Persepuluhan Dalam Gereja

  1. Pendahuluan

Jika kita melihat keadaan gereja saat ini, sangat sedikit jemaat-jemaat yang memberikan persepuluhannya pada gereja. Sering kali ada anggapan bahwa pemberian persepuluhan hanya merupakan untuk keperluan yang dipakai oleh pelayan-pelayan gereja. Dan banyak juga jemaat yang tidak mengetahui bagaimana hal pemberian peersepuluhan kepada Tuhan. Sehingga sangat sedikit jemaat yang memberikan persembahan persepuluhannya. Persoalan pemberian persepuluhan juga masih sangat jarang dikhotbahkan dalam gereja-gereja, khususnya dalam gereja-gereja suku. Hal ini dikarenakan bahwa masih banyaknya pandangan jemaat tentang hamba-hamba Tuhan yang hanya menginginkan uang saja, ketika berbicara tentang persembahan. Oleh karena itu, dalam seminar ini kita akan melihat bangaimana seharusnya persembahan persepuluhan di dalam gereja itu dilakukan.

2.   Isi

2.1    Pengertian Persepuluhan

Persepuluhan berasal dari kata Lathin decima, dan Yunani dekate: yang artinya “bagian kesepuluh”, atau 10 persen. Sering juga dikatakan sebagai Pajak keagamaan yang menyatakan hak Allah atas sejumlah produk bumi, bahkan binatang-binatang. Berbeda dengan pajak tahunan bait suci, persepuluhan bertujuan membantu hidup personil agama.[1] Dalam Bahasa Inggris dikatakan tithe yang artinya adalah mengambil atau memberikan sepuluh bagian dari, memberikan sepuluh bagian dari kekayaan atau penghasilan yang bertujuan untuk mendukung keimaman atau institusi atau tujuan agama yang lain, Memberikan persepuluhan adalah praktek yang sejak dulu dan tersebar luas. Acuan terhadap hal itu ditemukan juga dalam agama dan budaya lainselain dari orang Israel atau Semitis saja.[2]

2.2    Persepuluhan Dalam Perjanjian Lama

2.2.1. Konsep Persepuluhan

Kebiasaan memberi persepuluhan tidak dimulai oleh taurat Musa (Kej. 14:17-20)[3], dan ttidak khas kebiasaan Israel. Persepuluhan juga dilakukan oleh bangsa-bangsa kuno lainnya.

Dalam Imamat 27:30-32 dikatakan atas barang-barang apakah dituntut persepuluhan dari orang-orang Israel? Menurut Taurat, dari hasil “benih di tanah”, “buah pohon-pohonan” dan “lembu, sapi atau kambing domba” harus dibayar persepuluhan. Cara membayar persepuluhan ternak adalah sebagai berikut: pemilik menghitung ternaknya waktu keluar merumput dan dari tiap sepuluh ekor diberikan satu untuk Allah. Dengan cara ini, tidak mungkin memilih binatang khusus untuk membayar persepuluhan kambing domba dan lembu sapi (Im. 27:32). Jika seseorang lebih suka membayar persepuluhan hasil gandum, dan buah dalam nilai uang, maka ia boleh berbuat demikian, tetapi jumlah harus ditambah seperlima. Persepuluhan kambing domba dan lembu sapi tidak boleh ditebus dengan cara ini (Im. 27:31, 33).

Persepuluhan dibayar kepada orang Lewi (Bil. 18:21). Tetapi dalam Ibrani 7:5 dikatakan bahwa anak-anak Lewi “yang menerima jabatan imam” menerima persepuluhan itu. Penyimpangan dari Taurat itu barangkali dapat ditimpakan kepada ketidakmauan orang Lewi melaksanakan tugas mereka di Yerusalem sesudah orang Yehuda kembali dari pembuangan di bawah pimpinan Ezra (8:15). Orang Lewi berdasarkan sifat, kedudukan dan tugasnya adalah masyarakat Israel, tidak mempunyai mata pencaharian atau harta warisan untuk menjamin hidup mereka: maka untuk membalas “pekerjaan yang mereka lakukan, yaitu pekerjaan di kemah pertemuan”, mereka menerima persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel (Bil. 18:21, 24). Bil. 18 hanya menyebut persepuluhan hasil padi-padian dan buah-buahan (ay. 27). Tapi orang Lewi tidak boleh memegang seluruh persepuluhan itu, mereka juga disuruh untuk mempersembahkan persembahan khusus yang diambil dari persepuluhan yang diterima yaitu persepuluhan dari persepuluhan (Bi. 18:26). Persepuluhan dari persepuluhan ini harus “dari segala yang terbaik daripadanya” (ay. 29) dan diserahkan kepada imam-imam (ay. 28; Neh. 10:39).

