Mengenal Zaman Ini

Sebagai umat Tuhan, orang Kristen dituntut untuk hidup kudus (1Ptr. 1:16). Tapi, masalahnya adalah bagaimana bisa hidup kudus kalau kita hidup di tengah-tengah yang tidak kudus? Mungkinkah bertahan hidup dalam dunia yang kacau dan mengacaukan ini? Berani hidup sebagai orang percaya berarti berani untuk hidup kudus di dalam dunia ini. Tapi, jika kita tidak berwaspada, maka kecenderungan untuk terlibat dalam ketidakkudusan menjadi kepastian. Kewaspadaan ini penting. Pertama-tama, kewaspadaan ini haruslah terlihat dalam kemampuan kita untuk mengenal zaman ini. Tuhan Yesus sendiri pernah menyindir orang-orang di zamannya “Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak.” (Matius 16:3b). Sebagai pemuda kita harus tahu di zaman apa dan bagaimana kita hidup. Kita harus mengenal konteks di mana kita hidup.

Mengenal Zaman Ini

Abad XXI ditandai dengan munculnya suatu peradaban cara berpikir baru yang disebut sebagai postmodernisme. Zaman ini adalah masa pasca/sesudah modern. Pembagian zaman secara mendasar diawali dengan zaman pramodern/tradisional yang berpusat pada pengagungan tradisi dengan cara berpikir mistik. Selanjutnya, zaman modern berpusat pada pengagungan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara berpikir rasionalis. Dan kini adalah zaman postmodern yang ditandai dengan penolakan terhadap absolustisme (pemutlakan) suatu bentuk otoritas apapun, termasuk agama/tradisi dan rasio.

Yang ditentang pada zaman ini bukanlah rasio atau agama, melainkan pemutlakannya. Kebenaran hanya dipandang sebagai kebenaran lokal, bukan mutlak. Setiap hal bisa dianggap benar, tapi tidak ada yang mutlak benar. Benar hanya dalam konteks lokal tertentu.

Misalnya dalam bidang agama, Yesus hanya benar untuk kalangan Kristen saja, tapi tidak untuk manusia lain. Keselamatan dalam Yesus hanya untuk orang yang percaya kepadaNya saja. Semua agama sama dan sama-sama benar, sama-sama menyelamatkan. Banyak jalan menuju Allah. Islam, Yahudi, Hindu, Budha, politeis, agama suku, Kong Hu Cu, Taoisme, semuanya diselamatkan dengan jalannya masing-masing. Yesus hanya salah satu jalan, bukan satu-satunya jalan kepada Bapa.[1]

Dalam hal budaya, zaman ini semakin menegaskan cara hidup individualis, prinsip “loe loe, gue gue! siapa loe, siapa gue!”. Karena semuanya benar secara relatif, maka tidak boleh ada standar. Pada dasarnya ini menghasilkan kekacauan konsensus/prinsip kebersamaan. “Itu ‘kan menurutmu, menurutku ‘kan beda”. Bahayanya adalah kalau kemudian prinsip hidup Alkitabiah menjadi salah satu alternatif yang bisa dikendurkan, tidak mutlak. Wibawa firman Allah menjadi relatif, tidak mengikat.

Tatanan ini membuat bangkitnya semua unsur masa lalu yang dianggap mistik sampai kepada hal yang rasional. Semuanya bisa benar, tapi untuk penikmat yang berbeda. Hal ini menimbulkan keterbukaan informasi yang menawarkan nilai-nilai bervariasi, mulai dari hal yang paling konservatif sampai kepada hal yang paling liberal. Selain itu, hal ini juga sangat pas dengan prinsip kebebasan berbicara. Akhirnya, semua orang bisa berbicara walaupun tanpa dasar yang kuat, juga tanpa kesepakatan. Peraturan-peraturan dengan sangat mudah bisa berubah.

Selain itu, zaman ini juga dikenal sebagai zaman teknologi dan informasi. Di zaman ini, teknologi dan sistem informasi berkembang dengan pesat. Globalisasi tidak lagi hanya sebatas keterbukaan mendunia secara ekonomi, tetapi juga secara total, termasuk dalam hal budaya, politik, dan moralitas. Perkembangan iptek tidak lagi memperhatikan keramahan lingkungan. Kecepatan akses internet dan jaringan komunikasi tidak hanya berdampak positip, tapi juga negatif, seperti kemudahan mengakses situs-situs porno. Cara hidup barat semakin mengikis cara hidup kita di Indonesia. Yang trendy dan up to date dianggap segala hal yang berkaitan dengan kebaratan, mulai dari cara berpakaian, cara berpikir, sistem kerja, dlsb. Jejaring sosial seperti twitter dan facebook beserta dengan games-games yang ditawarkan digandrungi oleh banyak pemuda sebagai bentuk aktualisasi diri dengan menghabiskan waktu yang banyak.

Keterbukaan informasi di televisi menawarkan sejuta nilai positip, selain juga nilai negatip. Tayangan-tayangan penuh kekerasan, sinetron-sinetron sarat konflik keluarga dan dendam, tayangan mistik, tayangan religius yang membodoh-bodohi, malah memiliki rating yang tinggi.

Globalisasi juga melahirkan penyakit-penyakit masyarakat pascamodern ini. Iblis memakai materi sebagai alat manusia mengukur kesuksesan. Mammon/harta/uang dipuja-puja sebagai ukuran mutlak dari keberhasilan kerja. Yang lebih pintar dan memiliki justru menindas yang lebih bodoh dan miskin. Hedonisme yaitu prinsip hidup yang memusatkan kebahagiaan duniawi sebagai pusat hidup juga terjadi. Maraknya tempat-tempat hiburan malam disertai dengan penawaran pemuasan nafsu adalah pertanda bahwa produktivitas kerja, keletihan otak dan depresi disalurkan secara salah. Cara pergaulan pemuda turut dipengaruhi dengan rasionalisasi hubungan demi kenikmatan. Seks bebas dirasionalisasi dan dianggap lumrah.

Persaingan kerja yang sangat tinggi membuat pekerja dipaksa untuk sangat produktif, bahkan efektif untuk saling menyikut dan menjatuhkan. Kekerasan terjadi di belahan bumi Indonesia, termasuk kepada anak-anak. Kekerasan sering dianggap sebagai pembenaran jika cara-cara lembut tidak dihiraukan.

Semua hal yang disebutkan di atas hanyalah gambaran sepintas tentang di zaman apa kita hidup. Segala aspek kehidupan kita berada dalam posisi krisis. Krisis karena berada dalam dilema manfaat positif dan negatif. Jika kita tidak menangkap yang positifnya dan mengantisipasi yang negatifnya, di saat itulah hidup kudus tidak dapat dipertahankan.

Pertanyaan yang sangat penting adalah “MENGAPA SAYA DILAHIRKAN DI ZAMAN INI? MENGAPA TIDAK 50, 100, ATAU 500 TAHUN YANG LALU?”

Karena Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam hidup kita di zaman ini.


[1] Dalam studi teologi agama-agama, prinsip ini dikenal sebagai pluralisme agama, sebagaimana yang diperkenalkan oleh Ernst Troelscth, John Hick dan Paul F. Knitter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s