurat yaitu para ahli Taurat dan orang Farisi (8:2). Mereka mendengar pengajaran Yesus, tetapi tidak menerimaNya. Mereka bertanya pada Yesus (8:6-7), tetapi bukan dengan hati yang mau menerima kebenaran. Mereka hanya ingin mencobai Yesus. Sehingga, betapa teguhnya pun firman Tuhan berbicara kepada mereka, mereka tetap tidak mau percaya.  Tapi, sebagian di antara orang banyak itu mengambil posisi berbeda dari kaum intelektual itu. Mereka mendengar apa yang Yesus ajarkan dengan segenap hati. Mereka tidak mengandalkan logika mereka. Mungkin sebelum Yesus mengajar mereka, mereka sudah pernah mendengar tentang Yesus dan karyaNya. Tapi, begitu jelaslah bahwa cara Yesus memperlakukan perempuan berzinah itu dengan tidak menghukum, malah melepaskannya, menjadi kesan berharga bagi mereka. Perkataan Yesus bahwa diriNya tidak berasal dari dunia memang tak masuk akal secara intelektual. Tetapi, mendengar perkataan Yesus dan melihat karyaNya membuat mereka terbuka di dalam hati dan percaya kepada Yesus.  

Ayat 31-32  Mengetahui respon mereka, Yesus pun semakin menegaskan konsistensi dari makna kepercayaan orang-orang Yahudi itu. Yesus memberikan sebuah pertautan yang berkonsekuensi jika mereka tetap mengikuti Dia. Yesus menegaskan mereka perlu tetap dalam firmanNya. Tetap (meno) dalam firmanNya berarti tinggal dan melanjutkan firmanNya. Hal ini bermakna konsistensi dari kepercayaan mereka berarti konsistensi untuk tetap percaya pada apa yang Yesus katakan. Mereka tidak boleh beralih dari firman Tuhan dan kepercayaan mereka kepada Yesus.  Jika mereka tetap tinggal dalam Yesus, maka ada tiga konsekuensi bagi mereka. Pertama, yaitu bahwa mereka memiliki status baru yaitu sebagai murid Yesus dan status itu adalah status yang benar-benar, sepenuhnya, sungguh-sungguh murid Yesus. Mereka sebelumnya mengikuti dan mendengar Yesus, tapi mereka belum benar-benar murid Yesus. Kini setelah percaya, mereka sudah benar-benar murid Yesus dan Yesus adalah guru mereka. Kedua, mereka akan mengetahui kebenaran. Mengapa? Sebab Yesus adalah kebenaran (Yoh. 14:6). Ketiga, mereka akan dimerdekakan oleh kebenaran itu. Kemerdekaan yang sejati terdapat di dalam Yesus yang adalah kebenaran itu.

Ayat 33-34  Orang-orang Yahudi yang percaya ini menyangka bahwa mereka sebelumnya tidak sedang dalam perhambaan karena mereka adalah keturunan Abraham. Mereka bingung saat Yesus berkata tentang tentang kemerdekaan. Mereka mengira bahwa yang Yesus maksudkan adalah perhambaan yang bersifat keturunan. Mereka mengenal makna keumatan mereka akibat pemilihan Allah atas Abraham, tetapi mereka masih memandangnya secara nasional/bangsa, bukan rohani.  Yesus memberikan pemahaman yang lebih jauh lagi daripada sekedar keterpilihan yang nasionalis. Maksud Yesus dengan perhambaan adalah keterikatan dan perbudakan secara rohani yaitu hamba dosa. Setiap yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Jadi, kemerdekaan yang Yesus maksudkan adalah kemerdekaan dari perhambaan akan dosa. Jika Yesus mengetahui bahwa kebenaran itu akan memerdekakan mereka, itu berarti bahwa mengetahui kebenaran di dalam firman Tuhan akan membebaskan mereka dari dosa. Sebelum tinggal di dalam firmanNya, mereka adalah orang-orang Yahudi yang belum mengalami pembebasan dari dosa. Itulah sebabnya sekalipun mereka adalah umat pilihan Allah dosa tetap berdiam dalam diri mereka. Kemunafikan, ketidakadilan, kebebalan dan kebobrokan moral akibat dosa menjadi kenyataan nyata dalam hidup mereka. Karenanya, Yesus sedang menawarkan kepada mereka sesuatu yang baru. Kemerdekaan sejati tidak didasarkan atas maksud nasional/bangsa, tetapi kelepasan dari segala dosa dan pengaruhnya yang menghancurkan.

