God’s Empowering Presence

Tema                           : God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul

Pengarang                   : Gordon D. Fee

Penerbit                       : Hendrickson Publishers

Kota terbit                   : Massachusetts

Jumlah Halaman          : 915 halaman

Tahun terbit                 : 1994

Edisi cetak                  : keenam

 

Isi Buku

Buku ini ditulis oleh Gordon D. Fee, seorang ahli Perjanjian Baru terkemuka, terutama dalam teologi dan eksegese. Kemampuannya tampak jelas dalam penelitiannya terhadap teks demi teks yang berkaitan dengan Roh Kudus. Buku ini harus dipahami sebagai buku atas teologi Paulus. Hanya aspek dalam iman yang dialami oleh Paulus dan gereja-gerejanya. Dia hendak mengangkat kembali topik Roh Kudus ini, sebagaimana kritiknya bahwa peran Roh Kudus dalam kehidupan dan pemikiran Paulus sering dianggap hanya sekedar lip service.

Baginya, Roh adalah cara Allah hadir, hadir secara berkuasa, dalam kehidupan dan komunitas kita selagi kita menunggu penyempurnaan kerajaan Allah. Karena Paulus memahami Roh sebagai kehadiran pribadi Allah, dia juga memahami Roh selalu  dalam istilah suatu kehadiran yang menguatkan; bagi Paulus Roh Kudus adalah sebuah kenyataan yang hidup dan dialami. Teologi dan pengalamannya tentang Roh Kudus saling berpautan. Teologinya tentang Roh Kudus adalah pengalamannya.

Kata yang dipakai Paulus untuk menunjuk pada Roh Kudus adalah pneuma pneuma yang terdapat 145 kali dalam ke-13 surat Paulus. Meskipun tanpa artikel, Paulus tidak memaksudkan “sebuah roh” atau “sebuah roh kudus”, tetapi Roh Allah yang hidup, Roh Kudus itu sendiri. Kata pneuma pneuma ini digunakan Paulus baik untuk menunjuk Roh Kudus maupun roh manusia. 1 Kor. 14:14-15 menjadi contoh yang baik. Di sini Paulus memaksudkan “rohku berdoa/bernyanyi” dalam pengertian rohnya sendiri sedang menyembah, tetapi berlangsung dengan pengaruh langsung dari berdiamnya Roh Allah.

Dalam pemahaman Paulus, kehadiran Roh Kudus yang menguatkan itu mencakup 3 substansi yaitu:

  1. Roh Kudus sebagai pribadi. Karena Dia tidak terlihat, Roh Kudus sering dipikirkan seperti angin, api, air, dll. Ini bukan gambaran suatu pribadi.

Di sini Fee berhadapan dengan doktrin Allah Trinitas. Menurut Fee, karena Paulus berbicara secara eksperiental tentang Roh Kudus, maka dia berfokus pada pekerjaan/karya Roh Kudus. Karena itu, Paulus tidak berbicara secara langsung tentang pertanyaan apakah Roh Kudus merupakan pribadi. Tambahan lagi, konsep “pencurahan, pembasuhan Roh Kudus” tampaknya tidak menjelaskan hal ke-pribadi-an. Demikian dengan kata “memberikan Roh-Nya padamu,” atau “menerima” atau “memiliki” Roh, juga tidak menunjuk pada pribadi. Di sisi lain, ke-pribadi-an Roh Kudus tampak jelas dalam karya-Nya yang menyelidiki segala sesuatu (1 Kor. 1:20), mengenal pikiran Allah (1 Kor. 2:11), mengajar isi injil kepada orang percaya (1 Kor. 2:13), tinggal di antara atau dalam orang percaya (1 Kor. 3:16; Rm. 8:11; 2 Tim. 1:14), memberi hidup pada orang percaya (2 Kor. 3:6), berseru dari dalam hati kita (Gal. 4:6), dll. Artinya, karya-Nya menunjukkan bahwa Dia bersifat pribadi.

Kata pneuma pneuma untuk menunjuk Roh, tidak pernah dianggap Paulus sebagai pengaruh atau kuasa yang impersonal/tidak pribadi, tetapi justru—walaupun mengandung makna “angin”—menganggap-Nya sebagai pribadi.

