Roh Kudus dan Spiritualitas Menurut James D. G. Dunn

 I. Pendahuluan

James D. G. Dunn adalah seorang profesor teologi di Universitas Durham. Sebagai seorang profesor, uraiannya tentang persoalan teologi terutama bidang Perjanjian Baru tidak diragukan lagi. Karya-karyanya seperti Unity and Diversity in the New Testament dan The Theology of Paul the Apostle menjadi textbook selama bertahun-tahun di sekolah-sekolah teologi dari puluhan buku lain yang ditulis maupun dieditnya. Bersama-sama dengan E. P. Sanders dan N. T. Wright, dia bergabung dalam New Perspective on Paul (NPP). Pendidikan doctoral dan postdoctoralnya ditempuhnya di Cambridge University.

Dunn sendiri mempunyai tulisan-tulisan yang tajam terkait pemahamannya terhadap Perjanjian Baru, terutama kehidupan Yesus dan Paulus. Penulis berusaha mengangkat salah satu pemahamannya tentang Roh dan spiritualitas dalam paper ini. Dia mengakui bahwa tema Roh Kudus disikapi berbeda oleh golongan-golongan Kristiani. Sikap para teolog liberal klasik memperlakukan Roh Kudus sebagai objek analisa literer, refleksi teologis bahkan kontrol gerejawi. Sementara perkembangan karismatik memastikan gelombang minat yang baru terhadap Roh Kudus. Penulis mengakui keterbatasan yang besar dalam mengangkat tema ini terkait pustaka dan waktu yang terbatas dan sempit untuk menelitinya, sehingga penulis hanya memakai dua buku yang telah penulis sebutkan di atas.

 

II. Roh Kudus dan Spiritualitas

Roh Kudus

Siapa Roh Kudus?

Bagi Dunn, Roh Kudus merupakan Roh antusiasme. Bentuk Kekristenan mula-mula pun kelihatannya tidak lain adalah sebuah sekte yang antusiastik.

Paulus sendiri menyadari bahwa penganugerahan Roh Kudus sangat fundamental. Dengan kehadiran Roh Kudus, zaman baru yang dinanti (Yoel 2:28-29) telah dimulai (1 Kor. 12:13). Ini memberi orang Kristen korelasi eksperiental dengan iman mereka akan Yesus yang dibangkitkan dan Tuhan, yang keduanya meneguhkan pengalaman tentang eskatologi dan memberi kuasa yang luar biasa bagi Injil Paskah dan Pentakosta. Roh Kudus yang dicurahkan bagi “semua orang” (Kis. 2:17) adalah Roh eskatologis.

Bagi Lukas, penekanan pekerjaan Roh Kudus terdapat dalam maksud antusias dalam pengalaman rohani, di mana yang ilahi menjadi nyata. Roh Kudus paling jelas dilihat dalam fenomena luar biasa dan superalami. Roh Kudus adalah kuasa yang datang dengan suara seperti angin yang kencang dan lidah api yang bisa dilihat (2:3), kuasa yang secara jelas termanifestasi dalam glossolalia (2:4; 10:46; 19:6), kuasa yang mempengaruhi penerimanya. Kuasa Roh Kudus pertama mengambil seseorang dalam pengalaman ekstase. Itu sebabnya dia menggunakan bahasa dramatis untuk menggambarkan kedatangan Roh Kudus – ‘dibaptis ke dalam’ (1:5; 11:16), ‘datang atas’ (1:8; 19:6), ‘dicurahkan’ (2:17, 33; 10:45), ‘turun atas’ (8:16; 10:44; 11:15). Itu sebabnya juga pertanyaan dalam 19:2 ditanyakan – ‘Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?’ – karena kedatangan Roh Kudus akan nyata dan terang. Ucapan yang diinspirasi dalam komunitas Kristen oleh Roh Kudus tidak dipertanyakan karena itu sikap antusiasme. Pemahaman Lukas menurut Dunn tentang Roh Kudus adalah antusias. Lukas adalah salah seorang dari orang percaya yang baginya pengalaman rohani harus terlihat, nyata, mampu untuk bertindak sebagai bukti bagi yang lain.