Ayat 35-36  Yesus semakin memperjelas pengertian tentang kemerdekaan ini. Sebagai orang-orang yang terbebas dari dosa, maka status dari orang-orang Yahudi yang percaya ini tidak lagi sebagai hamba, tetapi sebagai anak. Sebagai anak mereka tinggal di rumah, tidak lagi di luar seperti hamba. Maksudnya, mereka punya hak waris tinggal di dalam rumah Bapa. Kemerdekaan sejati menempatkan mereka dalam status dan wilayah yang baru, yaitu wilayah dimana Allah sepenuhnya meraja. Kemerdekaan yang benar-benar merdeka adalah diakibatkan oleh Anak itu, yaitu Yesus. Yesuslah yang sanggup untuk memberikan kemerdekaan sejati. Dan kemerdekaan yang sejati itu adalah kebebasan dari perbudakan dosa.         

Perenungan

1. Pemberitaan firman Tuhan tidak selalu direspons positip. Bisa saja ada penolakan dari orang lain, dalam konteks firman ini yaitu dari mereka yang tidak datang dengan kerinduan mendengar kebenaran firman dan dikuasai oleh logikanya. Tetapi firman Allah tidak akan kembali dengan sia-sia, karenanya akan diterima juga oleh orang lain, yaitu mereka yang dengan tekun dan rendah hati menerima maksud firman itu dalam hidup mereka.

2. Pada HUT RI ke-68, kita diingatkan sebagai bangsa Indonesia, bahwa kemerdekaan secara status telah kita terima. Tetapi kemerdekaan sejati hanya terdapat di dalam kemerdekaan atas dosa. Dosalah penyebab kemelaratan bangsa yang terwujud dalam kerakusan, korupsi, ketidakseriusan, moralitas yang buruk, kemalasan, pola ekonomi yang menindas, ketidakadilan, dlsb. Dosa-dosa inilah yang perlu kita bebaskan demi kemerdekaan sejati sebagai bangsa.

Keadilan Allah ( Amos 8:4-7)

Pendahuluan  

Tekoa, yang terletak kira-kira 16 km sebelah selatan Yerusalem, merupakan asal dari nabi Amos. Letaknya yang tinggi membuat kota itu secara alami ‘kota pertahanan’ (2Taw. 11:6). Pedusunan di sekitarnya menghasilkan rerumputan bagi ternak peliharaan, dan Amos adalah peternak (1:1). Ia juga adalah ‘pemelihara pohon-pohon ara’ (7:14). Amos karenanya tidak diasuh dalam golongan nabi, juga tidak mengecap pendidikan menjadi nabi di sekolah atau perkumpulan (7:14), sebagaimana yang terdapat dalam zaman raja-raja dan biasa disebut sebagai nabi palsu.

Amos hidup pada zaman pemerintahan Uzia, raja Yehuda (779-740 sM), Yerobeam II, raja Samaria (783-743 sM).  Nabi ini merupakan nabi yang frontal mengkritik pemerintahan Samaria karena ketidakadilan yang terdapat di dalamnya. Terdapat golongan pedagang yang kuat di Samaria, namun kemakmuran itu tidak dinikmati oleh kalangan penduduk jelata. Kemakmuran itu dimonopoli oleh para raja-raja dagang  (3:10, 12, 15; 6:4).  

Penjelasan Teks  

Sekitar tahun 720 sM ke atas, Asyur telah menghancurkan Siria, tetangga Samaria di sebelah utara. Hal ini memungkinkan Yerobeam II memperluas tapal batasnya (2Raj. 14:25) dan membangun perdagangan yang menguntungkan, yang menciptakan golongan pedagang yang kuat di Samaria. Mereka menikmati kekayaan ini namun tidak bagi masyarakat awam, yang pada umumnya adalah petani. Penindasan atas kaum miskin oleh orang kaya adalah biasa (2:6-7), juga sikap acuh tak acuh di kalangan orang kaya terhadap kesengsaraan orang yang lapar (6:3-6). Keadilan terletak pada orang yang menawar paling tinggi (2:6; 8:6). Dalam musim kering (4:7-9) orang miskin hanya dapat meminta pertolongan kepada lintah darat (5:11-12; 8:4-6), yang kepadanya ia sering terpaksa menggadaikan tanahnya dan dirinya sebagai budak.  Dalam situasi ekonomi dan ketidakadilan sedemikianlah Amos bernubuat, mengkritisi pemerintahan yang tidak menciptakan keadilan tersebut.

