KNMTI 2011

             Konsultasi Nasional Mahasiswa Teologi Indonesia merupakan wadah pelatihan dan diskusi bagi para mahasiswa teologi dari berbagai Sekolah Tinggi Teologi di Indonesia. Sebagai wadah pelatihan, para mahasiswa utusan dibekali dengan berbagai materi yang terkait dengan tema krusial yang diangkat.

            KNMTI tahun 2011 ini diadakan di STT HKBP, Jl. Sang Nau Aluh No. 6 Pematangsiantar sebagai tuan rumah atau panitia lokal, sementara PERSETIA (Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia) tetap adalah sebagai penyelenggara. Itu diadakan pada tanggal 18-20 April 2011 yang lalu.

            STT Abdi Sabda mengutus 5 orang mahasiswa yaitu Hesron Sihombing, Jainal Maruba Situmorang dan Jonson Marpaung dari SOM Jur. Teologia, sementara Mey Waruwu dan Angelia Siregar dari PM-PAK. Secara keseluruhan jumlah peserta ada 42 orang dari berbagai STT dan Fakultas Teologi Universitas Kristen di Indonesia: ada dari Papua, Ambon, STT Bala Keselamatan Palu, INTIM Makassar, STT GKE Banjarmasin, UKDW, UKSW, STT Jakarta, LP Diakones HKBP, Sekolah Biblevrouw HKBP, STT Methodist, dll.

            Tema yang diangkat dalam KNMTI kali ini sangat menarik karena sangat krusial yaitu dari Markus 16:15 “Beritakanlah Injil kepada Segala Makhluk” dengan subtema “Mendengar Jeritan Ibu Pertiwi dari Tanah Sumatra”. Setiap materi dan exposure memang diarahkan kepada tema tersebut sehingga setiap mahasiswa disadarkan tentang keberadaan ekosistem yang kian rusak sehingga memerlukan restorasi.

            Pembukaan acara dilaksanakan pada tanggal 18 April dengan bentuk ibadah yang sangat menarik dan kreatif. Pembicara yaitu bapak Pdt. Dr. Karel Phil Erari dalam khotbahnya menyatakan bahwa kita membutuhkan hukum kasih yang ketiga – selain hukum kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu manusia – yaitu kasihilah lingkungan atau alam sekitar. Melalui hal ini, beliau mengingatkan bahwa persoalan ekologi telah menuntut kita untuk mengambil sikap nyata dalam bentuk kasih kepada lingkungan. Setelah itu, Pdt. Robert Setio, Ph.D. selaku ketua PERSETIA membuka KNMTI 2011 secara resmi.

            Para pembicara yang memberikan materi mulai dari hari pertama sampai ketiga cukup mengesankan, meskipun belum bisa dikatakan sempurna. Sebagai key-note speaker yaitu Pdt. Robert Setio yang mengungkapkan pentingnya membawa habitus (praksis) baru ke dalam pemikiran Kristiani tentang ala mini. Habitus baru ini berorientasi pada pemahaman yang teraktualisasi dalam tindakan nyata demi ekosistem.

            Sementara itu, dalam acara diskusi panel menghadirkan dua orang panelis yaitu Pdt. Dr. Karel Phil Erari (dari Papua) dan Pdt. Aren Mukti (dari STT Aletheia Malang) yang menjelaskan betapa kerusakan alam telah sangat memprihatinkan. Sebagai pintu masuk, mereka mengangkat kritik Lynn White (1967) yang mengatakan bahwa Yahudi dan Kekristenan adalah biang kerok pembenaran bagi kerusakan lingkungan dengan kesalahan penafsiran atas Kej. 1:28 “Kuasai dan taklukkanlah”. Ada banyak hal yang disoroti termasuk masalah energy, hutan dan laut yang semua kerusakan dan keterbatasannya berakar dari kerakusan dan ketamakan manusia.

            Hal yang sangat menarik adalah exposure yang dilakukan pada hari kedua dengan mengunjungi Taman Eden 100 di Lumbanjulu, tak jauh dari Parapat. Taman ini merupakan daerah konservasi alam yang ditangani oleh satu keluarga yang gigih memperjuangkan lingkungan Danau Toba yaitu Bapak Marandus Sirait sejak tahun 1998, dan mendapat hadiah Kalpataru dari Bapak Presiden SBY pada tahun 2005. Mengapa dinamakan Taman Eden? Karena menurutnya, konsep Taman Eden dalam Kitab Kejadian merupakan konsep Allah yang sempurna tentang alam ini. Mengapa 100? Karena taman ini ditanami 100 pohon buah-buahan berbeda secara bersebar. Di taman ini, kontingen dari STT Abdi Sabda membeli satu buah pohon untuk ditanam di taman itu dan satu lagi untuk dibawa pulang. Exposure dilanjutkan ke kantor Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) di Sipanganbolon dengan berbagai pelajaran berharga dari Bapak Dimpos Manalu, salah seorang aktivis LSM ini.

            Hari ketiga dilaksanakan dengan materi yang mengarah pada “Mendengar Jeritan Ibu Pertiwi dari Tanah Sumatera” oleh Ps. Toni Tantiono (dari Katolik) dan Pdt. Victor Tinambunan (dari Protestan). Dengan mengangkat subtema, mereka beranjak ke hal-hal yang real terjadi di masyarakat, merekonstruksi pemikiran Kristen yang tradisional bahkan merekomendasikan beberapa hal yang sangat penting dalam penyelamatan alam. Sungguh sangat menarik dan mengarahkan untuk diskursus lebih lanjut.

            KNMTI dilanjutkan dengan sidang peserta tentang pernyataan sikap peserta KNMTI, program-program mahasiswa PERSETIA ke depan dan pelaksanaan KNMTI tahun 2012 dan 2013 yang diarahkan oleh Michael Chandra, mahasiswa UKDW yang merupakan salah seorang pengurus PERSETIA dari kalangan mahasiswa. Kemudian secara resmi ditutup oleh Bapak Pdt. Darwin Lumbantobing di malam harinya.

            Pelaksanaan KNMTI dengan tema ekologi ini memang begitu menyadarkan para peserta tentang persoalan ekologi. Pernyataan yang menarik dalam materi-materi bagi saya adalah pernyataan Mahatma Gandhi “Bumi cukup menyediakan kebutuhan setiap orang, tetapi tidak cukup menyediakan untuk ketamakan bahkan satu orang pun”.

            KNMTI memang telah berlalu, tetapi semangat memperjuangkan keutuhan ciptaan kiranya tidak melempem. Jika ingin mengetahui hal-hal lebih lanjut tentang KNMTI 2011, akan segera diadakan diskusi hasil KNMTI oleh SOM (jika bersedia bersama PM-PAK), supaya suara KNMTI 2011 juga terngiang di telinga kita masing-masing. Soli Deo Gloria.

           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s