Selain itu, bagi Dunn Roh Kudus yang hadir kini adalah kehadiran Yesus Kristus. Roh Kudus diartikan sebagai “Parakletos yang lain” atau Penghibur (14:16), sehingga Yesus memahami diri-Nya sebagai Parakletos yang pertama (bnd. 1 Yoh. 2:1) dan implikasi yang terdapat dalam Yoh. 14:15-26 tentang kedatangan Roh Kudus memenuhi janji Yesus untuk datang kemudian dan tinggal dalam diri para murid (bnd. 7:38; 15:26; 19:30; 20:22). Karenanya Roh Kudus adalah kehadiran Yesus Kristus.

1 Petrus menekankan ‘Roh kemuliaan (dan kuasa) pastilah kebanyakan hadir (bukan dalam karya yang besar dan ungkapan ekstase) ketika orang percaya menderita dalam nama Kristus, yang disebut ‘berbagi penderitaan Kristus’ (1 Petrus 4:13). Yudas – seperti Paulus – memperingatkan adanya elitis spiritualitas, tetapi menyebut doa “dalam Roh Kudus” (ay. 19-20; bnd. 1 Kor. 14:15-17; Ef. 6:18). Ibrani sendiri mengarah pada mujizat dan karunia Roh dari misi mula-mula sebagai bukti persetujuan Allah (Ibr. 2:3-4) dan memperingatkan orang yang menduga dengan pengalaman Roh Kudus telah mampu mencapai ‘tanah perjanjian’ sehingga tak dapat mendapatkannya (3:7-4:13; 6:4-8; 10:26-31; bnd. Rm. 8:13; 1 Kor. 10:1-12). Akhirnya, dalam Wahyu, di mana Roh kebanyakan dialami secara jelas dalam penglihatan dan ekstase (Why. 1:10; 4:2; 17:3; 21:10), kita menemukan penekanan bahwa Roh adalah Roh Yesus (3:1; 5:6), sehingga kata-katanya (yang diinspirasi) adalah kata-kata Yesus (2-3), sehingga nubuat harus sesuai dengan kesaksian Yesus (19:10).

 

Karya Roh Kudus

Roh Kudus bagi Dunn adalah Roh antusiasme. Antusiasme ini sebenarnya tampak dalam tiga hal yaitu pengalaman akan penglihatan dan ekstase, mujizat dan inspirasi. Di dalam ketiga hal ini, Roh Kudus bekerja di tengah-tengah kekristenan mula-mula.

  1. Visi dan ekstase

Tampaknya Yesus setelah kebangkitan harus digolongkan sebagai bentuk pengalaman penglihatan. Pemahaman Paulus tentang tubuh kebangkitan (‘rohani’ bukan ‘alami’) pastinya mengimplikasikan bahwa dia memahami bentuk Yesus yang bangkit ini berbeda dari keberadaan fisik (1 Kor. 15:42-50), sehingga ini adalah penglihatan (bnd. Gal. 1:16 – “menyatakan Anak-Nya di dalam aku”). Memang beginilah Paulus menggambarkan bagian pertobatannya (Kis. 26:19 – ‘penglihatan sorgawi).

Pengalaman komunal besar pertama tentang Roh Kudus pada saat Pentakosta, yang digambarkan oleh Lukas dalam Kis. 2, harus dipahami sebagai pengalaman ekstase yang paling sedikit mencakup unsur pengujian (suara seperti angin kencang), penglihatan (lidah api) dan khotbah otomatis (glossolalia). Pemahaman hal ini sebagai sebuah pengalaman dengan Roh (dan agaknya bukan hanya oleh Lukas) memberitahu kita sesuatu bahwa pengalaman sedemikian penting dalam tahun-tahun pertama sekte baru ini dan juga karakter yang dihubungkan dengan Roh Kudus oleh orang Kristen pertama yaitu Roh antusiasme. Hal ini dihasilkan oleh pentingnya pengalaman ekstase yang lain yang secara khusus dihubungkan pada Roh Kudus (Kis. 4:31; 8:17; 10:44; 19:6).

