Konsep Teologi, Ideologi dan Kemiskinan Menurut 2 Tesalonika

 I. Pendahuluan

            Tidak dapat dipungkiri bahwa konteks kita di Indonesia adalah konteks kemiskinan. Secara langsung hal itu juga berlaku bagi orang-orang Kristen. Artinya kemiskinan tidak mempersoalkan masalah agama, suku, maupun ideologi. Sebagai negara yang berkembang, Indonesia memang sedang berjuang untuk keluar dari kemelut ini. Persoalan yang timbul adalah adanya konsep-konsep ideologis maupun ‘teologis’ yang timbul di kalangan masyarakat tentang kemiskinan, yang justru membius orang untuk diam saat kemiskinan datang melanda.

Persoalan teologis dan filosofis ternyata mendapat tempat utama dalam membangun paradigma berpikir dalam mengentaskan kemiskinan. Jika kandungan materi teologi dan filosofi bersikap pesimis terhadap harta atau membenarkan kemiskinan, dan kadang juga membenarkan proses pemiskinan, maka yang terjadi adalah kemiskinan itu akan tetap bertahta. Persoalan sedemikian harus diselesaikan: pertama-tama dari teologi kita sebagai orang Kristen. Untuk itu, penulis mempertimbangkan konteks jemaat 2 Tesalonika sebagai kasus yang baik untuk menjawab masalah kemiskinan tersebut.

II. Pembahasan

2.1. Pengantar Surat 2 Tesalonika

            Menurut pembukaan surat ini (2 Tes. 1:1) surat ini dikirim oleh Paulus kepada jemaat di kota Tesalonika. Dalam pembukaan tersebut karangan itu memperkenalkan diri sebagai “surat (kedua) kepada jemaat di Tesalonika”. Dalam 2 Tes.2:5 memang terbaca mengenai “ajaran yang kami sampaikan… secara tertulis”. Tulisan yang dimaksud agaknya 1 Tesalonika. Oleh karena 2 Tesalonika surat terpendek dalam kelompok surat Paulus itu, maka ditempatkan paling akhir.[1]

Kedua surat kepada jemaat di Tesalonika ditulis atas nama Paulus, Silwanus dan Timotius. Tapi yang menulis sesungguhnya ialah Paulus, kendati digabungkannya kedua temannya itu dengan dirinya, yang baru turut dengan dia dalam pekerjaan penginjilan di Tesalonika. Tetapi banyak keberatan terhadap 2 Tes sebagai tulisan Paulus. Dikatakan bahwa gaya bahasanya bersifat lebih formal dibandingkan surat pertama, berdasarkan ungkapan seperti ‘kami wajib’ dan ‘memang patutlah’ dalam 1:3. Tapi pandangan ini tidak berbobot karena surat ini dibacakan di tengah-tengah jemaat. Dikatakan juga eskatologi 2 Tes bertentangan dengan eskatologi 1 Tes. 1 Tes menekankan bahwa hari Tuhan akan datang seperti pencuri, tetapi 2 Tes menekankan bahwa peristiwa-peristiwa tertentu akan mendahului kedatangan hari itu (2:1 dsb).[2] Namun, keberatan-keberatan itu tampaknya tidak masuk akal, terutama jika dibandingkan dengan sikap penulis surat ini yang begitu cermat menasihati jemaat supaya berhati-hati terhadap ajaran-ajaran sesat, ditambah lagi dia memakai nama Paulus.[3] Hal ini bisa diperkuat bahwa tidak mungkin Paulus mengulang pokok yang telah dia tuliskan semula dalam surat pertamanya (2 Tes. 5:1).[4] Karena itu, sangatlah tepat mengatakan bahwa Pauluslah yang menulis surat ini. Diperkirakan, surat ini ditulis setelah perjalanan misi pertama Paulus yaitu perjalanan misinya yang kedua kira-kira tahun 50.[5]

2.2. Konteks Jemaat Tesalonika

2.2.1. Konteks Umum

Tesalonika adalah kota kedua yang penting yang Paulus kunjungi di Makedonia pada perjalanan misinya yang kedua. Dia menginggalkan Troas di Asia Kecil setelah menerima panggilan Makedonia dalam sebuah penglihatan untuk “datang dan menolong kami”. Paulus dan rombongan perjalanannya kemudian berlayar ke pulau Samotrase di mana mereka menghabiskan malam itu dan kemudian melanjutkan ke Neapolis, sebuah pelabuhan di pantai barat Makedonia. Dari sini mereka pergi ke Filipi di mana mereka menobatkan beberapa orang, dan kemudian Paulus dan rombongannya pergi ke Amfipolis dan Apollonia ke Tesalonika, di mana mereka mendirikan gereja.