Israel membawa persepuluhan itu ke “tempat yang akan dipilih Tuhan Allahmu dari segala sukumu sebagai kediaman di sana” (Ul. 12:5, 17) yaitu Yerusalem. Persembahan persepuluhan itu berbentuk makanan yang dimakan bersama orang Lewi (Ul 12:7, 12). Jika Yerusalem agak jauh, sehingga pengangkutan persepuluhan tuaian menimbulkan masalah, maka orang selalu diperbolehkan memberi persepuluhannya dalam bentuk uang (Ul. 14:22-27). Setiap tiga tahun persepuluhan dipersembahkan di tempat tinggal setiap orang (Ul. 14:28) walaupun pada kesempatan ini ia tetap naik ke Yerusalem untuk melakukan ibadah sesudah mempersembahkan persepuluhan di tempat tinggalnya sendiri (Ul. 26:12).[4]

           

2.2.2. Tujuan Pelaksanaan Persepuluhan

Pelaksanaan persepuluhan diperintahkan oleh Allah bukan tanpa alasan. Beberapa teks dalam PL menunjukkan bahwa hal ini sejalan dengan yang Yesus tekankan sebagai esensi hukum Taurat dalam Perjanjian Baru, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan (Mat. 23:23); keadilan dan kasih Allah (Luk. 11:42). Beberapa teks itu yaitu:

  1. Sebagai persembahan kudus bagi Tuhan (qodesh layhwah Im. 27:30). Sepersepuluh dari hasil tanah adalah milik/bagi Tuhan.
  2. Sebagai ucapan syukur kepada Allah, karena “dalam segala usahamu engkau diberkati oleh Tuhan, Allahmu” (Ul. 12:7).
  3. Sumber kesejahteraan bagi orang Lewi karena mereka tidak mendapatkan tanah sebagai milik pusaka untuk diusahakan. Selain itu, orang asing, anak yatim dan janda yang ada di Israel mendapatkan pemeliharaan Allah melalui persepuluhan yang dikumpulkan (Ul. 14:29). Dengan demikian, prinsip belas kasihan mendapat tempat sesuai penekanan Yesus. Persepuluhan yang dikumpulkan oleh orang Israel melalui imam dan orang Lewi menjadi bagian orang-orang kecil tersebut.[5]
  4.  Jaminan hidup untuk para pelayan di Bait Allah yang dikumpulkan di bilik-bilik perbendaharaan, bilik-bilik untuk persembahan khusus, untuk hasil pertama dan untuk persembahan persepuluhan sesuai dengan ladang setiap kota. Mereka meliputi para imam, orang-orang Lewi, para penyanyi dan para penunggu pintu gerbang (Neh. 12:44-45).

           

2.3    Persepuluhan Dalam Perjanjian Baru

2.3.1. Perkembangan Konsep Persepuluhan dalam Judaisme

Dalam kenyataannya, konsep persepuluhan sebagaimana yang terdapat di dalam PL mengalami perkembangan yang cukup signifikan bagi orang Yahudi terutama setelah mereka kembali dari pembuangan Babel. Karenanya, sangat penting menelisik perkembangannya bagi Judaisme.

Bersesuaian dengan kecenderungan untuk menganggap keseluruhan hukum sebagai ikatan/sesuatu yang mengikat, dua persepuluhan ditetapkan pada waktu kemudian. Sesuai dengan sumber Priest, persepuluhan untuk kaum Lewi dikumpulkan, dan merupakan sumber utama pendapatan mereka. Mishna menetapkan bahwa segala yang digunakan sebagai makanan, yang diolah dan tumbuh dari bumi, adalah bahan untuk persepuluhan. Ketegasan penetapan ini bisa diamati dalam perdebatan Yesus dengan orang Farisi atas kelemahan mereka dalam memaknai apa yang penting dalam kewajiban agama (Matius 23:23; Lukas 11:42).

