Kepemimpinan Tanpa Jurang Zaman

Pernahkah kita mendengar iklan rokok yang berkata, ”Yang muda dipandang sebelah mata”? Ini iklan rokok, tetapi bukan rokok yang akan dibahas dalam tulisan ini, melainkan tampilan seorang muda yang tidak diterima idenya karena dianggap kurang berpengalaman. Iklan itu menunjukkan asumsi praktis bahwa orang muda dipandang sebelah mata: capek berkata-kata, tapi sama sekali tidak digubris  dan diremehkan. Asumsi itu ada benarnya sebab faktanya nyata.

Kita sering menyaksikan bahwa dalam pembicaraan masyarakat luas, orang muda jarang dilibatkan. Kepemimpinan pun kerap berfokus pada orang-orang tua (gerontokrasi). Lihat misalnya kepemimpinan di beberapa partai politik yang selama beberapa periode dipegang oleh golongan tua, tanpa orang muda. Gerontokrasi kerap terlihat di parpol-parpol atau pemerintahan. Contoh kecil pun membuktikan bahwa anak-anak sering ’diusir’ saat orang tuanya berbicara dengan tamu. Terbukti sudah bahwa kepemimpinan kita masih dikendalikan oleh orang yang tua di mana yang muda dilabelkan sebagai orang kurang pengalaman. Dan anehnya, gerontokrasi ini sudah membudaya, didukung oleh struktur-struktur masyarakat seperti adat istiadat.

Seruan serta kritik terhadap gerontokrasi pun berdatangan dari para pemikir dan pemimpin muda. Mereka menyerukan bahwa sudah saatnya yang muda memimpin. Tidak jarang secara radikal mereka melabelkan yang tua sebagai kuno, ketinggalan zaman atau jadul (jaman dulu). Orang muda yang notabenenya revolusioner membenci kekakuan dan menghendaki perubahan sesuai idealismenya. Mereka menyerukan kreativitas. Berbeda dengan budaya kita, Amerika Serikat membuktikan bahwa yang muda juga bisa memimpin dengan terpilihnya Barack Obama sebagai presiden.

Fakta historis memperlihatkan bahwa kepemimpinan muda sangat berpengaruh. Masih ingat peristiwa Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945? Yakinlah bahwa pertemuan untuk merumuskan naskah proklamasi dan persiapan proklamasi itu tidak akan bisa dilakukan tanpa kehadiran orang-orang muda. Keberanian mereka ”menculik” golongan tua seperti Soekarno dan Ahmad Soebarjo menyiratkan semangat revolusi yang progresif. Tokoh-tokoh pahlawan nasional pun tidak dapat menghilangkan daftar para pemimpin muda seperti Mongunsidi yang tewas dieksekusi pada usia 27 tahun dalam mempertahankan kemerdekaan nasional. Contoh di atas memperlihatkan kondisi yang membuat kita bertanya, ”apakah gerontokrasi perlu dipertahankan?”

Tapi sadarkah kita bahwa kondisi di atas memperlihatkan sebuah jurang? Jurang antara yang tua dan yang muda. Yang tua sebagai pemimpin suka dengan pola lama. Toh mereka juga adalah mantan orang muda yang dulu juga idealis, tetapi yang kemudian mempertahankan kekakuan setelah idealismenya berjumpa dengan pengalaman. Sementara, yang muda ingin memimpin dan mengubah kekakuan yang bagi mereka kuno itu. Ini kepemimpinan dalam jurang zaman: antara yang tua dan yang muda.

Kepemimpinan yang berfokus pada orang tua ternyata punya dampak negatif. Ini membuat semakin sedikit pemuda yang mengerti adat, generasi muda sulit berkembang, bahkan menjadi takut untuk berkreasi. Di sisi lain, kepemimpinan yang berfokus pada orang muda  pun tidak selalu baik. Ide-ide pemuda yang revolusioner bisa kebablasan sebab masih membutuhkan pengujian di dalam pengalaman nyata. Tentu kedua hal ini dilatarbelakangi pola pikir berbeda: kestatisan dan perubahan. Dalam hal ini, jembatan terhadap jurang zaman itu harus dibangun.

Masalahnya, jembatan apa yang harus dibangun dan bagaimana membangunnya? Bagaimana mungkin memperjumpakan yang idealis dengan yang realis? Bagaimana bisa mempertemukan yang statis dengan yang revolusioner? Mungkinkah?

Hal ini tidak mungkin jika kedua pola pikir bertahan dalam perjuangannya masing-masing. Tapi, ini justru sangat mungkin jika keduanya  berdialog. Dialog yang dimaksud bukan berarti harus dipahami secara verbal. Dialog yang dimaksud adalah perjumpaan kedua sisi di mana yang realis bergerak ke arah yang idealis lewat pengalaman nyata. Artinya kestatisan itu harus diuji dengan agenda orang muda.

Karena itu, peran para pemimpin tua harus diberi tekanan yang lebih besar. Mereka harus memberikan kesempatan bagi para pemimpin muda untuk membuktikan idealisme mereka. Tapi, hati-hati sebab tugas para pemimpin tua selanjutnya haruslah memperhadapkan idealisme para pemimpin muda itu dengan berbagai pengalaman nyata. Ini sebuah sintesis: melibatkan para pemuda dalam memimpin dan membimbingnya dalam pengalaman nyata. Gerontokrasi haruslah dibuang jauh-jauh karena menghalangi proses dialog ini. Dengan dialog ini, proses transfer nilai terjadi dan saling bertukar, bahkan memperhadapkan revolusi dan kestatisan dalam hubungan yang setara.

Di dalam dialog antara orang muda dan tua, nilai yang harus ditukarkan oleh orang yang tua adalah pengalaman. Hal ini berarti para pemimpin tua harus menjembatani idealisme para pemimpin muda dengan memperhadapkan idealisme para pemimpin muda dengan pengalaman-pengalaman real. Di sinilah peran pengkaderan mengambil bentuknya. Pola pengkaderan bukan berarti pemimpin muda mengambil posisi superordinasi terhadap pemimpin muda, harus setara sehingga pertukaran nilai idealisme dan pengalaman bisa terjadi dua arah. Jembatan sedemikianlah yang akan bisa mengadopsi baik pemimpin tua maupun pemimpin muda dalam kepemimpinan tanpa jurang zaman.

Akhirnya pertanyaan ini penting, ”sudah saatnyakah para orang muda memimpin?” Ya, benar dan harus. ”Masih saatnyakah yang tua memimpin?”  Ya, benar dan harus: dengan agenda pengkaderan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s