Tesalonika ini terletak di pantai timur Yunani di utara provinsi Makedonia. Dibangun tahun 316 sM oleh Cassander, salah seorang jenderal Aleksander Agung. Kota ini adalah sebuah pusat kebudayaan dunia karena lokasinya yang strategis. Ketika Makedonia menjadi provinsi tahun 146 sM, Tesalonika menjadi ibukotanya.[6]

Paulus pertama sekali mengunjungi Tesalonika pada perjalanan misinya yang kedua (Kis. 16:12), tiba di kota itu pada tahun 49. Pelayanannya di sinagoge kota itu terbilang singkat, selama hanya tiga kali hari Sabat (Kis. 17:2), yang bisa berarti tiga minggu atau mungkin lima minggu, termasuk waktu sebelum dan setelah tiga hari Sabat. Walaupun pertobatan di antara orang Yahudi sangat sedikit, banyak orang Yunani yang bergabung dengannya. Mereka adalah orang yang telah menolak paganisme dan menerima satu Allah yang benar yang disembah orang Yahudi, walaupun mereka tidak menjadi proselit Yahudi.[7]

Kemajuan kota ini tentu mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat pada masa itu. Jika kotanya maju dan merupakan ibukota salah satu provinsi kekaisaran Romawi, kita bisa berpraduga bahwa kondisi ekonomi masyarakat juga maju. Dalam kasus yang lain, jelas terlihat bahwa orang-orang Kristen yang pada tahun 50-an dipandang sebagai orang Yahudi, adalah orang yang memiliki status tersendiri dalam kekaisaran Romawi.

2.2.2. Paradigma Eskatologi

Untuk mengerti bagaimana paradigma eskatologi yang tertanam pada jemaat di Tesalonika, maka perlu merujuk pada alasan mengapa Paulus menuliskan suratnya yang kedua ini.

Orang-orang yang fanatic pada eskatologi telah mengumumkan bahwa hari Tuhan telah tiba (2:2). Dari sudut penafsiran nats ini menyajikan kesulitan-kesulitan. Apakah arti enesteken he hemera tou kuriou? Makna kata-katanya cukup jelas: ‘Hari Tuhan telah tiba’ ada kini, tapi sungguh inikah arti yang sebenarnya? ‘hari Tuhan’ adalah suatu gagasan apokaliptik, pengartian itu tidak mungkin karena hari Tuhan diharapkan membawa serangkaian peristiwa kosmis, sehingga tak bisa disangsikan lagi apakah waktunya telah datang atau belum. Karena itu, nas ini terkadang ditafsirkan dengan makna bahwa hari Tuhan telah dekat, hampir tiba, tetapi bukan semua ini yang sesungguhnya dikatakannya. Kesulitan hilang bila kita  mengakui bahwa di sini diungkapkan suatu gagasan Gnostik, kalau ia seorang manusia rohani, telah bangkit dalam rohnya – melalui gnosis – dan dibebaskan dari ikatan dunia ini. Ketika penulis apokaliptis berbicara mengenai pemenuhan, ia tahu bahwa hal itu tidak akan terjadi sampai hari Tuhan, tetapi Gnostik dapat mengatakan bahwa pemenuhan itu telah tiba. Kalau penulis apokaliptis mengungkapkan keyakinan Gnostik ini dalam bahasanya sendiri, ia akan berkata: Hari Tuhan telah tiba.