Berhubungan dengan Roh Allah (terdapat 16 kali) dan Roh Kristus (terdapat 3 kali), Paulus memakai ungkapan ini bukan untuk menyatakan kesamaan ketiga pribadi, tetapi perbedaan Mereka. Ini untuk menyatakan hubungan antara Roh dan Allah (Bapa) serta Kristus. Paulus ingin menekankan karya Allah atau Kristus yang disampaikan pada orang percaya oleh Roh Kudus.

Penulis menyatakan bahwa hubungan Roh Kudus di dalam Trinitatis bersifat soteriologis. Peran Roh Kudus harus dilihat sebagai karya yang melanjutkan keselamatan yang dikerjakan oleh Bapa dan Anak (Rm. 5:1-11; 8:31-39, Ef. 1:3-14). Dalam 2 Kor. 13:13, berkat dengan menghadirkan Trinitas menunjukkan perbedaan antara Allah (Bapa), Kristus dan Roh bahwa secara soteriologis “keselamatan dalam Kristus” adalah karya kooperatif dari Allah, Kristus dan Roh. Keselamatan ditemukan maknanya di dalam karakter Allah tritunggal, yang diawali oleh kasih penebusan Allah (Bapa), diakibatkan (Anak), dan dibuat berbuah (Roh).

 

  1. Roh Kudus sebagai kehadiran Allah. Roh Kudus adalah pemenuhan dari nubuat yang ditemukan dalam Yeremia dan Yehezkiel bahwa Allah sendiri akan menafaskan kita dan Dia akan hidup; Dia akan menuliskan hukum-Nya dalam hati kita; dan khususnya Dia akan memberi Roh-Nya “atas kita,” sehingga kita didiami oleh-Nya. Salah satu gambaran kunci yang dipakai oleh Paulus tentang berdiamnya Roh Kudus adalah “bait.” Dalam PL bait yang dimaksud adalah dalam bentuk bangunan (1 Raja 8:11). Sementara Paulus menyatakan kehadiran Roh itu pada bait dalam diri orang percaya, baik secara pribadi maupun bersama-sama (1 Kor. 3:16-17 dan 6:19) yang membedakan orang-orang baru Allah ini dari “semua manusia yang lain di muka bumi.” Berdiamnya Roh Kudus inilah yang disebut sebagai kehadiran Allah.

 

  1. Roh Kudus sebagai kehadiran Allah yang menguatkan. Menurut Paulus, kehadiran Allah oleh Roh juga berarti kehadiran-Nya yang menguatkan dan berkuasa. Kehidupan pada masa kini dikuatkan oleh Allah yang tinggal di antara dan di dalam kita. Kuasa itu tidak hanya dipikirkan dalam mujizat, tetapi juga daya tahan di tengah-tengah kekurangbaikan (Kol. 1:11; 2 Kor. 12:9-10) dan tiap hal yang kita tahan, sambil menanti kemuliaan akhir, yang Roh Kudus adalah jaminannya. Kehadiran Roh Kudus  adalah kehadiran kuasa.

Ketiga hal di ataslah yang dimaksudkan Paulus sebagai realitas Roh Kudus.

Di dalam analisa yang tajam secara hermeneutis, penulis menjelaskan persoalan-persoalan tentang Roh Kudus ini teks per teks. Tapi, baiklah menelusurinya kitab per kitab.

  1. Surat kepada Jemaat Tesalonika

Dalam kedua surat Tesalonika, tidak ada ajaran langsung tentang Roh Kudus, tapi di dalamnya Paulus memahami bahwa pemanggilan kepada Kristus melalui pengajaran rasuli dibuat efektif melalui “kuasa Roh Kudus”. Pengalaman pertobatan mereka dipengaruhi oleh Roh Kudus (1 Tes. 1:4-6), yang datang dalam hidup mereka untuk menghasilkan kekudusan (1 Tes. 5:22-23; 2 Tes. 2:13). Hidup baru di dalam Kristus itu termanifestasi dalam sukacita sebagai hasil langsung dari berdiamnya Roh Kudus (1 Tes. 5:16-18).