Bahwa penglihatan-penglihatan sering dialami dalam komunitas orang Kristen pertama adalah kesaksian yang jelas dari Kisah Para Rasul, dan diteguhkan oleh kesaksian Paulus dalam 2 Kor. 12:1,7. Penglihatan dialami oleh semua tokoh kunci dalam perkembangan sekte yang baru ini yaitu oleh Petrus, Stefanus, Filipus, Ananias dan Paulus. Tidak hanya itu, tetapi paling sedikit menurut Lukas, penglihatan-penglihatan ini memainkan peran signifikan dalam mengarahkan arah misi mula-mula (khususnya 9:10; 10:3-6, 10-16; 16:9; 18:9; 22:17). Dua di antaranya secara eksplisit digambarkan sebagai “ekstase” (10:10; 11:5; 22:17). Di mana keputusan penting ditentukan oleh penglihatan, antusiasmenya murni dan sederhana.

  1. Mujizat

Tidak diragukan lagi bahwa perjalanan kekristenan pertama ditandai oleh banyak kejadian luar biasa dan juga mujizat. Catatan Kisah Para Rasul cukup diteguhkan oleh kesaksian Paulus (Rm. 15:19; 1 Kor. 12:10, 28; Gal. 3:5). Ini mencakup penyembuhan orang pincang, buta dan lumpuh (Kis. 3:1-10; 8:7; 9:18, 33; dll.), dan cerita Petrus membangkitkan Tabita dari kematian (9:36-41; bnd. 20:9-12). Patut dicatat juga pernyataan kesembuhan melalui bayangan Petrus (5:15) dan melalui sapu tangan dan kain yang disentuh oleh Paulus (19:11), dan “mujizat penghakiman” dalam 5:1-11 (kematian Ananias dan Safira) dan 13:8-11 (kebutaan Elimas). Hal-hal tersebut adalah pernyataan antusiasme – dimana Roh telah begitu ditinggikan.

 

  1. Inspirasi

Pengalaman khotbah yang diinspirasi juga sering dalam kekristenan mula-mula. Paulus tentu ingin semua pembaca Korintus mengalami nubuat (1 Kor. 14:5) dan mengingatkan jemaat Tesalonika untuk tidak memadamkan Roh nubuat (1 Tes. 5:19). Memang tampak dalam Lukas bahwa pengalaman ucapan yang diinspirasi tersebar luas di antara orang percaya pertama sehingga mereka percaya bahwa nubuat Yoel telah benar-benar dipenuhi – semua adalah nabi, muda dan tua, orang tua dan anak-anak, para guru dan hamba (Kis. 2:17). Roh dialami saat memberi kata-kata untuk diucapkan, kata-kata pujian, kata-kata kesaksian (Kis. 2:4; 4:8, 31; 5:32; 6:3, 5, 10; dll). Mereka merasakan diri mereka berada di bawah arah ilahi yang tiba-tiba dan tidak disangkal (5:3, 9; 8:29, 39; 9:31; 10:19; 13:2, 4, dll). Mereka bertindak dan berbicara dengan kuat, dengan otoritas, percaya bahwa mereka melakukannya ‘dalam nama Yesus’, sebagai perwakilan Kristus yang bangkit dan sebagai duta-Nya yang berkuasa penuh (2:38; 3:6, 16; 4:10, 13, 29-31; 5:28, 40; dll). Ini adalah komunitas yang secara luas tergantung pada pengalaman sedemikian untuk makanan rohaninya dan makna arahnya. Inilah komunitas yang antusias.

 

            Walaupun Roh Kudus bekerja dalam ketiga hal tersebut, Dunn menyatakan bahwa apa yang menjadi “sakit kepala” Paulus  juga karena hal antusiasme ini – secara khusus di Korintus. Ketergantungan pada pengalaman rohani membuat pengalaman tertentu dapat diidealkan. Hal ini bisa menimbulkan faksionalisme esoteris dan elitis yang destruktif bagi semua komunitas dan persekutuan. Dari 1 Kor. 1:18-4:21 terdapat bukti bahwa beberapa orang Kristen Korintus berpikir bahwa mereka adalah orang “rohani” (pneumatikoi); mereka telah mencapai tingkat spiritualitas yang lebih tinggi, mereka mengetahui hikmat yang lebih tinggi. Ini semacam elitisme rohani. Mereka berusaha untuk beroleh karunia Roh, sehingga menempatkan diri mereka di luar pengalaman nubuat, ibadah mereka dicirikan dengan kebingungan dan ketidakteraturan (14:23, 33, 40). Ini adalah antusiasme yang tak terkendali.