Sebagai tambahan terhadap persepuluhan untuk kaum Lewi, persepuluhan yang kedua yaitu yang dikonsumsi oleh para pemberi persembahan juga ditetapkan, yaitu persepuluhan lembu. Bahkan persepuluhan yang ketiga yaitu persepuluhan belas kasihan, juga ditetapkan untuk pembebasan orang miskin secara tahunan.[6]

2.3.2. Terminologi Persepuluhan

Dalam bahasa Yunani kata “persepuluhan” disebut dekatoϛ dekatos. Dekatos berarti: [7]

  1. Yang kesepuluh dalam urutan (ordinal number)
  2. Sepersepuluh dari bagian sesuatu
    1. Kesepuluh (bagian)
    2. η dekatη he dekate yang khusus sepersepuluh dari sesuatu yang dipersembahkan untuk tujuan khusus, bagian kesepuluh, persepuluhan dari barang rampasan (untuk dewa-dewa dari barang rampasan perang). Hadiah dari sebuah persepuluhan yang ditentukan oleh hukum Yahudi.

Kata dekatoϛ dekatos terdapat 3 kali dalam PB (tidak termasuk pengembangan kata yaitu dekatη). Dalam Wahyu 11:13 berarti sebuah bilangan pecahan (sepersepuluh); dalam Wahyu 21:20 itu adalah bagian dari sebuah penomoran yang mempunyai 12 bagian. Arti yang khusus dari angka 10 memainkan peranan dalam Yohanes 1:39.[8]

Ketiga teks di atas secara eksplisit tidaklah menerangkan tentang makna persepuluhan sebagai bagian dari persembahan. Tetapi, makna persepuluhan sangatlah menjadi jelas dari kata itu. Persepuluhan secara etimologis berarti bilangan pecahan satu per sepuluh yang menyatakan satu bagian dari keseluruhan yang berjumlah sepuluh.

2.3.3.      Persepuluhan Menurut Yesus

Dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:42 disinggung pembayaran persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, yang melukiskan bagaimana Taurat Musa sudah diperluas oleh Talmud, dengan memerintahkan bahwa ‘dari segala sesuatu yang dimakan… dari dari segala yang tumbuh dari tanah’, harus dibayar persepuluhan.[9]

2.3.3.1. Matius 23:23

Matius 23:23 yang berbunyi “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Kata yang dipakai untuk menyatakan persepuluhan adalah avpodekatou/te apodekatoute. avpodekatou/te apodekatoute adalah kata kerja indikatif present aktif dengan subjek orang kedua jamak dari kata dasar avpodekato,w apodekato. Kata itu berarti “kamu sekalian mengumpulkan persepuluhan.”  

Teks ini berisikan kecaman Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan Farisi (Mat. 23). Jika dibandingkan dengan Maaser[10] i. I disebutkan: “setiap yang bisa dimakan, dan dipelihara, dan mendapatkan pemeliharaannya dari tanah, dapat dikenakan sebagai persepuluhan”. Sementara menurut Maaser iv. 5 disebutkan: “Rabbi Eliezer mengatakan, orang harus menjadikan benih sebagai persepuluhan dari adas manis, dan daun-daunan, serta tangkai-tangkai.” Ketiga jenis tumbuhan herba itu digunakan dalam memasak, dan kedua yang berikutnya untuk tujuan kesehatan.[11]

Dalam konteks ini, Yesus mengecam praktik persepuluhan orang Yahudi yang mengabaikan esensi dari hukum Taurat. Selain itu, orang Yahudi yang “memperbaiki” konsep Perjanjian Lama dengan menambahkan tanaman obat seperti to eduosmon kai to anηqon kai to kuminon (selasih, adas manis dan jintan). Hal ini melebihi apa yang disyaratkan dalam hukum Taurat yang meliputi “benih tanah”, “bulir gandum” dan “buah pohon-pohonan” yang merupakan hasil panen biasa, bukan tanaman obat (bnd. m. Seb. 9:1).