 

  1. Surat 1 Korintus

Sangat banyak teks yang mengacu tentang Roh Kudus dalam surat ini, secara khusus tentang manifestasi-Nya dalam jemaat yang terlihat dalam “karunia rohani”. Roh itu  memimpin orang kepada Kristus (dengan menyatakan dosa seseorang dan mengarahkan pada Kristus; 14:24-25), menyertai pemberitaan tentang Kristus sehingga bisa dilihat sebagai hikmat (2:12-13); demikianlah Roh membuat pemberitaan tentang Kristus sebagai pembenaran (2:4-5) dan yang secara efektif sesuai dengan pekerjaan Yesus yang membasuh, membenarkan dan menguduskan dengan cara yang menguatkan yang mengubah kehidupan dan gaya hidup seseorang (6:11). Sebagai Roh yang berdiam, Dia juga menguduskan tubuh pada masa kini (6:19-20) dan menandainya dalam istilah-istilah kehidupan masa akan datang (15:44-46). Roh membedakan mereka dengan orang lain di Korintus (3:16-17). Roh Kudus memanifestasikan diri-Nya sendiri dalam ibadah yang mendatangkan kebaikan mereka (12:7), sehingga mereka bisa dibangun bersama sebagai umat Allah (14:3, 6, 26) dan sehingga orang lain akan dibawa ke dalam orang-orang itu (14:24-25).

  1. Surat 2 Korintus

Dalam surat ini, Roh Kudus dipandang sebagai kenyataan eskatologis, dan sebagai pemenuhan terhadap perjanjian baru yang dijanjikan (3:6). Kehadiran-Nya dalam kehidupan orang percaya dan gereja berarti bahwa semua batas dan simbol harus pergi. Menerima Roh Kudus berarti mengalami kehadiran Allah, dan terjadilah kemerdekaan (3:17): Roh Kudus memimpin seseorang kepada kemuliaan Allah, sehingga benar-benar diubahkan dalam keserupaan dengan Kristus, gambar Allah yang utama (3:18).

 

  1. Surat kepada Jemaat Galatia

Paulus dalam surat ini menyatakan bahwa kehidupan Kristen, secara pribadi dan bersama-sama dimulai, dibawa dan datang pada kesimpulan eskatologi melalui kehadiran Allah yang menguatkan itu yaitu Roh Kudus. Roh Kudus menggantikan Torah/hukum Taurat sebagai “tanda identitas” yang baru dari umat Allah (3:2,5). Allah menandai mereka sebagai anak-anak-Nya dengan mengirim Roh Kudus ke dalam hati mereka. Siapa yang di bawah Roh Kudus tidak lagi di bawah Torah dan menghasilkan buah Roh (5:22-23).

  1. Surat kepada Jemaat Roma

Paulus menjelaskan bahwa dalam dimensi kehidupan Kristen mulai dari pemberitaan yang memanggil orang kepada iman (15:8-9), kepada pertobatan mereka (mis. 8:14-17), pada kehidupan etis (8:12-13), hubungan komunitas (14:17) dan ibadah (12:3-8), Roh Kudus adalah kenyataan yang krusial. Roh Kudus adalah kunci kehidupan Kristen, baik pertobatan maupun etika. Oleh Roh kita juga bertahan dalam penderitaan masa kini (5:3-5; 8:23, 26-27) yang oleh-Nya kita berlimpah-limpah pengharapan (15:13).

 

  1. Surat dari Penjara: kepada Filemon dan Jemaat Kolose

Dalam kedua surat ini, pembicaraan langsung tentang Roh Kudus sangat sedikit daripada di surat lain.

Dalam Filemon, kata pneuma pneuma satu-satunya terdapat dalam Fil. 25. Itu pun Paulus bukan memaksudkan bahwa roh kamu berarti Roh Allah yang tunggal menggantikan roh manusia, tetapi menunjuk pada “kamu”. Kata “dengan rohmu” menunjuk pada “denganmu”.

Dalam Kolose, Roh Kudus adalah sumber kasih mereka (Kol. 1:7-8), sumber dari kedatangan mereka untuk mengenal kehendak Allah dengan lebih penuh (Kol. 1:9-12). Kuasa Roh Kudus hadir dalam hidup mereka demi ketahanan dan kesabaran (Kol. 2:5). Melalui nyanyian yang secara khusus dari Roh Kudus mereka saling mendorong memuji Allah (Kol. 3:16).

 

  1. Surat dari Penjara: kepada Jemaat Efesus

Kata pneuma yang mengacu pada Roh Kudus terdapat sebanyak 12 kali dalam surat ini.

Dalam surat ini, Paulus menyatakan bahwa Roh Kudus adalah “Roh Kudus dari janji” yang kedatangan-Nya merupakan pemenuhan terhadap perjanjian baru. Dialah jaminan dan bukti bahwa kita adalah milik Allah (1:13-14; 4:30).

