Bersukacita (Filipi 4:4)

Bagaimana perasaan kita jika pada saat ulang tahun seorang teman memberikan kita hadiah? Atau suatu hari kita meraih cita-cita yang sejak lama terkubur? Kemudian, bagaimana jika diberitakan bahwa tidak lama lagi kita akan bebas dari penjara setelah sekian lama di LP? Tentu saja senyum lebar bahkan tangis haru akan mewarnai wajah saat situasi tersebut diperhadapkan pada kita. Bagi kita, adalah sebuah kebahagiaan dan sukacita saat bagian-bagian dari kepentingan kita terpenuhi. Seorang ibu pasti akan sangat senang jika anaknya yang telah lama disekolahkan akhirnya lulus juga. Saat kondisi demikian, tentu tidaklah sulit untuk mengekspresikan sukacita.

Namun, bagaimana jika kondisinya berbalik 1800? Maksud saya jika kondisi hidup tidak menyenangkan. Bagaimana bisa bersukacita jika sedang berada di tahanan? Bagaimana seorang anak bersukacita jika ibu yang dicintai meninggal dunia? Bagaimana bersukacita jika tak punya pekerjaan, tidak mendapat kasih sayang cukup dari orangtua, tidak dipedulikan, kalau sedang dalam keadaan sakit, kronis lagi. Atau bagi masyarakat sekarang, bagaimana bisa bersukacita jika harga BBM naik yang kemudian diikuti dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Jika kondisi menyenangkan kita, sesuai dengan kondisi yang diinginkan dan memenuhi kepentingan kita, tidaklah sulit untuk bersukacita. Tapi, jika kondisinya tidak bersesuaian dengan harapan dan impian, bagaimana bisa bersukacita?

Memang hidup di dunia yang sangat kompleks ini sarat dengan penderitaan. Wajar saja jika Sidharta Gautama pernah mengatakan bahwa hidup ini adalah penderitaan. Penderitaan adalah suatu pengalaman universal bagi setiap manusia, dialami oleh setiap orang dalam segala zaman dan waktu, segala jenis kelamin, usia dan ras. Manusia purba dan modern sama-sama mengalaminya.

Bayangkan saja, bagi sebagian orang miskin, kebahagiaan akan datang jika dia kaya. Tapi bagi sebagian orang kaya, kekayaannya justru tak membuatnya bahagia dan dipuaskan. Bagi pekerja karir, sebagian berpikir bahwa sukacita akan datang jika dia berhasil mencapai puncak karir. Tapi bagi mereka yang telah di puncak karir, kondisi ini pun tak selalu membawa sukacita. Sebut kemudian para napi. Sukacita bagi sebagian mereka adalah saat bebas dari penjara. Tapi, bagi mereka yang telah bebas, hidup di luar penjara pun tak lebih menyenangkan daripada di penjara, sehingga mereka dengan sengaja atau tidak masuk penjara lagi.

Inilah hidup. Penuh dinamika dan kompleksitas yang di dalamnya manusia bisa frustasi dan berkata “hidup ini menyakitkan!!!”

Kondisi menyakitkan secara nyata dialami oleh tokoh yang telah dikenal luas, yaitu Paulus. Saat menulis surat kepada jemaat di Filipi dia sedang berada di penjara (Flp. 1:13). Dia didebat tentang Injil dan harus mempertahankannya (Flp. 1:7). Berada di penjara tentu bukan hal yang mudah. Secara hukum Romawi Paulus termasuk orang yang membahayakan kekaisaran melalui filosofi sebab mewartakan Yesus sebagai Tuhan. Bagi masyarakat Mediterania, konotasi buruk dan hinaan diberikan kepada narapidana karena dipenjarakan berarti suatu penyimpangan sosial. Para napi sering dipukuli dan digunduli. Mereka telah dianggap kehilangan kehormatan dan pantas mendapat malu. Di tengah kondisi demikianlah rasul Paulus menuliskan surat ini.

Anehnya, walau dengan kondisi tersebut Paulus justru menasihati jemaat untuk bersukacita (Flp. 4:4). Dalam kondisi menangis (Flp. 3:18) pun dia masih bisa bersukacita (Flp. 1:4; 1:18; 4:1).

Dia mengajak jemaat untuk bersukacita. Dia menyatakan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Bayangkan, seorang yang menderita mengajak orang untuk bersukacita. Seorang yang seharusnya dihibur justru melakukan penghiburan. Seorang yang menangis mendorong orang untuk bersukacita.

Ajakannya kepada jemaat supaya bersukacita rupanya punya dasar. Jemaat yang berada di bawah keraguan dan ketakutan (1:28) harus dikuatkan. Mereka berada di tengah angkatan yang bengkok hati dan sesat (2:15). Jemaat pun butuh penguatan. Sama seperti dirinya yang bersukacita, dia pun mengajak jemaat untuk bersukacita. Sama-sama menderita, tapi sama-sama bersukacita.

Bagi Paulus, sukacita bukan terletak pada ada tidaknya air mata, tempat atau situasi. Sukacita bukan terletak pada apakah dia dipenjara atau bebas, bukan pula pada apakah dia mengalami penderitaan atau sedang baik-baik saja.

Sukacita (chara = Yunani) bagi Paulus disebutkan dengan ucapan selamat: selamat bersukacita (farewell = Inggris). Bahkan dengan nasihat yang pasti, dia mengulanginya “Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!” Sukacita ini bukanlah sebatas sukacita, bukan sembarang sukacita. Sukacita ini adalah sukacita yang melampaui ruang dan waktu serta situasi. Sukacita ini mampu eksis dalam situasi menyakitkan, perih, menderita. Sukacita ini bermakna di tengah kesedihan dan situasi mengerikan. Sukacita ini tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal/luar sedemikian. Faktor luar yang mungkin bisa mempengaruhinya adalah sukacita atas jemaat (4:1), karena jemaat bertumbuh dan Injil mengalami kemajuan (1:18), atau karena Kristus diberitakan (1:18). Permusuhan melawan diri Paulus, pemenjaraan atau kemungkinan tewas tidak dapat merampok sukacitanya. Seperti yang Karl Barth katakan: sukacita adalah perlawanan terhadap kebencian dan ketakutan yang muncul kepadanya.

Bagi Paulus, sukacita lebih dari sekedar mood atau emosi. Sukacita adalah pemahaman tentang keberadaan yang mencakup kegembiraan maupun depresi, yang menerima keduanya dengan ketundukan yang kreatif karena sukacita memampukan manusia untuk melihat melampaui (see beyond) semua kejadian kepada Allah yang Maha Kuasa yang berdiri di atas semua kejadian dan yang mengontrol semua kejadian tersebut. Sukacita mencakup kesiapan untuk martir, bahkan juga mencakup kesempatan untuk melanjutkan hidup dan tetap melayani (2:27-29).

Anda tahu sukacita apa itu? Rasul Paulus menyebutnya: SUKACITA DI DALAM TUHAN (chara en Kurio = Yun.)

 

Daftar Pustaka

Drane, John, Memahami Perjanjian Baru, Jakarta: BPK GM, 2006

Evans, Craig A. dan Stanley E. Porter (ed.), Dictionary  of New Testament Background, Illionis: IVP, 2000

Hawtorne, Geralf F., Word Biblical Commentary: Philipians, Dallas: Word Books Publishers, 1983

Ralph P. Martin, Tyndale New Testament Commentaries: Philippians, Leicester: IVP, 1983

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s