Gerakan Yesus sebagai Pembaharuan Sosial: Pendekatan Sosiologi

Kamus Bahasa Indonesia mengartikan sosiologi sebagai pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya.[1] Sosiologi tertarik pada keteraturan tingkah laku yang bukan dilahirkan oleh ciri-ciri psikologi para individu dan bukan pula oleh putusan ekonomi yang rasional, melainkan keteraturan tingkah laku yang ditampilkan oleh keadaan sosial tempat mereka berada.[2] Mengenai masalah perubahan dan pembaruan, sosiolog menyumbangkan pengertian akan adanya perubahan dan pembaharuan dalmam masyarakat, khususnya apabila dalam masyarakat timbul golongan-golongan atau kelompok-kelompok baru yang memajukan kepentingan-kepentingan baru.[3]

Mengutip More, Narwoko dan Suyanto menyatakan bahwa perubahan sosial tampak dalam struktur sosial yaitu pola-pola perilaku dan sistem interaksi sosial, termasuk di dalamnya perubahan norma, nilai, dan fenomena kultural. Bahkan, tampak dengan adanya varian-varian baru—sebagai hasil modifikasi selama berlangsungnya proses sosial—dari bentuk-bentuk pola perilaku yang terstruktur.[4] Artinya, pembaharuan sosial berarti timbulnya varian-varian baru dalam pola-pola perilaku dan sistem interaksi sosial.

Secara sosiologi, kelompok pria dan wanita yang merupakan para pengikut yang terhubung dengan Yesus selama masa hidupnya disebut sebagai gerakan Yesus. Kata “gerakan” mengimplikasikan unsur karismatik dari fenomena ini dan mengindikasikan perlawanan dengan “institusi”. Injil menyebut kelompok pengikut Yesus ini sebagai murid (mathētēs).[5] Gerakan ini mengambil model gerakan karismatis sebagai antitype dari kekuasaan yang tradisional dan legal yang ketiganya diperkenalkan Max Weber. Dalam konsep karisma, yang diperhatikan adalah ciri-ciri situasi di mana kemampuan atau kuasa seseorang mendapat pengakuan sosial. Situasi seperti itu dicirikan oleh desakan internal (krisis dalam tradisi) yang ditimbulkan oleh desakan eksternal (politis, sosio-ekonomis). Dalam situasi seperti itu dicari pribadi yang memiliki kemampuan dan kekuatan supernatural, misalnya seorang pembuat mujizat yang bukan hanya menjanjikan pembebasan dari keadaan mendesak, tetapi juga menjamin perwujudan melalui tindakannya.[6] Kehadiran gerakan Yesus ini merupakan suatu pembentukan kelompok karismatis baru di masyarakat Yahudi yang kemudian melakukan perubahan dalam bentuk pembaharuan sosial.

Gerd Theissen menyebut mereka sebagai kelompok pengembara yang karismatis. Karismatik pengembara adalah otoritas yang rohani yang menentukan dalam komunitas lokal, dan komunitas lokal adalah basis sosial dan material yang diperlukan bagi karismatik pengembara.[7] Mereka mengembara dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain, sementara para simpatisan mereka yaitu komunitas lokal yang mereka jumpai menjadi andalan mereka. Peran karismatik ini ditentukan oleh panggilan. Para murid bergerak ke seluruh negeri, untuk misi pemberitaan dan penyembuhan (Mrk. 3:13): tidak ada disebutkan tentang membangun sebuah komunitas,[8] atau golongan yang menetap. Sementara itu, kelompok-kelompok Yahudi lain bukanlah pengembara, tetapi justru menetap.

