Bergereja atau Bernegara?

Dengan kata ’atau’ di antara kata ’bergereja’ dan ’bernegara’, judul di atas memperhadapkan kita sebagai orang Kristen pada sebuah pilihan: bergereja atau bernegara. Bukan karena kita akan dan harus memilih, tapi karena telah memilih: bergereja atau bernegara, seolah keduanya tak dapat diselaraskan. Apakah memang kita memang telah memilih salah satu dari antaranya?

Bergereja kerap diartikan sebagai melakukan kegiatan-kegiatan gerejawi dan bernilai spiritualitas, sedangkan bernegara adalah kegiatan-kegiatan yang mencerminkan nasionalisme dan bernilai sekuler. Apakah kita sepakat dengan defenisi kedua kata itu? Jika ya, maka tidak salah lagi kita telah menentukan pilihan di antara keduanya. Dengan menganggap bernegara bernilai sekuler, maka sama sekali tidak ada tempat baginya dalam kehidupan bergereja. Kehidupan bernegara tidak dianggap sebagai bagian hidup bergereja.

Dengan memilih yang satu sebagai yang rohani dan yang lain sebagai yang sekuler, maka terjadi diskontinuitas antara keduanya. Hidup bernegara memiliki arena yang berbeda dengan hidup bergereja: keduanya di kotak dan ranah yang berbeda, atau bahkan berseberangan.

Pengkotakan sedemikian mengimplikasikan semangat nasionalisme yang rendah dalam kehidupan gereja. Tidak mengherankan jika kesadaran nasionalisme tidak merupakan tantangan hidup bergereja. Kita bisa bertanya, ”Kapan terakhir kali kita mendengar suara nasionalisme disuarakan dalam gereja kita?” Coba kita ingat sejenak apakah tanggung jawab hidup bernegara pernah menjadi indikator kesuksesan sebuah gereja. Kita bisa menyaksikan bahwa indikator semacam itu tidak pernah ada di dalam gereja. Kita lebih sering sibuk dengan ibadah ritualistik yang vertikalistik dan berfokus pada kesalehan pribadi. Dengan pasti, riuh dan ramenya ibadah kita menjadi indikator yang lebih sering tampak dalam bergereja.

Di pihak lain, kehidupan bernegara pun belum dianggap sebagai pergumulan hidup beriman. Orang bisa hidup sepeduli mungkin terhadap negara ini, tapi yakinlah bahwa hanya sedikit orang yang menghayatinya sebagai tindakan iman.

Tidak salah lagi, dualisme sedemikian memang melemahkan peran gereja dalam kehidupan bernegara. Wajah yang memprihatinkan ini adalah gambaran suram dari garam dunia yang telah menjadi tawar serta terang dunia yang memudar: gereja menjadi mandul.

Bagaimanapun, sejarah memang menunjukkan bahwa dualisme sedemikian telah menjadi bagian gereja di Indonesia sejak dini. Roh pietisme yang dibawa para misionaris menjadi bom waktu kemandulan ini. Pietisme adalah paham yang menekankan kesalehan pribadi yang pada abad ke-18 berkembang pesat di Jerman. Penekanan yang sepihak terhadap kekudusan pribadi tanpa kesalehan sosial mengimplikasikan tidak terintegrasinya kehidupan bernegara dalam kehidupan bergereja. Warisan pietisme yang menjadi warna gereja Indonesia sejak awal membungkam peranan gereja dalam kepedulian terhadap situasi negara.

Menyadari hal ini, penyadaran terhadap pentingnya integrasi kehidupan negara dalam pergumulan gereja adalah langkah penuntasan kemandulan ini. Reinterpretasi doktrin Kristen yang merupakan warisan pietisme dengan penekanan yang seimbang antara kesalehan pribadi dan sosial mutlak diperlukkan.

Akhirnya, kedua kata dalam judul di atas tidak perlu dipilih, tetapi disinergiskan menjadi ”Bergereja dan Bernegara”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s