Mahasiswa Tanpa “Maha”

Kenapa pelajar di kampus disebut sebagai mahasiswa? Kenapa tidak disebut siswa saja, sebagaimana sebutan dalam bahasa Inggrisnya student, atau siswa kampus (college student). Itu polemik. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008) sendiri, kata ”maha” berarti amat, yang teramat sangat. Pengertian itu  jelas-jelas menyiratkan suatu nilai lebih dibandingkan ”siswa”. Dan bagi saya, salah satu dari nilai lebih  itu adalah kekritisan. Mahasiswa mampu memberikan apresiasi kritis terhadap persoalan kontemporer: sesuatu yang tidak terdapat pada siswa.

Namun, fenomena di kalangan mahasiswa menunjukkan nilai kekritisan yang meluntur, bahkan nihil. Mahasiswa kehilangan ”maha”-nya. Tentu saja tanpa ”maha”-nya, mahasiswa kerap bungkam terhadap tanggung jawab meningkatkan kualitas kampus.

Mahasiswa tanpa ”maha” nyata-nyata merupakan aktor yang bisu di dalam drama kemunduran birokrasi dan manajemen kampus. Lihat saja kenyataannya. Berapa banyak mahasiswa yang berani mengkritik dosen yang jarang mengajar atau menolak membeli buku diktat mata kuliah yang diwajibkan? Atau coba sebutkan, mahasiswa mana yang berani mempertanyakan kenaikan biaya kuliah yang tidak wajar? Itu hanyalah beberapa contoh kecil yang saya temukan. Belum lagi kebisuan dan ke-nggih-an mahasiswa terhadap dosen yang meminta ”amplop” untuk mempermulus meja hijau, sebagaimana yang saya dengar di kampus lain.

Saya pernah melihat ada dosen yang menjual buku diktat mata kuliah dan mewajibkannya pada mahasiswa dengan ”persuasi”,”Hargailah hasil karya dosen”. Saat ada seorang mahasiswa yang tidak beli, justru dia digagalkan dan harus mengulang. Dan lucunya, tidak ada seorang pun yang berani angkat bicara.

Selain itu, pernah juga ada dosen yang jarang mengajar, tetapi mahasiswa disuruh menandatangani absensi. Ke-diam-an mahasiswa kembali terejawantah sebab mahasiswa menurutinya. Masih banyak contoh lain yang bisa kita saksikan.

Tentu saja, kekritisan mahasiswa sungguh menjadi kontrol yang efektif bagi para pembuat keputusan di kampus. Tanpa itu, kepentingan mahasiswa bisa diabaikan dan hampir dipastikan bahwa tidak akan ada perbaikan manajemen kampus. Penyelenggaraan kebijakan kampus bisa menjadi tidak terkontrol dan semau perut. Para dosen pun tidak akan berbenah dari kekurangannya. Alokasi dana bisa menjadi tidak efektif. Alhasil, mahasiswa jugalah yang menjadi korban ketidakbecusan proses pendidikan.

Beberapa contoh  di atas memang tidak bisa mencakup banyak fakta lain dari kebobrokan kampus dan ke-diam-an mahasiswa. Ini menyedihkan.

Menjadi kritis memang bukan pekerjaan mudah. Bagaimanapun, ke-diam-an ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara alamiah sebab mahasiswa tidaklah serta-merta menyetujui kekurangan-kekurangan di dalam birokrasi kampus. Namun, daya kritis yang terbungkam ini justru diselimuti oleh perasaan takut. Takut apa? Takut jika kritiknya  membuahkan nilai jelek sebagai respons negatif dari sang birokrat kampus. Takut jika kritiknya membuatnya dicap pembangkang. Lebih parahnya, dia bisa digagalkan dalam meja hijau atau malah dikeluarkan dari kampus.

Selain rasa takut, haruslah diakui bahwa banyak mahasiswa yang merasa bahwa kekurangan-kekurangan penyelenggaraan birokrasi kampus bukanlah tanggung jawabnya. Dia tidak peduli akan apa yang terjadi di kampus. Yang penting baginya  adalah nilai dan menimba ilmu. Orang sedemikian sungguh memprihatinkan.

Lantas apa yang harus dilakukan? Bagi saya, jiwa ”maha” ini harus dilekatkan kembali dalam diri mahasiswa. Mahasiswa harus disadarkan bahwa dirinya adalah insan intelektual yang kritis.

Membangun diskusi-diskusi peduli kampus adalah cara yang efektif dalam menganalisa persoalan kampus yang tentu saja memupuk idealisme nan kritis. Di dalam diskusi, analisa persoalan semakin dipertajam. Karena itu, peran lembaga kemahasiswaan intra maupun ekstrauniversiter adalah harga mati sebab di dalamnya kesatuan untuk bersuara bisa dijamin. Lembaga kemahasiswaan haruslah aktif dalam menampung aspirasi mahasiswa dan menyerukan perubahan dan perbaikan di kampus.

Tapi, menjadi kritis pun harus berhati-hati. Jangan sampai menghilangkan nilai-nilai kepatutan dan kesantunan. Berani mengkritik tidak berarti menjadi anarkis dan tak tahu aturan yang kemudiannya justru semakin memperparah situasi.

Nilai lebih nan ”maha” ini haruslah diwujudkan. Akan sangat menyedihkan jika mahasiswa menjadi insan intelektual tanpa ”maha”. Kita butuh  mahasiswa dengan ”maha”!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s