Kegagalan orang Farisi adalah bahwa mereka gagal (afηkate, kamu telah mengabaikan) untuk memberi tempat pada hal yang lebih penting (ta barutera, ”hal yang lebih berat”) dari hukum Taurat, yaitu thn krisin kai to eleoϛ kai thn pistin ”keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan”.

Hal-hal penting tersebut dari hukum Taurat harus dilaksanakan, menambahkan kakeina mh afienai “dan tidak mengabaikan yang lain,” yaitu praktik persepuluhan tanaman obat yang telah disebutkan. Jika orang Farisi berharap untuk memberikan persepuluhan bahkan tanaman obat yang terkecil, yang baik dan dengan baik—biarkan mereka, sepanjang mereka memberi perhatian sekaligus pada hal yang paling penting dari hukum Taurat, hal-hal yang secara langsung melahirkan kesejahteraan orang lain di sekitar mereka.[12]

2.3.3.2. Lukas 11:42

Teks ini merupakan paralel dari Matius 23:23 dengan beberapa perbedaan kata. Lukas 11:42 mengatakan, “Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Lukas sebagaimana Matius menggunakan kata avpodekatou/te apodekatoute. avpodekatou/te apodekatoute adalah kata kerja indikatif present aktif dengan subjek orang kedua jamak dari kata dasar avpodekato,w apodekato. Kata itu berarti “kamu sekalian mengumpulkan persepuluhan.”  

Lukas menginginkan ucapan celaka pertama yang dia perkenalkan di sini dipandang sebagai kesinambungan dari hal yang terjadi dalam ayat 39-41: pelaksanaan persepuluhan yang picik itu seperti mencuci bagian luar cangkir; sementara keadilan dan kasih Allah memiliki ekuivalensi dengan sedekah. Praktik persepuluhan Yahudi merupakan elaborasi dan adaptasi dari bahan PL tentang persepuluhan (Im. 27: 30-33; Bil. 18:12; Ul. 12:6-9; 14:22-29; 26:12-15; Neh. 10:37-38; 12:44; 13:5, 12; 2 Taw. 31:5-12; Mal. 3:8, 10). Bentuk Lukas ini merupakan pernyataan yang dilebih-lebihkan dari Matius: daftar persepuluhan Matius sesuai dengan yang digunakan dengan kuantitas yang kecil, tetapi berhubungan dengan persepuluhan yang dipraktikkan (bnd. m. Ma’as. 4:5 untuk tanaman obat; m. Dem. 2:1 untuk jintan; selasih yang sebenarnya tiddak ditemukan dalam sumber-sumber itu); daftar Lukas disusun secara mutlak dan mencakup inggu, yang bebas dari persepuluhan sebagai sesuatu yang tumbuh  liar daripada ditumbuhkan secara komersial (m. Seb 9:1), dan kemudian kategori menyeluruh dari “setiap tanaman yang dapat dimakan” (pan pacanon).

Lukas tetap memuat kata krisin dari sumbernya (dengan pengertian sebagaimana dalam sumbernya “kebenaran, keadilan) tetapi dia berpikir tentang ruang lingkup yang memperhatikan teks 10:27 dan memperkenalkan “kasih Allah” di tempat istilah-istilah lain yang ditemukan dalam sumbernya (eleoϛ, belas kasihan; pistin kesetiaan), yang merupakan dari lapisan etika manusia. Ini adalah kritik kedudukan hukum dalam kehidupan Kristen Yahudi.[13]