Para murid mengikuti Yesus (Mrk.1:16; 10:28dst) dan seperti Dia mereka menjadi tunawisma (Mat. 8:20). Mereka disiksa (bnd. Mat. 23:34; Kis. 8:1) dan ditolak di banyak tempat (Mat. 10:44). Mereka tidak ada keluarga. Mereka telah meninggalkan keluarga mereka (Mrk. 10:29), dilarang menguburkan bapak mereka yang mati (Mat. 8:22), dan meninggalkan ayah mereka bekerja (Mrk. 1:20).[9] Walaupun demikian, anggota gerakan Yesus mempertahankan diri mereka melawan tuduhan bahwa mereka memiliki sikap yang benar-benar negatif tentang keluarga. Mereka membentuk ulang konsep tentang keluarga: keluarga yang benar bukanlah orang-orang yang lahir dalam keluarga tetapi mereka yang mendengar dan melakukan firman Allah (Luk. 8:19-21). Pujian diselaraskan bukan pada ibu Yesus, tetapi pada mereka yang mendengar firmanNya (Luk. 11:28dst.).[10] Di pihak yang sama sekali berbeda, para golongan Yahudi lain sulit dibayangkan tidak memiliki tempat tinggal. Bahkan, golongan Farisi dan ahli Taurat merupakan para petinggi dalam badan Sanhedrin. Sementara golongan Saduki mempunyai kedekatan dengan Herodes dan karenanya menempati bagian-bagian golongan aristokrat.

Gerakan Yesus juga tidak ada harta milik. Mereka miskin, tanpa uang, sepatu, perbekalan, dan hanya satu pakaian sehingga dapat mengkritisi orang kaya dan kepemilikan kekayaan, tanpa kehilangan kredibilitas (Mrk. 10:17dst; Kis. 6:36; Mrk. 10:25; Mat. 6:19dst; Luk. 16:8; Luk. 6:24; Mat. 6:25-32).[11] Sementara itu, orang kaya berasal dari golongan aristokrasi, para pedagang, tuan tanah, pemungut cukai, banker dan orang-orang dengan harta pribadi. Raja, kerabat dekatnya dan golongan yang kaya itulah yang dikritisi oleh Yesus, selain juga para pemungut cukai di bawah raja. Golongan menengah sendiri pun bukanlah rakyat biasa, melainkan para imam yang hidup dari persembahan umat. Narasi penyucian Bait Allah dari perdagangan oleh para warga kelas menengah (Yoh. 2:13-16) Yesus lakukan sebagai upaya melawan—dalam istilah Barrett—penyalahgunaan (abuse).[12] Kehadiran perdagangan dalam Bait Allah itulah yang Yesus kecam.[13]

Walau metode ini mirip gaya Cynics, namun Yesus tidak mensyaratkan kemiskinan (sukarela) sebagai cara hidup dan tidak mensyaratkannya untuk masuk Kerajaan Allah. Kemiskinan (sukarela atau tidak) bukanlah moral ideal. Yesus telah memberkati orang miskin, bukan kemiskinan (sebagai cara hidup) (Luk. 6:21), bukan pula asketisme, justru mengharapkan Allah berintervensi bagi orang miskin. Karenanya, Yesus tidak melangkah keluar dari dunia moral masyarakatnya dan menciptakan yang baru. Malah, Dia membangun dan mengartikulasi perspektifnya sendiri dalam sistem simbolis masyarakatnya dan menaruh penekanan khusus atas beberapa dimensi ke atas sistem itu. Stegemann menyebutnya sebagai etika kontekstual Yesus.[14]

Secara etis, gerakan Yesus ini memperbaharui masyarakat melalui pemisahan kritis dari dunia, tetapi bukan dalam pengertian dualis asketis. Orang percaya bukan dari dunia (15:19; 17;14, 16), tetapi diutus ke dunia (17:18; 20:21) yang dikuasai dosa (16:8) atau Setan (1:9;8:12) untuk “masuk dalam pekerjaan” (4:38) dan berbagi dalam karya Yesus (14:8).[15] Di tengah-tengah konteks politik penjajahan, ekonomi yang menyengsarakan, serta agama yang membelenggu kreativitas, Yesus memerintahkan para muridNya untuk mengasihi: “saling mengasihi sebagaimana Aku telah mengasihi kamu” (15:12). Jika kata “perintah” dipahami zaman Yesus sebagai Taurat Musa dari tradisi Farisi yang mencakup peraturan lisan, maka Yesus menyatakan kasih sebagai perintah baru (13:34-35), yang didasari kasih Yesus dalam pengorbanan diriNya.[16]