Ayat 4  Seruan firman Tuhan ini diberikan kepada mereka yang menginjak-injak orang miskin dan yang membinasakan orang sengsara di negeri Samaria. Kata “menginjak-injak” dapat diartikan secara implisit sebagai penindasan dan ketidakpedulian. Siapakah yang menginjak-injak dan menyengsarakan? Yaitu mereka yang tidak peduli kepada orang miskin dan sengsara. Mereka adalah para pedagang yang memonopoli keuntungan itu, para lintah darah yang mencekik, para praktisi ekonomi yang bertindak curang, termasuk pemerintah yang mendapatkan keuntungan dari praktik ketidakadilan dan tidak mau serta mampu menciptakan sistem yang adil.  Mereka ini menikmati kekayaan dan kemakmuran dari proses perdagangan yang terjadi, namun mereka ini hanyalah segelintir orang. Mereka mengambil untung dari proses ekonomi dan mengorbankan orang lain demi keuntungan itu.  

Ayat 5  Para pedagang ini punya pemikiran tentang bulan yang baru dan Sabat yang berlalu. Mereka mengetahui bahwa pada saat Sabat, mereka tidak akan dapat berdagang. Mereka hanya akan beribadah pada hari itu sesuai dengan tradisi hukum Taurat. Melakukan apapun yang bersifat pekerjaan mereka tidak berani. Mereka tetap menjaga diri untuk tidak melakukan pekerjaan pada hari itu. Karena itu, mereka menanti-nantikan Sabat berlalu. Dalam hal ini, terdapat 3 keberatan utama dari Amos:
1. Mereka begitu menanti-nantikan hari Sabat berlalu dan bulan yang baru. Mereka terus memikirkan tentang perdagangan dan keuntungan mereka sehingga tidak sedang fokus dalam ibadahnya. Mereka fokus pada hal-hal dunia dan berharap Sabat dan bulan lama berlalu sehingga walaupun mereka mengadakan ritual Sabat, pikiran dan jiwa mereka tidak sedang menyembah Tuhan. Mereka berada dalam penantian akan keuntungan dan berharap segala halangan, termasuk Sabat segera cepat berlalu, demi keuntungan dan harta duniawi.
2. Mereka merupakan orang yang dualistik/dikotomi. Mereka memisahkan secara tegas antara ibadah dalam pengertian ritual dan ibadah dalam pengertian hidup yang menyembah. Mereka tetap beribadah secara ritus, tetapi dalam kesehariannya mereka tidak beribadah. Saat hari Sabat, mereka melakukan ritus dengan benar. Mereka mempersembahkan korban, memberi persepuluhan dan berdoa, tetapi hal itu sama sekali tidak mempunyai dampak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal ini, agama sedang diputarbalikkan. Upacara-upacara agama tetap dipelihara (4:4-5), tetapi hal itu diadakan bergandengan dengan sifat kefasikan yang tak mengenal Allah dan menyalahi kesusilaan. Mereka menyukai acara-acara agama, tetapi tidak mencintai keadilan dan kebenaran.
3. Mereka ini melakukan perdagangan dengan cara yang tidak benar. Mereka berdagang terigu, tetapi dengan mengecilkan efa dan membesarkan syikal. Efa merupakan ukuran volume/isi sebesar kira-kira 36 liter. Dengan mengecilkan efa, maka ukuran/takaran sebenarnya menjadi berkurang dan untung  didapat dari pengurangan efa itu. Syikal merupakan ukuran massa sebesar 11,4 gram. Ini merupakan timbangan di Israel. Dengan memberatkan syikal maka ukuran sebenarnya massa barang menjadi berkurang, meskipun terlihat benar. Cara berdagang sedemikian merupakan cara yang salah dan termasuk ke dalam penipuan. Mereka memakai neraca palsu yang ukurannya tidak benar.  