Berdasarkan teks di atas, secara tegas tidak ada pernyataan bahwa Yesus mengizinkan pelaksanaan persepuluhan. Tapi, tidak ada juga pernyataan bahwa Yesus melarang pelaksanaannya. Pada zaman Yesus upacara kurban dan persembahan yang merupakan ungkapan pertobatan dan iman PL itu merosot hanya menjadi upacara lahir tanpa diiringi hati yang menyesal, bertobat, adil dan berbelas kasihan. dalam hal ini kurban dan persembahan itu tidak ada artinya di hadapan Allah (Kej.4:5) apalagi kalau pelaku berbuat jahat (Am.4:4). Kelihatannya sistem kurban dan persembahan telah menjadi upacara lahir tanpa disertai motivasi hati yang benar dan hormat serta mendengarkan firman Tuhan (1Sam.15:22) atau tidak menjalankan kasih setia (Hos.6:6) dan keadilan (Am.5:21-24; band.Mat.23:23). Korban persembahan yang benar dilakukan dengan pertobatan dan jiwa yang hancur (Mzm.51:18-19; Mik.6:6-8).[14]

Yesus mengecam orang-orang Farisi yang terlalu mematuhi aturan persepuluhan namun kehilangan roh di baliknya, yaitu keadilan sosial dan belas kasihan. Dengan kata lain, Yesus justru ingin menunjukkan betapa tak berartinya persepuluhan dibandingkan solidaritas sosial di baliknya. Jadi, Yesus memang tidak menolak persepuluhan, namun Ia juga tidak menganjurkannya. Yang dilakukan Yesus adalah mengajarkan bahwa penatalayanan kristiani bukan didasarkan pada praktik persepuluhan, namun pada “keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.”[15] Bahkan, dalam Lukas 18: 12, Yesus mengecam sikap seorang Yahudi yang membanggakan upacara lahiriahnya, termasuk memberi sepersepuluh dari segala penghasilannya. Hal ini dikecam Yesus karena sikap tinggi hatinya. Justru, seorang pemungut cukai yang disebutkan berdosa dan karena itu dalam pandangan Yahudi bukanlah orang yang membayar persepuluhan adalah orang yang dianggap benar oleh Allah, karena datang dengan kerendahan hati.

Dalam Perjanjian Baru Yesus dan para Rasul tidak mengajarkannya dan PB tidak lagi berbicara mengenai ‘Israel secara lahir’ melainkan Israel rohani. Demikian juga ibadat lahir dengan ‘kurban dan persembahan’ yang berpusat sekitar ‘Taurat dan Bait Allah’ dan dipimpin oleh ‘para Imam’ telah digantikan dalam PB. Dalam PB ibadat tidak berkisar Taurat dan Bait Allah, sekalipun pada awal pelayanan umat Kristen masih ada yang hadir di bait Allah, ritus kurban dan persembahan sudah digantikan oleh ‘darah Yesus sendiri’ itulah sebabnya dalam PB juga tidak lagi ada jabatan Imam, dengan demikian sistem persepuluhan yang dikaitkan dengan rumah perbendaharaan di Bait Allah juga sudah digantikan dengan ‘Injil kasih’ (ritus basuhan, sunat, dan sabat juga tidak lagi diajarkan dalam PB).[16]

2.4    Persepuluhan Dalam Gereja

Dalam teks-teks PB selain Injil, tidak ada teks yang mengangkat tentang persepuluhan dalam kehidupan gereja selain surat Ibrani. Itu pun dalam surat Ibrani, hanya mengaitkannya pada keimaman Melkisedek. Paulus tidak mengajarkan persepuluhan. Beberapa kali dalam semua suratnya, dia tidak pernah menyebutkan, apalagi menganjurkan pelaksanaan persepuluhan. Semua teks tentang persembahan yang dituliskannya, dia sama sekali tidak menggubris perihal persepuluhan. Karena itu, dalam jemaat Paulus tidak dikenal adanya persembahan dalam bentuk persepuluhan.

Hal ini bisa dimengerti secara baik terutama ketika menyadari bahwa jemaat Paulus adalah jemaat yang kebanyakan bukan orang Yahudi. Tapi, tidak dapat disangkal bahwa apa yang Paulus tampilkan dalam surat-suratnya terutama dalam Roma dan Galatia bersangkut paut dengan kehidupan keyahudian. Anehnya, konsep persepuluhan juga tidak disinggung.