Tapi, kadang pembaharuan sosial dilakukan gerakan Yesus tanpa mengikuti pola yang ada. Kaum Farisi mengira Allah akan memberkati Israel jika mereka menaati Taurat secara lebih hati-hati, sehingga mencecar Yesus seputar tidak membasuh tangan dan mematuhi aturan Sabat. Komunitas Qumran berpikir orang Israel perlu menyingkir ke tengah gurun untuk mendirikan komunitas-komunitas biara. Kaum Zelot lebih menyukai perang gerilya terhadap para penindas. Yesus melawan ketiga teori ini. Ia menentang interpretasi kaum Farisi tentang Taurat, tidak hidup membiara dan berkhotbah tentang perdamaian, bukan perang.[17] Dia konsisten duduk makan bersama orang berdosa dan para pemungut cukai. Bahkan salah seorang murid intiNya berlatar belakang pemungut cukai, yang dianggap pengkhianat dan penjual bangsa sendiri.[18]

Melalui hal-hal ini dan masih banyak hal lain, Yesus membentuk gerakan. Ia secara sengaja mengembangkan satu tim murid, melatih mereka untuk menjadi pemimpin di dalam pembaruan Israel. Ia berkhotbah untuk menciptakan suatu gerakan. Ia mengajar untuk melatih para murid.[19]

Demikianlah gerakan ini hadir dan membawa pola struktur sosial serta pola interaksi yang baru atau berpenekanan baru. Varian-varian baru dalam hubungan sosial tercipta, meskipun berujung pada tersalibnya sang transformator dan kepala gerakan. Namun, kematian itu tidak menjadi malapetaka, sebaliknya pembunuhan itu dapat menjadi percikan api yang menyebabkan karisma itu berkembang atau mendapat bentuk baru.[20] Penulis meyakini bahwa apa yang sedang terjadi dalam Yohanes 14:1-14 adalah persiapan terakhir Yesus, pemimpin karismatis itu, menghadapi kematian sehingga Dia memandatkan kontinuitas gerakanNya terhadap para murid/kelompok dalamNya untuk melakukan pembaharuan sosial melalui penerusan karisma, entah itu berupa sistem sosial baru maupun koreksi atas sistem sosial lama.

 


[1]Tim Penyusun, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), 1371

[2] Peter M. Blau dan Joan W. Moore, “Sosiologi” Panduan Dasar Ilmu-ilmu Sosial, Op.Cit., 1

                [3] Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia, 2009), 29

[4] J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto, Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan (Jakarta: Kencana, 2004), 342

[5] Ekkehard W. Stegemann, Wolfgang Stegemann, The Jesus Movement: A Social History of Its First Century (Minneapolis: Fortress Press, 1999), 187

[6] Martin Harun, Op.Cit., 4. Bnd. Ekkehard W. Stegemann, Wolfgang Stegemann, Op.Cit., 193-194

[7] Gerd Theissen, Sociology of Early Palestinian Christianity (London: SCM Press, 1978), 7

[8] Ibid., 8-9

[9] Ibid., 11

[10] Ibid., 12

[11] Ibid., 12

[12] C. K. Barrett, Op.Cit., 165

[13] Leon Morris, The New International Commentary on the New Testament: The Gospel According to John (Grand Rapids: Eerdmans, 1984), 195

[14] Lihat selengkapnya dalam Wolfgang Stegemann, “The Contextual Ethics of Jesus” The Social Setting of Jesus and the Gospels, Op.Cit., 45-60

[15] Bnd. Wolfgang Schrage, The Ethics of the New Testament (Philadelphia: Fortress Press, 1990), 308-309

[16] Bnd. ibid., 314

[17] Bnd. Tim Stafford, “Siapakah Gerangan Orang Ini?” (Jakarta: BPK GM, 2010), 101

[18] Ibid., 111

[19] Ibid., 120

[20] Martin Harun, Op.Cit., 5. Bnd. Ekkehard W. Stegemann, Wolfgang Stegemann, Op.Cit., 195

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s