Ayat 6  Harapan akan berlalunya sabat dan bulan berarti harapan akan keuntungan yang baru dalam perdagangan. Tujuan mereka secara ekspilisit disebutkan oleh Amos sebagai usaha untuk membeli orang lemah karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut, dan menjual terigu rosokan. Ketiga hal ini menunjukkan bahwa orang miskin menjadi korban dari ketidakadilan. Pada akhirnya orang miskin akan semakin miskin dan menjadi budak dari orang kaya. Bahkan itu berarti bahwa harga seorang lemah dan miskin tidak lebih berharga daripada sepasang kasut di mata para orang kaya. Demi uang, mereka rela menjual terigu yang sebenarnya tidak layak jual.

Ayat 7  Teks ini menjadi dasar untuk meyakini keadilan Allah melampaui segala ketidakadilan tersebut. Allah akan bertindak. Melalui teks ini, Amos mengatakan bahwa Allah telah bersumpah, maksudnya telah mengikat perjanjian bagi dan demi diriNya sendiri. Dia akan benar-benar bertindak demi bangsa yang menderita itu. Allah tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan ketidakadilan itu. Di dalam murkaNya itu, Dia tidak akan melupakan segala perbuatan mereka. Artinya, Dia tidak akan mengampuni segala ketidakadilan itu. Dia akan bertindak dan melawan ketidakadilan itu.  

Perenungan/Refleksi

1. Konteks keadilan tentu saja tidak dimaksud hanya berkaitan dalam hal berdagang saja, tetapi mencakup semua aspek hidup dan profesi. Kita dituntut untuk pertama-tama melakukan keadilan dan membelanya. Kita harus hidup di dalam kepedulian terhadap sesama, secara khusus kepada orang miskin dan lemah.

2. Sifat dikotomi dualistik haruslah dihindarkan. Masih ada anggapan bahwa ibadah secara ritus terpisah dari ibadah sebagai kehidupan. Padahal, kedua-duanya haruslah terintegrasi. Ibadah yang benar haruslah nampak di dalam cara hidup dan cara menjalankan profesi masing-masing.

3. Hidup di dalam ketidakadilan adalah tidak mudah. Tapi mengingat bahwa Tuhan mengingat perbuatan ketidakadilan dan akan bertindak, menjadi kekuatan bagi kita.

Kasih dan Damai  (1 Petrus 3:8-12)

Pendahuluan  

Surat ini ditulis oleh Petrus, rasul Yesus Kristus kepada orang-orang Kristen di lima daerah yaitu Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (1:1), dengan perantaraan Silwanus (5:12) dan salam dari Markus yang adalah anak rohani penulis surat ini (5:13).     

Isi surat ini mencakup banyak hal, seperti tentang keselamatan yang dikaitkan dengan kehidupan etika, hubungan sesama Kristen, penatua, hidup kudus, dan terutama juga tentang hidup dalam penganiayaan. Peringatan yang diberikan Petrus melalui surat ini menekankan pesan supaya jemaat tetap hidup dengan identitas Kristen yang benar walaupun menghadapi penderitaan hidup. Penderitaan ini paling tepat dianggap berada pada masa kaisar Nero, yang membakar hidup-hidup orang Kristen di kota Roma (tahun 64 M). Dari Roma gerakan anti-Kristen bergemuruh dan bisa mengalami imbasnya sampai ke daerah-daerah lain. Karena itu, Petrus menuliskan surat ini untuk mengingatkan dampak penindasan yang bisa menyebar dari Roma ke lima daerah alamat surat ini, meskipun secara lokal mereka sudah mengalaminya.  