Untungnya Paulus mencakupkan teologi praktisnya pada beberapa “ujian” terhadap fenomena sedemikian. Ujian terhadap fenomena itu tentu adalah uji kritis dengan menekankan Kristus dan mengingat karakter Kristus sebagai norma yang fundamental yang olehnya semua klaim terhadap pengalaman dengan Roh harus diukur.

 

Spiritualitas

Dunn tidak menjelaskan pengertian yang jelas dan rinci terhadap kata “spiritualitas”. Namun, pemaparannya menunjukkan bahwa Roh Kudus berpengaruh terhadap spiritualitas. Karena itu, apa yang kekristenan pahami sebagai spiritualitas pada masa kini adalah perihal keadaan rohani yaitu sejauh mana roh manusia dibimbing oleh Roh ilahi.

Dunn menyadari bahwa penerimaan Roh Kudus adalah unsur yang menentukan dalam pertobatan dan bahwa kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan adalah ciri kehidupan yang paling pasti yang diakui oleh Allah. Roh Kudus yang telah diterima orang Kristen berdiri di pusat spiritualitas mereka; memiliki Roh Kudus membuat mereka “spiritual” (1 Kor. 2:11-14). Spiritualitas itu karenanya dikerjakan oleh Roh Kudus.

Masuknya manusia ke dalam pengalaman akan zaman baru di mana Roh Kudus hadir membuat mereka kini harus menanti dengan pengharapan dalam Roh, harus berjalan oleh Roh, melahirkan buah Roh dan menabur bagi Roh. Roh Kudus diterima dan dialami sebagai kuasa yang membebaskan, memotivasi dan memampukan.

Orang Kristen Roma didorong untuk menganggap diri mereka sebagai orang yang “berjalan menurut Roh Kudus” (Rm. 8:4-6). Sesuai Roma 8:9, orang yang menerima Roh Kuduslah yang menjadi Kristen (milik Kristus). Kehidupan rohani yang diperbaharui dalam diri orang Kristen adalah efek langsung dari Roh yang memberi hidup, juga kini Roh yang berdiam di dalam diri.

Pengalaman orang Kristen sendiri adalah pengalaman yang dimengerti sebagai pengalaman dengan Roh Kudus yaitu semua hal yang telah mereka alami ketika mereka pertama sekali percaya. Status Kristen dapat dikenal dari fakta bahwa Kristus (Roh) terbukti mengontrol kehidupan mereka.

Sebagai pengalaman, salah satu aspeknya adalah fenomena ekstase (1 Kor. 1:5-7) “diperkaya di dalamnya dengan semua kata dan pengetahuan… sehingga kamu tidak kekurangan karunia (terj. bebas)”. Ini berarti bahwa spiritualitas ekstase merupakan suatu karakteristik dari semula. Permulaan kekristenan bagi orang Galatia disebut Paulus “kehadiran Roh” yang datang bersama “karya mujizat” (Gal. 3:5).

Ada juga catatan tentang pemenuhan intelektual (2 Kor. 3:12-16). Roh Kudus dihubungkan dengan wahyu dan pengetahuan (1 Kor. 12:12; 1 Kor. 14:14-15). Pengaruh Roh Kudus tampak juga dalam moral (1 Kor. 6:9-11). Inilah yang disebut Paulus “mematikan pekerjaan-pekerjaan tubuh oleh Roh” (Rm. 8:13).

“Buah Roh” (Gal. 5:22-23) dan pengagungan kasih adalah sebagai nilai tertinggi dari spiritualitas (1 Kor. 13). Roh Kudus sebagai Roh yang dialami begitu fundamental bagi spiritualitas Paulus dan gereja.

