Pahlawan Dengan Tanda Jasa

Ujian Nasional (UN) yang dimulai oleh jenjang SMA/SMK sederajat, kemudian SMP dan SD telah terakhir. Minggu-minggu ini siswa disibukkan dengan pengumuman hasil perjuangan 3 tahun itu untuk tingkat SMA/SMK sederajat. Meskipun bagi sebagian kalangan, UN tak bisa dijadikan standar kelulusan karena hanya ditentukan dengan waktu beberapa hari, tetapi Kementerian Pendidikan tetap menganggap UN sebagai penentu kelulusan siswa.

Judul sederhana di atas akan dengan mudah ditebak sebagai eksplisitas dari pahlawan tanpa tanda jasa yang dikenal sebagai guru. Idealnya guru memang pahlawan tanpa tanda jasa, tapi realita bisa berbicara lain: guru, pahlawan dengan tanda jasa, bahkan harus bertanda jasa.

Guru sebenarnya ujung tombak pembaharuan bangsa. Di tangannyalah masa depan bangsa dipertaruhkan. Betapa tidak, para murid yang di bawah asuhannya adalah generasi penerus dan pembaharu bangsa. Gagal mendidik, gagal pulalah usaha memperbaiki bangsa ini. Karena itu, tak dapat disangkal bahwa guru berjasa besar. Secara ekonomi, dia bekerja tidak dengan menawarkan barang, tapi menawarkan jasa. Tapi, apakah jasanya memang harus dibayar? Haruskah kepahlawanannya dibayar dengan uang terima kasih siswa?

Ironi dunia pendidikan menunjukkan hal tersebut benar adanya. Dalam beberapa waktu terakhir ini, beberapa sekolah dan guru di sekolah tertentu telah mewajibkan kepahlawanannya dibayar dengan uang terima kasih. Sebut saja salah satu SMA negeri di Pematangsiantar. Di sekolah tersebut, sekolah mewajibkan siswa yang ingin meminta Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) untuk membayar uang administrasi sebesar Rp. 150.000. Biaya itu masih untuk sekolah. Belum lagi untuk guru wali kelas yang mewajibkan biaya paling sedikit Rp. 50.000 persiswa sebagai uang terima kasih. Kisaran biayanya bisa berjumlah Rp. 200.000 sampai Rp. 300.000 untuk menebus SKHUN. Jika tidak mampu membayar, maka tidak bisa mengambil SKHUN. Bak kata orang: ada uang, ada barang. Tak ada uang, abang melayang.

Pemberlakuan pungutan ini sungguh tidak beralasan. Sejauh pemantauan saya, di sekolah ini beberapa guru sering tidak masuk mengajar, bahkan program belajar tambahan di sore hari untuk persiapan UN bagi siswa kelas XII tidak berjalan maksimal akibat kelalaian dan kemalasan guru. Akibatnya, banyak siswa justru lebih mengandalkan bimbingan tes/bimbingan studi (BT/BS) yang marak di luar sekolah. Memang, kehadiran BT/BS yang ramai diminati 10 tahun belakangan ini ditengarai sebagai bukti kegagalan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Dengan kondisi ini, justru kemudian sekolah meminta balas jasa berupa tagihan uang administrasi dan uang terima kasih.

Berkaca dari hal tersebut, terlepas dari suatu sekolah menyelenggarakan KBM yang baik atau tidak, pemberlakuan pungutan tersebut tidak manusiawi.

Ini kondisi yang menyayat hati. Di tengah-tengah bangsa butuh perubahan, di saat itu guru yang notabene adalah pahlawan pendidikan memberlakukan pungutan-pungutan wajib di luar aturan. Saya mengatakan di luar aturan sebab kementerian pendidikan tidak pernah mengizinkan pengadaan pungutan-pungutan ini, bahkan menyatakan pengambilan SKHUN dan ijazah gratis, tanpa membayar secara wajib.

Pungutan-pungutan ini jelas membuka secara langsung pola-pola gratifikasi: memberi hadiah di luar gaji. Padahal, kalau bisa dibilang, jasa para guru sebenarnya telah dibayar oleh pemerintah. Mereka-mereka yang melakukan hal ini jelas membiakkan kerakusan dan pemerasan. Anak dipaksa berterima kasih dengan penggunaan kata-kata manis, tetapi sesungguhnya memanfaatkan penghargaan anak didik atas dirinya serta membangkitkan rasa bersalah pada siswa jika tidak memberi. Secara psikologi, sebenarnya anak dipaksa dengan menimbulkan rasa bersalah (guilty feeling) dan bahkan akan dianggap tidak tahu berterima kasih. Siapa yang mau disebut sebagai siswa tak tahu berterima kasih? Jelas tak ada. Nah, hal inilah yang memaksa siswa tak lagi mempedulikan kesalahan praktik gratifikasi dan akhirnya memuaskan kerakusan dari sang guru.

Ini jelas pragmatisme sempit. Di tengah-tengah peningkatan kesejahteraan guru yang progresif melalui program sertifikasi dan kenaikan gaji, para guru yang memberlakukan hal tersebut lebih rela mengancam anak didiknya tak mendapatkan SKHUN daripada kerakusannya tak terpuaskan. Orientasi orang-orang seperti ini pastilah telah mengarah kepada uang. Etika mereka tak lain adalah utilitarianisme, menghalalkan cara-cara yang tidak benar demi tujuan-tujuan tertentu. Atau bahkan lebih parah dari itu, cara-cara yang tidak benar demi tujuan yang salah.

Tak ayal, orang yang tidak punya uang tak akan mendapatkan SKHUN, atau juga ijazah di waktu mendatang. Atau katakanlah dia harus mengutang supaya bisa mendapatkannya. Pola demikian jelas tidak memihak pada orang miskin. Potret dunia pendidikan seperti ini pastilah membelenggu dan menindas. Ini menyiksa dan memeras. Padahal, justru pendidikan—seperti kata Gustavo Gutierrez—haruslah membebaskan.

Para guru seharusnya berjiwa patriot, sebab mereka adalah pahlawan bangsa. Seharusnya mereka tidak berpikir sempit seolah perjuangan mereka hanyalah untuk masa depan para murid. Perjuangan mereka sesungguhnya adalah bagi bangsa ini, sebab dari jasa merekalah tunas-tunas bangsa akan merajut keindahan dan keharuman negerinya.

Pemberlakuan pungutan-pungutan liar ini seharusnya tak terjadi. Peristiwa ini justru mencoreng wajah para guru. Mereka seharusnya mempertahankan predikatnya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, bukan malah merendahkan martabatnya sendiri.

Semoga, orang-orang yang terkait di dalamnya menyadari hal ini dan sedapat mungkin ditindak tegas. Pengkhianatan terhadap dunia pendidikan ini harus dihentikan. Ini sekaligus sebagai antisipasi bagi pemberlakuan hal serupa dalam pengambilan ijazah kelulusan dan tingkat pendidikan lain yang akan menjelang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s