Penjelasan Teks

Di antara penjelasan tentang penderitaan hidup karena penganiayaan (lihat 2:18-25 dan pasal 3-4), Petrus menerangkan perihal hubungan orang Kristen, termasuk dalam konteks unit keluarga. Kita bisa melihat bagaimana Petrus menjelaskan tentang hubungan yang ideal antara suami dan isteri. Kini, dalam teks ini, Petrus masih berbicara tentang hubungan. Hubungan ini mencakup dua hal atau dua objek perlakuan, yaitu:
1. Hubungan/cara perlakuan kepada sesama orang Kristen (ay. 8)
Kata “dan akhirnya” (to de telos) tidaklah berarti bahwa surat ini berakhir atau ini merupakan perintah terakhir dari Petrus dalam surat ini. Kata ini bisa diartikan sebagai “dan kelanjutannya” atau “dan kesimpulannya”. Dalam pengertian ini, Petrus mengartikan bahwa pola hubungan yang benar dalam hubungan sesama Kristen, termasuk dalam hal suami istri, disimpulkan di dalam prinsip kasih. Prinsip kasih ini berlaku untuk semua jemaat, yang diartikan Petrus dalam beberapa keterangan, yaitu: a. Seia sekata (homofron) berarti satu pikiran dan harmonis. Seia sekata ini tercapai jika semua saling menyetujui dan mendukung, tetapi bukan sesuai dengan hasrat manusia, tetapi kehendak Allah. Sama-sama sepakat untuk memberlakukan kehendak Yesus untuk memuliakan Allah (bnd. Roma 15:5-6) .
b. Seperasaan (sumpathes) berarti simpati, merasakan apa yang orang lain rasakan. Ini berarti bahwa jemaat dituntut untuk terlibat secara aktif dan mendalam dalam apapun yang jemaat lain rasakan.
c. Mengasihi saudara-saudara (filadelfoi) berarti memiliki kasih persaudaraan, mengasihi seperti saudara. Kasih seperti ini berarti memperlakukan orang lain layaknya saudara sekandung yang memiliki hubungan darah. Di dalamnya terdapat unsur tanggung jawab, saling melindungi, saling melengkapi dan menjaga.
d. Penyayang (eusplagchnoi) berarti mesra, ramah, lemah lembut, berbelas kasih, dan berjiwa penghibur. Sifat ini menekankan kelembutan yang memberi kekuatan.
e. Rendah hati (tapeinofrones) berarti sederhana, sopan santun, berpikiran rendah hati, dan tidak menganggap diri tinggi. Kesemuanya ini diharapkan Petrus kiranya dimiliki oleh jemaat. Di tengah penderitaan mereka, cara hidup utama sesama jemaat adalah saling berlaku di dalam kelima hal tersebut di atas. Penderitaan sebagai tantangan yang datang dari luar tentu saja bisa melemahkan iman. Tetapi dengan adanya kondisi internal jemaat yang saling solider, maka jemaat akan mendapatkan kekuatan untuk bertahan secara rohani maupun eksistensi fisik dan ekonomi.  

2. Hubungan/cara perlakuan kepada orang yang non Kristen (ay. 9-12)
Rasul Petrus menyadari bahwa penganiayaan yang terjadi di masanya itu adalah hal yang harus dihadapi sebagai kenyataan. Karena itu, belajar dari Yesus dan ajaranNya, dia mengajar jemaat untuk berani menghadapi orang-orang yang membenci mereka karena nama Yesus, tetapi dengan cara yang benar. Ini prinsip damai. Cara-cara yang disampaikan oleh Petrus adalah:
a. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (ay. 9). Petrus mengajak jemaat untuk tidak membalas caci maki dengan caci maki, tetapi justru harus memberkati mereka (tepat seperti perkataan Yesus dalam Mat. 5:44). Jika memperlakukan mereka dengan cara mereka maka jemaat tidak ada bedanya. Sama-sama berbuat jahat, sama-sama mencaci. Kualitas hidup seperti ini memiliki konsekuensi positip yaitu hidup yang diberkati oleh Tuhan. Jemaat diingatkan untuk memberkati orang-orang yang membenci mereka dan akhirnya akan memperoleh berkat.
b. Petrus memberikan resep hidup bahagia di tengah-tengah segala situasi penindasan itu (ay. 10-11). Dari Mazmur 34:13-17, Petrus meneruskannya kepada jemaat. Dalam konteks Mazmur ini, Daud sedang menjadi pura-pura gila dalam pelariannya dari Saul. Jadi dia sendiri merasa teraniaya dan ditindas, namun mengangkat Mazmur ini sebagai pengakuan imannya kepada Tuhan dan kesaksiannya bagi orang lain atas keselamatan yang Tuhan sediakan. Dia sama sekali tidak menciptakan pembalasan terhadap Saul, walaupun mempunyai kesempatan untuk itu. Resep itu adalah menjaga lidah dari yang jahat dan tidak menipu. Lalu menjauhi kejahatan dan melakukan yang baik, mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Hidup di tengah masyarakat yang curiga dan menekan itu, jemaat harus tetap mengusahakan kebaikan, tidak berbuat kejahatan, membuktikan diri dalam kejujuran dan berusaha berdamai dengan mereka.  
c. Jemaat tidak boleh takut menghadapi semua situasi tersebut. Keyakinan dan keberanian ini didapatkan hanya karena mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar (ay. 12). Tuhan mempunyai perhatian khusus kepada mereka yang benar. Tuhan mendengar permohonan mereka yang minta tolong. Dia mempunyai kepedulian terhadap mereka yang tertindas. Berkaitan dengan para orang jahat itu, Tuhan menentang mereka. Maksudnya, Tuhan akan mengerjakan keadilan dan melawan sendiri mereka yang menindas itu. Sambil menolong yang lemah itu, Dia akan melawan orang-orang jahat itu.  