Situasi jemaat pada masa itu dibingungkan oleh para fanatik eskatologis yang berasal dari Gnostik, dengan penegasan bahwa pemenuhan itu telah tiba. Terhadap pernyataan ini Paulus menyusun suatu ‘jadwal’ apokaliptis yang menguraikan peristiwa-peristiwa yang harus terjadi dulu sebelum masa Akhir tersebut, guna memperlihatkan bahwa pemenuhan itu tak mungkin sudah terjadi seperti yang dinyatakan sejumlah orang. Bahan apokaliptis yang digunakan di sini memiliki tradisi yang panjang di belakangnya. Pelajarannya ialah bahwa zaman Akhir itu belum tiba, karena ‘jadwal’ itu pertama-tama harus terpenuhi dulu.

Segi lain yang sesuai dengan bidat gnostik ialah cara hidup bermalas-malas dan tidak tertib, yang diserang dalam 3:6-16. karena itu, bidat Gnostik menjadi suatu masalah dan situasi inilah yang menyebabkan ditulisnya surat 2 Tesalonika.[8]

2.3. Paradigma Eskatologi dan Pengaruhnya Terhadap Kemiskinan

            Kesalahpahaman beberapa orang Kristen di jemaat Tesalonika (Paulus menyebutnya ‘setiap saudara’) tentang eskatologi adalah buah pemikiran gnostik, seolah-olah orang-orang Kristen tersebut telah merasa bebas karena telah memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Mereka inilah kelompok gnostik Kristen.

Akibat etis yang mungkin dari cara berpikir gnostik ini adalah muncul dari kenyataan bahwa Gnostik yang menilai diri telah disempurnakan dalam roh, tak lagi memperhatikan sarx (daging). Hal ini membawa entah kepada pertarakan atau (lebih sering, dan jelas juga terjadi dalam kesempatan ini) kepada libertinisme (sikap yang tidak mau dibatasi kebebasannya).[9]

Kesalahpahaman ini menyebabkan pemahaman yang dualis, memisahkan kehidupan rohani dengan kehidupan manusiawi, sehingga pesimis terhadap hal-hal yang sifatnya kedagingan. Dikatakan bahwa akibat pemahaman yang sedemikian, ada jemaat yang tidak mau bekerja, mereka tidak melakukan pekerjaannya dan tidak menurut ajaran yang telah diterima jemaat. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya tidak tertib dan sibuk pada hal-hal yang tidak berguna (3:11). Hal ini menyebabkan mereka makan dari hasil orang lain yang bekerja, makan makanan orang lain. Anehnya, hal daging dianggap kotor dan najis, tapi perkara makan tetap dilakukan.

Walaupun Paulus dan rombongannya telah memberikan teladan bagi jemaat bahwa mereka tidak lalai bekerja di antara jemaat, dan tidak makan roti orang dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara jemaat (ay.7-8) selama melayani di jemaat, tampaknya teladan ini tidak diindahkan oleh beberapa anggota jemaat tersebut yaitu karena kesalahpahaman memahami ajaran Paulus sewaktu kedatangannya dan terhadap surat 1 Tesalonika.

Tidak tertib hidupnya (ataktos) juga telah diingatkan Paulus dalam surat pertamanya (1 Tes. 4:9b-12; 5:14), namun diulanginya karena tampaknya peringatan yang lebih lembut di surat pertama tidak efektif dalam mengoreksi kecenderungan pada ketidateraturan jemaat. Sementara secara tegas Paulus dalam 3:10 menyatakan “jika seseornag tidak bekerja, jangan biarkan dia makan” atau “bahkan jangan biarkan dia makan”. Justru mereka sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna yaitu mengabaikan urusan mereka sendiri untuk memikirkan orang lain (terjemahan yang tepat untuk mhden ergazomenouV alla periergazomenouV).[10] Memikirkan orang lain bisa diterjemahkan sebagai mempengaruhi orang lain untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan ‘rohani’ karena sebagai kaum gnostik mereka merasa perlu untuk ‘membebaskan’ orang lain.

Tidak tertib (3:11) adalah sama dengan malas atau berperilaku sebagai seorang pemalas (loafer).[11] Mereka berfokus kepada akhir zaman sehingga sibuk dengan hal-hal ‘rohani’ yang Paulus anggap tidak berguna. Yang menjadi akibatnya adalah mereka menjadi miskin karena kemalasannya, bahkan yang lebih parah menjadi beban bagi jemaat sehingga harus makan dari makanan jemaat lain. Mereka sibuk dengan hal-hal tidak berguna tetapi merepotkan orang lain. Bagi mereka miskin tidak menjadi masalah, tetapi masalahnya mereka merepotkan jemaat lain. Berfokus pada hal-hal rohani tetapi memisahkan hidupnya dari dunia. Persoalan makan tidak dianggap sebagai pergumulan teologis.