Roh Kudus adalah kehadiran Allah yang menguatkan sebagai kunci dari etika Kristen (3:16, 20; 4:3-4, 30; 5:18) dan dalam komunitas orang percaya (2:18, 22; 4:3-4; 5:18-19). Dia bertanggung jawab atas kesatuan orang percaya (4:3-4).

Beginilah Allah hadir di dunia kita ketika kita dipenuhi dengan Roh Kudus, di mana ibadah dan kelakuan kita merefleksikan karakter-Nya.

 

  1. Surat dari Penjara: kepada Jemaat Filipi

Roh Kudus jarang disebut, hanya sebanyak empat kali. Namun, menunjukkan peran sentral dari Roh Kudus dalam pemahaman Paulus tentang kehidupan dan pengalaman Kristen.

Orang percaya dalam Kristus adalah umat Allah karena telah menerima dan hidup dalam Roh (3:3), baik secara pribadi untuk teguh dalam iman (1:27) maupun komunitas. Roh Kudus adalah kunci kesatuan mereka (2:1) dan bantuan dari Roh didapat dalam doa mereka sehingga Kristus akan dibesarkan dalam diri Paulus (1:18c-20).

 

  1. Surat Pastoral : kepada Timotius dan Titus

Dalam Titus 3:5-6, Roh Kudus memainkan peran kunci dalam pengalaman keselamatan umat Allah. Allah menyelamatkan (digunakan metaphor “mencuci”; bnd. 1 Kor. 6:11) mereka melalui pekerjaan Roh, yang dengan melimpah dicurahkan atas mereka melalui Kristus. Dia tinggal di dalam orang-orang percaya (2 Tim. 1:14).

Roh Kudus adalah sumber kuasa dan buah (kasih) (2 Tim. 1:6-8), menginspirasikan kitab suci (2 Tim. 3:16) dan nubuat (1 Tim. 1:18; 4:1-2, 14). Dia juga memberikan karunia (1 Tim. 4:14).

 

Mengapa Fee punya pendekatan yang lebih eksperiental bagi Paulus tentang Roh Kudus? Karena menurutnya Allah yang melalui kebangkitan Kristus dan penganugerahan Roh Kudus, Allah sendiri telah menata masa depan dengan tidak dapat dielakkan dalam gerakan, sehingga segala sesuatu di dalam “masa kini” ditentukan dengan tampilnya “masa depan”. Ini merupakan titik mula (starting point) yang eksperiental bagi Paulus: pengalaman yang bergerak dari masa kini yang sudah ke masa depan yang belum. Orang percaya hidup “di antara waktu” (1 Kor. 10:11), di mana kebangkitan Kristus menandai mulainya masa Akhir. Masa Akhir itu sendiri baru saja mulai, tapi belum disempurnakan. Keselamatan dalam Kristus sudah nyata sekarang tapi belum disempurnakan. “sudah” tapi “belum”. Secara eksperiental, penyempurnaan keselamatan dalam Kristus ini melibatkan peran Roh Kudus, yaitu peran-Nya dalam “keselamatan dalam Kristus” yang eskatologis. Karena itu, Roh Kudus adalah penggenapan eskatologi itu. Yang di masa depan ditarik dan mengalami awalnya di masa sekarang. Paulus telah mengalami Roh Kudus pada masa sekarang dan pemenuhannya kelak.

Dengan pendekatan di atas, Fee bertolak pada peran Roh Kudus. Paulus menurutnya bertolak dari kehidupan awalnya dalam Kristus yaitu perjumpaannya dengan Kristus yang dibangkitkan di jalan ke Damaskus dan penganugerahan Roh Kudus yaitu Roh yang eskatologis itu. Berdasarkan hal itu, peran Roh Kudus bagi Paulus ada 2 yaitu sebagai bukti yang pasti bahwa masa depan telah datang dan jaminan yang mutlak dari pemenuhan masa depan yang final. Hal ini terbukti dengan tiga istilah yang digunakan oleh Paulus yaitu Roh sebagai jaminan (Ef. 1:14; 2 Kor. 1:21-22; 5:5), sebagai buah sulung di mana oleh-Nya kita “diadopsi” sebagai anak (Rm. 8:23), dan meterai (2 Kor. 1:21-22; Ef. 1:13; 4:30).

