Kekristenan Versus Negara?

Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka” (Kis. 17:26)

Paulus, sang rasul bagi orang non-Yahudi, mengucapkan teks di atas dalam sebuah perjalanan misi ke Atena, pusat pendidikan kuno dunia yang dipenuhi para pemikir Stoa dan Epikurus. Di kota itu dia mendapati bahwa orang Atena adalah orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada dewa-dewa. Tapi, sebagai suatu pintu masuk bagi pekabaran Injilnya, dia menceritakan tentang “Allah yang tidak dikenal”, tulisan yang terdapat di salah satu mezbah di kota itu.

Kita tidak sedang berbicara bagaimana Paulus mengaitkan teks ini dengan pemberitaan Injil, atau bagaimana dia mengangkat tema ini sebagai sentral bagi pandangan teologi agama-agamanya. Kita sedang berbicara tentang betapa pentingnya teks ini membantu pemahaman kita tentang bagaimana bangsa-bangsa secara historis mengalami kontinuitas dan diskontinuitasnya di tengah-tengah dunia.

Baiklah…

Pertama, teks di atas menunjukkan bahwa Allah melalui satu orang manusia telah menjadikan semua bangsa. Ini menarik. Allah menjadikan semua bangsa berarti Allah menghendaki bahwa bangsa-bangsa itu hadir di dunia, tidak ada satu bangsa pun yang kehadirannya tidak dianggap berharga oleh Allah. Allah sangat memperhitungkan bangsa. Dan jika Allah sangat memperhitungkan bangsa, sesungguhnya semua bangsa yang mendiami seluruh muka bumi ini berada dalam otoritasnya.

Kedua, bahwa Allah telah menentukan musim-musim dan batas kediaman bangsa-bangsa itu. Allah menetapkan waktu dan tempat bangsa-bangsa. Terlepas dari persoalan-persoalan faktual tentang sengketa tanah di berbagai negara dan bagaimana proses kelahiran masing-masing negara, kita perlu memahami bahwa suatu negara mempunyai waktu dan wilayah sendiri. Secara historis, tidak dapat disangkal bahwa negara sekuat kekaisaran Romawi telah hancur. Kerajaan Majapahit yang berhasil mempersatukan nusantara dengan Sumpah Palapa Patih Gajah Mada telah pupus, tidak bertahan. Barangkali kita perlu juga bertanya, akankah negara ini juga kelak akan sirna?

Apa yang mau kita perhatikan adalah bahwa bangsa atau negara adalah sesuatu yang diperhitungkan oleh Allah.

Dalam Wahyu Allah disebut sebagai Raja segala bangsa. Di hadapan tahta Allah, segala suku, bangsa dan bahasa akan mengambil bagian dalam penyembahan. Ingat, bahwa bangsalah yang diperhitungkan, bukan denominasi gereja, bukan kelompok dan golongan kita, tapi suku, bangsa dan bahasa. Hal ini jelas sekali menunjukkan fakta bahwa Sang Raja segala bangsa itu sungguh memperhitungkan bangsa-bangsa.

Jika memang bangsa atau negara mengambil tempat dalam keprihatinan Allah, maka sangatlah jelas bahwa bangsa dan negara kita dihargai, dikasihi dan diperhitungkan oleh Allah.

Fakta menyatakan bahwa negara Indonesia ini hadir di dunia atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa (pembukaan UUD alinea I). Hal ini berarti ke-Indonesia-an menjadi bagian tak terpisahkan dari peran serta Allah. Bahwa Allah sungguh memperhitungkan kehadiran Indonesia di kancah dunia tidaklah perlu diragukan kembali.

 

Indonesia dan Kehidupan Beriman

Mempertanyakan kembali peran kita sebagai orang Kristen, sangatlah perlu untuk memulai pemahaman yang komprehensif terhadap persoalan kebangsaan. Pengalaman empiris di gereja menunjukkan kenyataan bahwa semangat kebangsaan hampir tidak pernah diberitakan di gereja-gereja arus utama. Hitunglah berapa kali semangat kebangsaan pernah diajarkan di gereja kita? Pernahkah kita mendengar khotbah tentang nasionalisme? Pernahkah kita diajar untuk mencintai bangsa ini?

Jika ketiga pertanyaan di atas memang telah dijawab secara positip, maka kita harus melangkah kepada pertanyaan berikutnya. Apakah kecintaan terhadap bangsa kita rasakan sebagai buah pergumulan beriman? Apakah mencintai Yesus membuat kita mencintai Indonesia? Atau apakah perasaan berbangsa hanyalah pergumulan sebagai anak bangsa, belum menjadi realisasi kehidupan beriman?

Pertanyaan-pertanyaan di atas penting untuk dijawab. Sangat menyedihkan bila orang Kristen yang bergelut dalam dunia politik atau pelayanan publik justru menjadi koruptor. Sebaliknya, orang Kristen yang sangat rohani sekalipun enggan menyentuh “daerah-daerah” yang perlu ditransformasi, tetapi justru sibuk bekerja sebagai pengkhotbah keliling. Tak jarang dokter-dokter atau para pengusaha Kristen lebih bergumul dengan tugas khotbah keliling daripada menjawab persoalan konteksnya.