Paulus tidak memisahkan ranah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan hal yang rohani. Dia mengintegrasikannya sebagai tanggung jawab orang Kristen dalam hidupnya, bahwa bertindak dalam kegiatan ekonomi untuk makan adalah sesuatu yang wajib. Tidak ada gunanya berfokus pada ibadah-ibadah ritualistik dan kemudian menjadi dualis, pesimis pada keberadaan harta dan dunia. Dia tidak punya apa-apa untuk dimakan, seterusnya dia hanya bisa makan dari hasil orang lain. Akibatnya, kemiskinan diri sendiri dan pemiskinan orang lain terjadi.

2.4. Penyelesaian/Solusi

SAE Nababan sebagaimana dikutip A.A. Yewangoe berkata bahwa kemiskinan berhubungan dengan iman. Bukan dalam pengertian teologi sukses bahwa orang beriman pastilah orang yang kaya, tetapi bahwa iman harus menggerakkan manusia untuk memerangi kemiskinan. Menurutnya, ada tiga pandangan umum tentang kekayaan:

  1. memandang kekayaan sebagai sesuatu yang jahat, dan nilai-nilai material sebagai hal yang bertentangan dengan nilai-nilai rohani;
  2. hidup dalam sebuah dikotomi: iman tidak mempunyai hubungan apa pun dengan hal-hal yang materi;
  3. memandang kekayaan sebagai tujuan hidup sementara kemiskinan dilihat sebagai musuh yang berbahaya.[12]

Jika dibandingkan maka jemaat Gnostik Kristen Tesalonika termasuk ke dalam kelompok yang pertama. Mereka memandang kekayaan sebagai hal yang jahat. Karena itu, mereka tidak bekerja.

Paulus tidak mengidealkan kemiskinan, apalagi kemalasan. Dia tegas menyatakan bahwa orang yang tidak mau bekerja, tidak boleh diberi makan. Hanya orang yang bekerjalah, terserah dia mendapat banyak atau sedikit, dialah yang diberi makan. Bahkan dia menyatakan bahwa orang-orang demikian harus dijauhi, supaya dia menjadi malu, tetapi tidak menganggapnya sebagai musuh. Dia harus ditegur oleh saudara-saudara yang lain (3:6, 14-15). Satu sisi Paulus mengajarkan tentang mengasihi sebagai satu tubuh, tapi dalam hal ini tampaknya kasih itu harus dimaknai sebagai tidak membiarkan orang-orang malas makan.

Kemalasan dan proses pemiskinan adalah 2 hal yang menyebabkan kemiskinan terjadi dalam 2 Tesalonika ini, sehingga bisa disimpulkan sebenarnya kemiskinan itu ada 2 jenis:

  1. Kemiskinan individual, yang disebabkan oleh ulah pribadi manusia itu.
  2. Kemiskinan structural, yang disebabkan oleh struktur yang menindas atau karena orang lain.

Solusi bagi Paulus untuk membebaskan kemiskinan adalah demikian:

  1. Untuk kemiskinan individual, latar belakang kemiskinan perlu dikorek. Jika di jemaat Tesalonika adalah karena pengaruh gnostik sehingga mereka menjadi dualis asketis karena masalah akhir zaman, maka Paulus lewat suratnya ini dalam pasal 1 dan 2 memberikan penjelasan tentang ajaran sesat perihal kedatangan Tuhan (bnd. 2:2). Dengan pemahaman sedemikian, dia hendak meluruskan masalah kesalahpahaman itu. Setelah itu, Paulus mencermati bahwa konsep yang salah ini menyebabkan mereka menjadi malas dan hanya tahu beribadah, tidak bekerja serta hidup tidak tertib. Kemalasan[13] ini berujung pada kemiskinan.
  2. Untuk kemiskinan structural, Paulus melihat bahwa jemaat yang telah dipengaruhi Gnostik ini adalah struktur yang menindas dan berperan dalam pemiskinan jemaat. Karena itu, dia meyakini bahwa pembebasan dari struktur ini harus dilaksanakan. Ajaran tentang kasih yang selama ini digembor-gemborkannya (yang mungkin diartikan oleh jemaat sebagai kewajiban bagi mereka bahwa mereka harus memberi makanan juga kepada yang tidak bekerja), diberi makna baru. Sebagai seorang saudara, maka jemaat tidak boleh memberi mereka makan, sehingga tidak lagi menjadi beban. Paulus tidak hanya berbicara banyak, tetapi dia menunjukkan teladan lewat apa yang telah dilakukannya di jemaat Tesalonika dalam penginjilannya. Kesibukan melayani dan beribadah tidak menjadi pembenaran untuk tidak bekerja. Dengan tidak memberi makan, maka akan menyadarkan para pelaku pemiskinan itu. Mereka harus ditegor, tetapi sebagai saudara.

 

III. Refleksi

Banyak orang di Indonesia dan jemaat kita sendiri yang punya konsep takdir, nrimo, pasrah pada keadaan atau ‘apa boleh buat’. Konsep ‘yang penting aku selamat, yang penting aku bisa beribadah’ adalah konsep yang membuat orang lupa untuk bekerja keras dalam hidupnya. Jarang ada orang miskin yang bekerja keras dengan bergumul karena iman. Justru banyak orang miskin menjadi kaya karena dia tidak menganggap ini sebagai sebuah pergumulan iman.

Kemiskinan di Indonesia banyak disebabkan oleh faktor ideologis sedemikian: dimensi teologis yang dipelintir untuk membenarkan kemalasan dan ketidaktertiban. Banyak kaum ayah yang lebih senang bermain judi dan bersantai-santai ria di kedai kopi, paling hanya bekerja semaunya saja, bahkan menjadi beban bagi orang lain.

Konteks jemaat Tesalonika menjadi pelajaran bahwa kemiskinan dan pemiskinan bukanlah hal yang ideal. Orang miskin karena dirinya sendiri dan karena orang lain, dua-duanya harus dibebaskan. Karena itu, konteks kemiskinan harus dijawab sebagai sebuah pergumulan teologis.

 

IV. Kesimpulan

            Teologi dan ideologi bisa mempengaruhi orang untuk menjadi miskin. Pemahaman yang benar harus diberikan untuk menanggulangi teologi dan ideology yang membius masyarakat. Orang harus berjuang untuk terlepas dari kemiskinan dan pemiskinan itu. Karena itu, pembebasan harus diberikan kepada mereka.


[1] C. Groenen, Pengantar ke Dalam Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1991, hlm.300

[2] F. F. Bruce, “Tesalonika, Surat-surat Paulus Kepada Jemaat di Tesalonika” dalam Ensiklopedi Alkitab Jilid II: M-Z, Jakarta: YKBK/OMF, 2008, hlm. 468

[3] Bnd. Ibid., hlm. 468

[4] Bnd. John Drane, Memahami Perjanjian Baru, Jakarta: BPK GM, 2006, hlm. 342

[5] F. F. Bruce, Word Biblical Commentary Vol. 45: 1&2 Thessalonians, Texas: Word Books, 1982, p. xxxiv

[6] J. P. McRay, “Thessalonica” in Dictionary of New Testament Background, Craig A. Evans, Stanley E. Porter (ed.), Illionis: IVP, 2000, pp. 1231-1232

[7] Ibid., p. 1232

[8] Willi Marxsen, Pengantar Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-GM, 2009, hlm. 32-33

[9] Ibid., hlm. 33

[10] F. F. Bruce, Word Biblical Commentary Vol. 45: 1&2 Thessalonians, Op.Cit., pp. 206-207

[11] Ernest Best, A Commentary on The First Epistles to the Thessalonians, London: Adam & Charles Black, 1979, p.334

[12] A. A. Yewangoe, Theologia Crucis di Asia, Jakarta: BPK GM, 2004, hlm. 303

[13] Menurut sejumlah tokoh termasuk SAE Nababan kemalasan adalah faktor utama penyebab kemiskinan di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s