Perenungan/Refleksi
1. Di dalam konteks kita di Indonesia ini, kita memerlukan prinsip hidup dalam kasih untuk dapat bertahan dan mempertahankan keberadaan sesama kita, khususnya dalam lingkungan seiman. Tapi, jika kita mengamati, masih banyak yang belum seia-sekata dan menimbulkan perpecahan atas dasar perbedaan denominasi dan perbedaan pendapat. Kepentingan diri sendiri (egoisme), kesombongan dan saling memburuk-burukkan merupakan hal-hal yang dapat merusak persatuan kekristenan. Karena itu, pesan Petrus menyapa kita untuk saling mengasihi dan mengupayakan kesatuan itu.

2. Dalam konteks penderitaan hidup, baik karena faktor ekonomi dan diskriminasi tidak boleh menghilangkan prinsip hidup berdamai dengan orang lain. Membawa damai (Mat. 5:9) sebagai anak Allah adalah tantangan yang kompleks karena orang Kristen berhadapan dengan situasi yang sulit. Tapi harus tetap diusahakan. Membawa damai berarti tidak membalas dengan kejahatan, tetapi menciptakan kebaikan dan yakin sepenuhnya pada Tuhan, yang adalah Sang Pembela Keadilan itu, yang mataNya tertuju kepada orang benar.

Cinta Tanpa Akhir

“Since you came” kata Westlife.
Kau atau aku yang datang dahulu, aku tak tahu.
Tapi sejak saat itu, Aku pernah merasakan cinta lagi…
Aku pernah berjumpa dan bergaul dengan Hawa lain
Namun tak bisa menggantikan dirimu.  

Pernah aku mencoba menggantikanmu,
tapi riuh dan semarak cinta ini tak mampu berbohong.
Terlalu kuatnya desakan cinta ini,
hingga pintu dada ini tak mampu memenjarakannya.
Kau tau itu.  

Pernah aku mencoba melupakanmu,
Berkali-kali, seakan meniadakanmu,
Tapi sungai cinta itu menghanyutkanku,
sampai pada sosok bayangmu dalam anganku.
Paling tidak hari ini aku berhasil diseretnya lagi.  

Apakah ini kisah sedih atau justru tragis?
Keduanya tentu tak diinginkan.
Siapa yang ingin cintanya dikandaskan,
bukan karena cinta tak bersambut,
bukan karena cinta tak bertemu,
bukan pula karena sifat dan karakter tak melengkapi.
Siapa yang rela cintanya terhempas,
bukan karena iman tak merestui,
bukan karena hasrat tak saling merindu,
bukan pula karena jiwa tak berpadu.
Siapa yang sedia cintanya tenggelam,
bukan karena doa tak cukup dalam,
bukan karena pengorbanan tak bergelut,
bahkan bukan pula karena hatiku tak paham kedalaman hatimu.  

Tidakkah kita pernah bersajak
“sebagaimana hatimulah hatiku.”
Tidakkah kita juga berdalil
“cinta dalam hati sebentar panas, sebentar dingin,
walau kadang terhempas, terhempang, tertindis, seakan kandas,
tapi selalu aktif berinisiatif.”
Tidakkah kita bergumul akan waktu dan harap,
melintasi jalan berbatu dan jurang tercuram.
Tidakkah kita saling berbagi,
akan manis dan pahitnya ladang Tuhan
akan suka duka, susah senangnya melayani.
juga terang dan gelapnya hidup ini.  

Entahlah orang menyebut cinta kita ini apa.
Bagiku cinta ini tiada akhir.
Paling tidak ujarku kala ini.