Bahan Pengantar Bedah Buku Yesus Sang Radikal karya R. T. France

Buku ini adalah buku terjemahan dengan judul asli Jesus the Radical: A Portrait of the Man They Crucified. Sebagai buku yang biografis tentang Yesus, dosen bidang Perjanjian Baru ini mencoba menggali Yesus sebagai sosok yang berbeda dari yang kebanyakan orang pahami pada masa kini. Sebagian pandangan ini melihat Yesus sebagai sosok yang lemah lembut, sahabat anak-anak dan tidak mau marah. Sosok yang memang benar, tapi tidak lengkap. Sementara, sebagian lagi memandang Yesus sebagai tokoh revolusioner yang akan membebaskan orang-orang tertindas dari penderitaan mereka. Cara  pandang yang bervariasi ini memang tidak menjawab secara sempurna tentang siapakah Yesus ini. Karena itu, sang penulis tidak mencoba menjawab kesiapaan Yesus, hal ini diserahkannya kepada para pembaca. Dia sendiri menyadari bahwa upaya penulisan buku ini tidak terlepas dari pendekatan sepihak, yaitu dari segi keradikalan Yesus. Bahkan pembedah sendiri pun tidak dapat melepaskan diri dari subjektivitas penafsiran atas pemaparan pandangan France ini.

Laporan-laporan yang terdapat dalam Alkitab tentang Yesus diangkat penulis tidak terlepas dari bagaimana kesan orang-orang lain tentang diri-Nya. France tidak menyebutkan apa arti radikal itu, tapi kita akan mendapatkan kesan bahwa keradikalan Yesus yang dimaksudnya berarti bahwa Dia berbeda sama sekali dari apa yang orang pikirkan, dalam segala hal: ajaran maupun praksisnya. Wajar bila kita menemukan banyak penjelasan historis yang diberikan penulis untuk menunjukkan perbedaan antara diri Yesus dan konteksnya. Dan menurut France hal ini berfokus pada pendekatan Yesus yang radikal terhadap Perjanjian Lama (hlm. 94).

Dalam 12 bab isi bukunya, France menjabarkan keradikalan Yesus ini, yaitu:

  1. Nazaret, memaparkan keradikalan Yesus sebagai sosok yang tumbuh di kota kecil Nazaret yang kemudian menolak-Nya, namun menjadi sosok yang diperhitungkan, yang membangkitkan reaksi-reaksi yang sangat keras atas diri-Nya, baik penerimaan atau pun penolakan.
  2. Pengharapan, menyajikan konteks pengharapan Mesianis Yahudi terutama atas kondisi ketersiksaan dalam penjajahan Romawi dan Mesianis yang diharapkan adalah sosok liberator politis. Bab ini adalah sebuah pengantar historis yang baik untuk bab-bab berikutnya.
  3. Persiapan, menjelaskan masa-masa prapelayanan-Nya yang telah menunjukkan perbedaan itu. Kelahiran-Nya di palungan Betlehem dari seorang perawan, tahun-tahun tersembunyi-Nya untuk belajar, pembaptisan-Nya sebagai identifikasi dan solidaritas-Nya atas orang berdosa, ketegasan-Nya menolak godaan Iblis, dan awal misi-Nya.
  4. Para murid, yaitu uraian tentang ajakan Yesus yang tidak terbantahkan bahkan disambut luar biasa, pemilihan para murid dari segala golongan: revolusioner, pemungut cukai yang dianggap orang berdosa, non-Galilea, kaya, miskin, dll. Pola-pola pemuridan-Nya pun menuntut komitmen total dan cara-Nya mempersiapkan mereka luar biasa.
  5. Mujizat, menguraikan bagaimana mujizat-Nya, kadang Dia menolak untuk menyembuhkan, melarang untuk menyebarkan, tetapi sekaligus menunjukkan kuasa-Nya dan fokus-Nya bukan pada diri-Nya dan penyembuhan itu, tetapi pada pekerjaan Allah.
  6. Masyarakat, menjelaskan perhatian-Nya pada orang-orang terkucilkan, yang dianggap ‘orang berdosa’, orang nonYahudi, kecaman bagi orang kaya, dll.
  7. Pertikaian, memperlihatkan bahwa Dia memiliki pendekatan yang berbeda terhadap hukum Taurat, mengecam kelompok-kelompok Yahudi sebagai ‘hupocrites’. Dia dianggap mengganggu wibawa dan keseimbangan yang ada. Tidak segan untuk mengkritik dan selalu menguasai pembicaraan dengan kecemerlangan-Nya.
  8. Kerajaan Allah, adalah fokus pemberitaan dan pekerjaan-Nya. Dia menolak untuk dinobatkan sebagai Raja, meskipun berujung dengan penghakiman sebagai ‘Yesus Raja Orang Yahudi’. Kerajaan Allah diberitakan dan dijalankan lewat ajaran dan pekerjaan-Nya yang tidak selaras dengan pemikiran Mesianis Yahudi. Pekerjaan-Nya adalah kehadiran Kerajaan Allah, secara rohani bukan secara politis.
  9. Konfrontasi, menjelaskan kedatangan-Nya ke Yerusalem dan penangkapan-Nya. Masuk-Nya ke Yerusalem disambut dengan pujian dan mempertunjukkan sebuah drama ‘kemarahan’ di Bait Allah akibat ketidakbenaran, mengorek kebusukan para pemimpin Yahudi dan imam. Tapi di sisi lain, Dia menunjukkan kerendahan hati bagi para murid-Nya, tapi tidak segan membentak Petrus yang menegor visi-Nya. Dia tetap fokus pada misi akhir-Nya untuk mati sehingga membiarkan diri-Nya ditangkap secara sukarela.
  10. Penghukuman. Dalam pemeriksaan selama 5 kali, Yesus sama sekali tidak ditemukan kesalahan-Nya, kecuali fitnah-fitnah yang dilontarkan yang salah dimengerti oleh Pilatus sebagai buah sentiment para pemimpin Yahudi. Tapi Dia lebih banyak diam, jujur tapi tidak diterima. Penyaliban sebagai penghukuman terkejam masa itu pun diterima-Nya sebagai keputusan-Nya sendiri.
  11. Pembenaran, menjelaskan perihal kebangkitan-Nya yang memang tidak dapat dimengerti secara logis. Dia bangkit sebagai manusia, tapi kini sebagai manusia yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Kadang Dia tidak dikenal, tiba-tiba bisa hadir dalam ruangan tertutup, Dia bisa makan, tapi juga bisa hilang tiba-tiba. Dan semua Injil menceritakan ini tanpa terkecuali.
  12. Pilihan, menjabarkan bahwa demonstrasi kehidupan Yesus memperhadapkan manusia pada dua pilihan yaitu mencap-Nya sebagai penipu atau sebagai yang berkuasa. Memilih  untuk mengikut Dia atau membenci Dia. Sangat ketat, sehingga hal netral tanpa pilihan pun menjadi pilihan membenci Dia. Pengambilan keputusan tak dapat dihindari.

Dari pemaparan ini, kita diperhadapkan juga pada pilihan sama seperti pada orang-orang zaman Yesus, seperti para pemimpin Yahudi atau seperti para murid yang mengasihi Yesus. Keradikalan Yesus ini menunjukkan pentingnya hidup sebagai seorang yang radikal. Radikal bukan berarti pemberontak dan pembangkang, sebab keradikalan Yesus harus dilihat dalam kerangka pengejawantahan cinta-Nya pada Allah dan kerajaan-Nya. Dia begitu mencintai Allah, sehingga mencintai Taurat dengan sepenuh-Nya melalui pemaknaan yang sama sekali baru. Dia sama sekali tidak bukan pembangkang, tetapi adalah penurut yang setia pada Bapa-Nya dan pekerjaan-Nya yang radikal adalah upaya menghadirkan Kerajaan Allah, bukan konfrontasi yang tidak jelas dan kebablasan.


© disampaikan oleh Seksi Diklat IMT GKPI STT Abdi Sabda Medan tahun 2010/2011 tanggal 28 Oktober 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s