Tentang surat Ibrani, terutama Ibrani 7 memang berbicara tentang banyak hal terkait konsep-konsep Yahudi. Penulis surat Ibrani sangat yakin bahwa tidak ada artinya orang Kristen mengikuti tuntutan-tuntutan keagamaan dari hukum Taurat. Pemberitaan Yesus adalah sabda Allah yang terakhir bagi manusia.[17] Yesus telah dianggap sebagai “Imam Besar Agung” yang telah menjadi “pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr. 4:14-5:10).[18] Korban-korban yang dipersembahkan oleh imam-imam PL harus diulangi, sebab hanya dapat menanggung kesalahan masa lampau. Tetapi korban Yesus (diri-Nya sendiri) pada kayu salib mempunyai hasil yang jauh lebih menyeluruh.[19]

Persepuluhan justru dalam hal surat ini berkaitan dengan kebesaran Melkisedek. Keimaman Kristus adalah suatu pengembalian kepada sebuah jabatan asli yang leebih tua dar keimaman Lewi. Melkisedek berasal dari luar Israel; dia menghadirkan sebuah jabatan asli yang Allah berikan sebelum Lewi lahir. Karena itu, keimaman Kristus ‘setelah jabatan Melkisedek’ berarti restorasi/pemulihan dari jabatan yang asli. Melkisedek besar, bahkan lebih besar daripada Abraham, karena dia memberinya persepuluhan, sepersepuluh bagian dari jarahan yang diambilnya dengan mengalahkan empat raja.[20] Karena itu, persepuluhan dalam surat Ibrani tidak berarti bahwa persepuluhan dianjurkan, tetapi hanya untuk menunjukkan—sesuai tradisi PL—bahwa Melkisedek lebih besar daripada Abraham. Justru yang ingin dikatakan dalam teks ini adalah perihal restorasi keimaman Yesus ditarik dari Melkisedek.

Dalam surat-surat Paulus bisa kita temukan banyak teks tentang persembahan. Jika konsep persepuluhan sama sekali tidak dianjurkan di dalam surat-surat PB, maka kita bisa menemukan konsep persembahan lain yang dianjurkan. Misalnya Roma 12:1 yang mendorong persembahan diri/tubuh (soma) sebagai ibadah. Artinya keseluruhan hidup, bukan 10% saja.

Dalam perspektif itulah, maka persembahan dikelola atau ditatalayani seluruhnya untuk kemuliaan Allah.  Amat menarik bahwa Paulus kemudian memberi petunjuk jelas mengenai makna persembahan seluruh hidup itu. Dalam 2 Korintus 8:1-15 ia menganjurkan jemaat Korintus untuk memberikan persembahan khusus kepada jemaat di Yerusalem. Ia menyebutnya sebagai “pelayanan kasih,” karena memang landasan utamanya adalah kasih (2Kor. 8:6, 7, 19-20, 9:12). Prinsipnya, persembahan kasih yang diberikan kepada sesama itu adalah cerminan dari persembahan hidup kita untuk Allah sendiri.

Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. (2 Kor. 8:19)

Pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. (2Kor. 9:12).

Di atas itu semua, persembahan persepuluhan yang disikapi secara legalistis ternyata berlawanan dengan prinsip penatalayanan Kristen. Hidup ini harus ditata sebagai sebentuk pelayanan kepada Allah yang diwujudkan menjadi karya bagi sesama. Dengan demikian, penatalayanan memiliki roh yang sama dengan prinsip di balik persepuluhan di dalam Perjanjian Lama.[21]

3. Kesimpulan

    1. Persepuluhan sudah terjadi sejak sebelum lahirnya bangsa Israel, bahkan sudah ada di luar Israel.
    2. Konsep ini lahir sebagai wujud kepedulian dan kasih Allah atas para pelayan-Nya, orang miskin, janda, yatim piatu dan orang asing.
    3. Sikap legalisme orang Yahudi pada zaman Yesus membuat-Nya mengecam pelaksanaan itu karena kehilangan esensi kasih  Allah.
    4. Yesus  dan para murid sama sekali tidak menganjurkan, tapi juga tidak melarang praktik persepuluhan asalkan dilaksanakan dengan tidak kehilangan makna utama yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan.
    5. Karena tidak dianjurkan, persepuluhan sebagai persembahan mengambil bentuk lain di dalam pelayanan kasih dan persembahan keseluruhan hidup.