Kalimat demi kalimat di atas menunjukkan bahwa telah terjadi dualisme antara kehidupan beriman dan bernegara. Orang yang bernegara telah memisahkan diri dari kehidupan beriman sehingga tak jarang memperkosa bangsa ini. Sementara, orang yang beriman telah memisahkan diri dari persoalan-persoalan bangsa.

Anehnya, warna dualisme sedemikian telah tercium di STT tercinta ini. Beberapa indikasi bisa diberikan. Tanyalah pada diri kita, apakah kita mengetahui berita ter-up to date tentang bangsa ini? Manakah yang lebih kita senangi untuk simak, menonton bola atau persoalan kebangsaan yang menyedihkan? Lebih nyamankah kita menonton sinetron daripada berita Gayus Tambunan atau carut marutnya politik ini? Jika hal-hal ini direspons negatif, maka gelisahlah sebab kita ada di barisan kaum dualis itu. Dan kita bisa bayangkan bahwa gereja ke depan akan hadir dengan wajah dualis sedemikian.

Yeremia  29:7

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

            Nabi Yeremia menyampaikan pesan ini kepada bangsa Israel yang terbuang. Ada dua hal yang penting untuk diperhatikan. Pertama, bahwa kesejahteraan bangsa adalah hal yang harus diusahakan. Usaha-usaha penyejahteraan bangsa haruslah mendapat aktualisasinya dalam kehidupan konkret. Orang Kristen harus menyadari bahwa setiap lini kehidupan adalah lapangan pelayanan bagi ajang mengusahakan kesejahteraan masyarakat bangsa ini.

Kedua, berdoa bagi bangsa adalah sebuah kemutlakan. Tidak perlu alergi untuk berdoa. Jangan risih dan tak perlu risau karena berdoa adalah konsep beriman yang absolut. Keresahan terhadap bangsa dan situasi yang terjadi berawal dari doa. Tidak perlu kecewa dengan doa-doa kita atau orang lain, sebab mungkin saja kita tampaknya sedang berdoa, tapi kita sebenarnya belum berdoa. Kita memang dituntut untuk berfungsi dalam hidup. Bahkan sering sekali pesimis terhadap doa yang tak aktual. Tapi sungguh, aktualisasi hidup berbangsa yang benar adalah integrasi antara usaha mensejahterakan bangsa dan doa. Di mana doa dan usaha mensejahterakan bangsa terintegrasi, saat itulah dualisme beriman dan bernegara di atas akan dihancurkan. Berdoa kepada Sang Raja segala bangsa yang memperhitungkan Indonesia adalah wujud aktualisasi pergumulan yang dalam tentang bangsa ini.

Belajar dari hal-hal di atas, sudah sepantasnya kita berkontemplasi atas apa yang terjadi. Kita berada dan berdiri di tengah-tengah bangsa yang terbuang ke dalam lubang-lubang kehancuran yang amat dalam. Sudah saatnya berkata bahwa dualisme antara kehidupan beriman dengan kehidupan berbangsa harus dibuang.

Sangatlah penting untuk belajar dari Nehemia yang mencintai bangsanya. Kemendesakan untuk mencintai bangsanya yang hancur lebur karena pembuangan telah memaksanya untuk berdoa dan berbuat. Kehidupan berimannya meronta karena tembok Yerusalem yang adalah symbol harga diri bangsanya, telah hancur. Nehemia yang bekerja sebagai juru minum raja itu pun menangis demi bangsanya dan meninggalkan kenyamanannya di pembuangan untuk membangun bangsanya.

Kemendesakan ini penting kita rasakan. Sudah saatnya beralih dari kesenangan pribadi kepada Allah yang menghendaki kita berjuang bagi bangsa. Semangat berbangsa haruslah lahir dari pergumulan iman yang dalam seperti William Wilberforce di Inggris yang memperjuangkan penghapusan budak, atau Martin Luther King Jr. yang berjuang dari iman demi menghapuskan rasisme di Amerika Serikat. Atau barang kali kita bisa meniru semangat Mongunsidi, pemuda Kristen yang rela mati dalam usaha mempertahankan kemerdekaan RI. Saat eksekusinya, di tangan kirinya dia memegang Injil dan tangan kirinya mengepal sambil berkata, “Merdeka!” kemudian, 10 peluru menembus badannya yang seketika jatuh tewas di tanah ini.

Akhirnya, kita perlu merevitalisasi kecintaan kita kepada Yesus dengan integrasi sepenuhnya pada kehidupan berbangsa dalam konteks kita. Diskusi-diskusi tentang masalah-masalah sosial perlu digiatkan. Wacana-wacana nasional perlu dihangatkan. Seminar-seminar perlu difasilitasi  untuk mengangkat persoalan kebangsaan yang kian mendesak ini. Kelompok-kelompok peduli bangsa perlu diakomodir. Doa-doa bagi bangsa harus dimotivasi. Demi satu hal, yaitu bahwa kita perlu dan harus mengusahakan kesejahteraan bangsa ini. Hingga nyatalah kehidupan bernegara dan kehidupan beriman bukanlah sebuah versus, tetapi suatu integrasi yang dalam antara usaha dan iman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s