Sebagai pemenuhan eskatologis, Roh Kudus adalah janji yang telah digenapi (Gal. 3:14; Ef. 1:13-14; dengan kata “pengharapan” dalam Rm. 15:13; Ef. 4:4). Janji ini bukan hanya bagi Israel, tapi juga bagi orang Yunani dan seluruh dunia (Ef. 1:13-14). Sunat tidak lagi secara lahiriah, tetapi secara rohani di dalam Roh Kudus.  Hukum Taurat dipandang secara “rohani” dalam pengertian bahwa kehadirannya adalah dengan cara inspirasi Roh (Rm. 7:14). Perjanjian baru adalah kehidupan di mana Roh diberikan, yang tertulis dalam “loh hati manusia” (2 Kor. 3:3), “sunat hati” (Rm. 2:29). Tapi ini pun gerakan sudah tapi belum: janji yang sudah diberikan, tetapi belum mengalami pemenuhan secara total.

Cara hidup orang yang menerima Roh Kudus pun menjadi eskatologis. Hidup menurut daging dianggap Paulus sebagai hidup dalam tubuh dan sesuai realitas masa sekarang, tetapi tidak berjalan “menurut daging”. Hidup berjalan menurut daging bertentangan dengan hidup menurut Roh. Tapi, hidup sekarang adalah hidup yang belajar “untuk berjalan oleh Roh,” berperilaku “sesuai dengan Roh,” menabur “pada Roh.” Dalam kedatangan Kristus hidup di dalam tubuh akan sepenuhnya menjadi hidup sesuai dengan Roh.

Sebagai Roh yang soteriologis, peran-Nya dalam pertobatan adalah menguatkan dan menyertai dalam pemberitaan dan pendengaran Injil, bahkan juga peran krusial dalam pertobatan actual dari orang percaya. Karena pemberitaan firman disertai oleh kuasa Roh, mereka menjadi bertobat (1 Tes. 1:5-6; 1 Kor. 2:1-5). Penerimaan orang Tesalonika terhadap Injil bahkan disertai oleh banyak penderitaan dan sukacita oleh Roh Kudus. Pemberitaan ini adalah kombinasi efektif dari “perkataan dan perbuatan” yang merupakan karya “kuasa Roh Kudus” (Rm. 15:18-19). Roh mengerjakan adopsi yaitu pengadopsian kita menjadi anak Allah (Rm. 8:14-15) sehingga kita bisa berseru “Ya Abba, ya Bapa!” Istilah soteriologi lain yaitu penyucian/kelahiran kembali/pemberian hidup melekat dalam karya Roh Kudus. Misalnya dalam 1 Kor. 6:11 dikatakan bahwa oleh Roh kita disucikan. Kehidupan seseorang di dalam Kristus diberikan oleh Roh Kudus itu sendiri. Kehidupan baru adalah pembaharuan (Rm. 12:2; Kol. 3:10).

Kehidupan oleh Roh Kudus melibatkan sebuah komitmen untuk sebuah kehidupan berjalan dalam Roh, dipimpin oleh Roh, menabur pada Roh. Roh yang melahirkan iman yang olehnya seseorang percaya (2 Kor. 14:3) adalah Roh yang sama yang buahnya dalam kehidupan orang percaya mencakup “iman”, yang kini berarti berjalan dengan setia dalam jalan-jalan-Nya.” Ini termasuk dalam ranah kehidupan etis. Hidup eskatologi yang “sudah tapi belum” ini adalah kini hidup di dalam dan oleh Roh di mana kesalehan pribadi dan spiritualitas adalah suatu bagiannya.

Etika Paulus ini memandang peran penting dari Roh Kudus. Mengapa? Pertama, karena baginya tidak ada “keselamatan di dalam Kristus” yang tidak juga mencakup kebenaran atas umat Allah. Mereka tidak diselamatkan oleh kebenaran manusia. Karena itu, sebagai orang yang diselamatkan oleh pekerjaan Kristus di dalam Roh Kudus, sikap etis manusia adalah hasil kebenaran yang dikerjakan oleh Roh Kudus yang menguatkan itu. Kedua, etika Kristen sesungguhnya hanya dapat terjadi oleh penguatan dari Roh Kudus. Tujuan atau dasar etika Kristen adalah kemuliaan Allah (1 Kor. 10:31). Pola etika itu adalah Kristus (1 Kor. 4:16-17; 11:1; Ef. 4:20). Prinsipnya adalah kasih, khususnya karena hanya kasih yang merefleksikan karakter Allah. Kuasa etika itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus bukan hanya menguatkan orang percaya untuk kelakuan etis, tetapi dengan mendiami orang percaya Roh Kudus juga menghasilkan pola dan prinsip kelakuan itu.