[1] Xavier Leon dan Dufor, Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1995,  455

[2] H. H Guthrie, Jr., Tithein The Interpreter’s Dictionary of The Bible, George Arthur Buttrick, et. al. (ed.), Nashville: Abingdon Press, 1962, 654

[3] Dalam teks ini, diceritakan bahwa Abraham memberi persepuluhan kepada Melkisedek Raja Salem dari hasil jarahannya.

[4] J. G. S. S. Thomson, “Persepuluhan” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, Jakarta: YKBK/OMF, 1996, 252

[5] Pada zaman Maleakhi, persepuluhan ditegaskan kembali. Kitab Maleakhi ditujukan pada umat Israel (1:1; 3:6) yang telah mencemarkan korban dan para imam menghina Tuhan, itulah sebabnya Tuhan tidak senang dalam menerima persembahan mereka (1:10). Fasal-2 menunjukkan murka Tuhan kepada para imam yang nota bena menerima korban dan persembahan termasuk persepuluhan, sebab sekalipun tugas mereka menjadi perantara firman Tuhan ternyata mereka menyimpang (2:7-8). Kitab Maleakhi juga menyalahkan umat Israel karena kawin campur dengan bangsa lain, jadi sifatnya ibadat lahir (2:10-16) dan mereka akan dihukum, namun tujuan Tuhan adalah untuk menyucikan umat Israel lahiriah agar mereka menjadi orang-orang yang tidak menyalah gunakan kurban dan persembahan melainkan melayani Tuhan. Kita melihat antara lain penyalahgunaan persepuluhan oleh para imam sehingga para orang upahan, janda dan yatim piatu, dan orang asing menjadi tertindas, padahal maksud persepuluhan antara lain adalah untuk memberi mereka kesejahteraan. Karena itulah pasal 3 mengingatkan kembali mereka agar persepuluhan tidak disalahgunakan, karena itu berarti menipu dan mencuri milik Tuhan, melainkan mengumpulkannya dalam rumah perbendaharaan (3:10), dan bila itu terjadi maka berkat Tuhan akan dikucurkan kembali kepada umat Israel.

[6] H. H Guthrie, Jr., Op.Cit., 655

[7] William F. Arndt and F. Wilbur Gingrich, A Greek English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, Chicago: The University of Chicago Press, 1960, 174

[8] A. J. Hess, “deka” in Exegetical Dictionary of the New Testament Volume I, Horst Balz, Gerhard Schneider (ed.), Grand Rapids: Eerdmans, 1994, 284

[9] J. G. S. S. Thomson, Op.Cit., 252

[10] Merupakan bagian dari Mishna yang merupakan tafsiran dari Thorah yang disebut sebagai ma’aser rishon (מעשר ראשון) atau persepuluhan yang pertama.

[11] Willoughby C. Allen, International Critical Commentary: Matthew, Edinburgh: T. & T. Clark Ltd., 1977, 247

[12] Donald A. Hagner, Word Biblical Commentary: Matthew 14-28, Bruce M. Metzger, et. al. (ed.), Nasvhille: Thomas Nelson Publishers, 1995, 670

[13] John Nolland, Word Biblical Commentary: Luke, Nashville: Thomas Nelson Publisher, 1997, 665

[14] Herlianto, “Persepuluhan” dalam http://sabda.org/artikel/persepuluhan, akses tanggal 1 September 2011

[15] Joas Adiprasetya, “Teks-teks Persepuluhan” dalam http://gkipi.org/persepuluhan-kewajiban-atau-disiplin-rohani/, akses tanggal 1 september

[16] Herlianto, “Persepuluhan” dalam http://sabda.org/artikel/persepuluhan, akses tanggal 1 September 2011

[17] John Drane, Memahami Perjanjian Baru, Jakarta: BPK GM, 2009, 474

[18] Ibid., 474

[19] Ibid., 475

[20] V. C. Pfitzner, Chircho Commentary Series: Hebrews, Adelaide: Lutheran Publishing House, 1979, 107

[21] Joas Adiprasetya, “Teks-teks Persepuluhan” dalam http://gkipi.org/persepuluhan-kewajiban-atau-disiplin-rohani/, akses tanggal 1 september

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s