Tentang baptisan air, hubungannya dengan Roh Kudus hanya terdapat dalam 1 Kor. 12:13. Paulus tidak menjelaskan kaitan Roh Kudus dan baptisan dalam teks ini selain menunjukkan kesatuan orang percaya di dalam Roh Kudus. Paulus tidak menyatakan bahwa dengan baptisan akan menerima Roh Kudus, tetapi hanya “dibaptis di dalam Roh.” Bukanlah baptisan yang membuat mereka satu tubuh, tetapi Roh Kudus. Intinya, menurut Fee Paulus secara khusus menghubungkan penerimaan Roh Kudus dengan pemberitaan Injil, bukan dengan baptisan. Baptisan adalah repsons terhadap anugerah yang diterima melalui kedatangan Roh Kudus yang berhubungan dengan pendengaran tentang iman pada saat pemberitaan firman (Gal. 3:2-5;1 Tes. 5:16, 18-19).

Roh Kudus bagi Paulus adalah kunci dari semua spiritualitas Kristen yang sesungguhnya. Pada tingkat individu, kehidupan dalam Roh mencakup “berdoa dalam Roh” dan pikiran juga. Dengan demikian, Roh Kudus tidak hanya menolong orang-orang percaya dengan menjadi perantara bagi mereka dalam kelemahan mereka, tetapi juga memberi mereka keyakinan yang besar dalam doa karena Allah mengenal pikiran Roh, dan karena Roh berdoa melalui orang percaya dalam menjaga tujuan Allah sendiri. pada saat yang sama, kehadiran Roh Kudus, mencakup charismata-Nya, menolong untuk membangun jemaat di mana para anggotanya hadir bersama untuk menyembah Allah. Dalam gereja-gereja yang berhubungan dengan Paulus, beribadah adalah “karismatis” sederhananya karena Roh adalah kunci doa. Roh Kudus, yang membentuk tubuh Kristus dan menciptakan Bait, hadir dalam kesatuan dan kepelbagaian, sehingga semua bisa berpartisipasi dan semua bisa dibangun.

Menarik sekali, penulis tidak hanya memaparkan setiap pandangan Paulus tentang Roh Kudus dalam surat-suratnya, tapi juga mencoba merelevansikannya dalam kehidupan gereja pada masa kini. Menurutnya, apa yang terjadi pada masa kini dalam paradigma dan praktik gereja adalah kontras terhadap apa yang Paulus persepsikan. Fee menyatakan bahwa Roh Kudus tidak lagi menjadi dialami secara penting dalam kehidupan dan pengalaman gereja masa kini. Kehidupan yang dinamis dan penuh pengalaman di dalam Roh Kudus secara umum hilang. Alasannya cukup menarik, yaitu bahwa kekristenan masa kini ada sebagai hasil kelahirannya di dalam rumah-rumah Kristen daripada melalui pertobatan. Surat-surat Paulus ditulis untuk orang-orang percaya generasi pertama, yang merupakan petobat-petobat dewasa, yang pertobatan mereka mencakup suatu kedatangan Roh Kudus yang dialami dalam kehidupan mereka. Ini berbeda dengan anak-anak yang dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga Kristen. Sejarah gereja ternyata juga lebih sering menunjukkan institusi daripada kehidupan Roh Kudus dalam komunitas iman/gereja. Yang tidak hilang hanyalah doktrin tentang Roh Kudus yang lebih forman dalam ungkapan kredo.

Roh Kudus masa kini tidak lagi dirasakan sebagai suatu pengalaman yang dinamis. Spontanitas berkurang. Berdoa di dalam Roh menjadi teraan dalam liturgi gereja, lidah secara umum memang berhenti dan kata-kata nubuat diturunkan pada khotbah yang telah dipersiapkan. Ketika “gerakan Roh Kudus” terjadi di mana gereja menangkap kembali kehidupan Roh Kudus, mereka telah menjadi sumber pembaharuan dan berkat.

Melihat hal itu, penulis melihat pentingnya langkah ke depan yang harus ditempuh gereja. Dengan menulis buku ini, penulis tidak ingin membalikkan jarum jam, karena memang tidak bisa. Yang penting baginya adalah menangkap kembali perspektif Paulus tentang kehidupan Kristen secara esensial sebagai kehidupan Roh Kudus, yang secara dinamis berorientasi pada pengalaman dan eskatologis dan secara penuh terintegrasi dalam kehidupan gereja. Liturgi, teologi dan institusi kita adalah juga karya Roh Kudus, hanya saja kita harus membiarkan Roh Kudus membawa kehidupan pada hal-hal itu. Selanjutnya, penangkapan kembali perspektif Paulus ini tidak akan mengisolasi Roh Kudus sehingga “karunia rohani” dan”fenomena Roh Kudus” mengambil tempat penting dalam gereja secara bertanggung jawab (bnd. 1 Tes. 5:19-22), menghasilkan gereja yang “karismatis” atau sejenisnya untuk membangun jemaat. Secara vital gereja harus lebih Trinatarian, dalam hidup, teologi dan spiritualitasnya, bahkan etika hidupnya: bagi kemuliaan Allah, melalui penyelarasan dengan gambar Anak, melalui penguatan Roh Kudus.

Gereja harus berhenti menjadikan Roh Kudus sebagai lip service, tetapi malah harus mengenal peran penting-Nya, tidak membungkusnya dalam kotak kredo dan membawa-Nya kembali dalam pengalaman hidup orang percaya dan komunitas orang percaya.

 

Tanggapan dan Penutup

Dengan membaca buku ini, para teolog bisa dicerahkan tentang vitalnya memperhatikan peran Roh Kudus. Menurut saya, sangatlah penting untuk memvitalkan kembali peran Roh Kudus dalam gereja masa kini, bukan karena kita mampu, tetapi karena membiarkan Roh Kudus memvitalkan diri-Nya sendiri di dalam gereja. Yang penting adalah keterbukaan hati dan kesediaan untuk diperbaharui.

Memperhatikan kembali apa yang penulis sampaikan lewat buku ini, saya sependapat bahwa gereja telah terjebak di dalam institusi dan kredonya sehingga tidak mendapatkan pengalaman seiring dengan apa yang diakuinya. Hal ini jelas terlihat dari spiritualitas yang dangkal sehingga tidak mampu mewujudnyatakan suriteladan yang diberikan Yesus di dalam dunia ini. Berbicara setiap keputusan dan tindakan gereja lebih banyak terkait dengan peraturan-peraturan gereja. Gereja menjadi organisasi yang kaku, bukan lagi organisme yang senantiasa berkembang. Gereja haruslah memberi ruang pada karya Roh Kudus.

Sebagai perbandingan, gereja baik secara pribadi maupun institusi harus melihat tujuan Yesus mengutus Roh Kudus yang akan punya peran :

  1. Penolong yang menyertai (Yoh. 14:16).
  2. Mengajarkan segala sesuatu kepada gereja dan mengingatkan semua yang telah dikatakan Yesus (Yoh. 14:26).
  3. Penghibur (Yoh. 16:7).
  4. Menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16: 8)
  5. Memimpin gereja ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13).
  6. Sebagai kuasa untuk menjadi saksi Yesus di seluruh bumi (Kis. 1:8).

Dengan melihat peran Roh Kudus di atas, gereja yang terarah pada Kristus harus mulai mengalami Roh Kudus dalam peran serta-Nya terhadap peran-peran di atas. Gereja tidak mempunyai kuasa dan kekuatan dan Yesus mengetahuinya. Gereja punya potensi untuk tidak benar dalam eksistensi dan fungsinya. Kembali berdoa di Roh Kudus adalah langkah tepat untuk membiarkan-Nya leluasa memberikan kuasa, kekuatan dan mempertajam visi gereja dipanggil ke tengah-tengah dunia.

Akhirnya, dengan ketajaman dan kepekaan terhadap apa yang sedang Allah lakukan di tengah-tengah dunia di dalam Roh Kudus, gereja bisa segera tersadar bahwa dirinya bukanlah insitusi kaku. Kehilangan spontanitas dan ekspresi iman yang kuat serta mengakar di tengah dunia bisa segera ditemukan kembali sehingga gereja melihat kehadiran Allah dalam eskpresinya yaitu kehadiran yang menguatkan di dalam Roh Kudus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s