Secara rinci, Roh Kudus membawa hal-hal ini bagi spiritualitas manusia:

  1. Kebebasan (Rm. 8:2; 2 Kor. 3:17; Gal. 1:6; 3:3; 4:28-31; 5:13; 5:16-18, 25; Rm. 8:21-23).

“Hukum Roh kehidupan dalam Kristus Yesus telah membebaskanmu dari hukum dosa dan maut” (Rm. 8:2). Paulus menambahkan gambarannya tentang pertobatan dengan catatan penjelasan “dimana Roh Tuhan berada, di situ ada kebebasan” (2 Kor. 3:17). Roh Kudus dialami sebagai suatu kuasa yang membebaskan. Bagaimanapun Paulus yang adalah orang Farisi telah mengalami perenungannya terhadap Thorah dan halakhah tradisional, lalu Paulus yang telah bertobat itu mengalami imannya yang baru yang membebaskan dan mengarahkan makna pembebasan yang berkuasa ini secara langsung pada Roh.

Hal sama pada Galatia. Bagi Paulus, pengalaman dengan Roh Kudus secara jelas adalah antithesis yang membebaskan dari perbudakan (oleh hukum) yang para petobat (baca: orang percaya) tampaknya dambakan. Karena itulah Paulus jarang percaya apa yang sedang terjadi di Galatia (Gal. 1:6; 3:3). Mereka yang “diperanakkan menurut Roh” bebas (4:28-31). Mereka seharusnya tidak menyerahkan kebebasan itu baik pada hukum (5:1) atau dalam kehidupan yang tidak bertanggung jawab (5:13). Hanya sebuah gaya hidup yang dibisiki Roh dan yang dimampukanlah yang dapat melawan dorongan untuk memuaskan keinginan daging (5:15-18, 25) dan karena itu memelihara kebebasan itu. Di sisi lain secara sederhana kita dapat mencatat bahwa Paulus juga mempertimbangkan klimaks karya penyelamatan Roh dalam ciptaan, tetapi juga impikasinya dalam tubuh manusia, sebagaimana suatu pembebasan (Roma 8:21-23).

 

  1. Sikap Kristen (Rm. 8:4-6, 13-14)

Bagi Paulus perilaku Kristen adalah hasil karya Roh Kudus (Rm. 8:4-6, 13-14). Paulus tidak ragu untuk menyatakan apa yang kita bisa sebut karakter karismatis dari kehidupan sehari-hari orang Kristen. Sikap orang Kristen bukan hanya berjalan bersama dengan Roh, tetapi juga dipimpin oleh Roh.

  1. Keanakan/adopsi (Rm. 8:15; Gal. 4:5-6)

Ini adalah konsekuensi lain dari penerimaan Roh Kudus. Dalam Roma 8:15 dia bahkan menggambarkan Roh Kudus sebagai “Roh adopsi” (dalam Alkitab TB: Roh yang menjadikan anak Allah). Bagi Paulus, Roh Kuduslah yang mengakibatkan pertalian itu karena Roh adalah kuasa Allah yang menjangkau, menciptakan hidup dalam ciptaan dan masyarakat. Keanakan ini berbagi dengan Kristus. Sementara itu, karakter eksistensial keanakan ini adalah karakter yang dipolakan atas keanakan Kristus dan berbagi dengan Kristus, ditandai paling sedikit dengan doa yang diilhami Roh Kudus “Abba! Bapa!”.

  1. Kerinduan spiritual dan harapan (Rm. 8:23; 2 Kor. 5:2; Gal. 5:5; Rm. 8:24-25)

Roma 8:23 “… kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita” (TB). Gal. 5:5 “Sebab oleh Roh, dank arena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan” (TB). Berhubungan dengannya yaitu pengalaman tentang pengharapan. Dalam Roma 8:24-25 paulus mengungkapkan kerinduan sebagai suatu pengalaman pengharapan.

  1. Doa (Rm. 8:26-27)

Melalui Rm. 8:26-27 pneumatologi Paulus tampak mengherankan: Roh Kudus dialami bukan dalam kuasa, tetapi dalam kelemahan; Roh dialami bukan dalam kepandaian berbicara, tetapi melalui “keluhan yang tidak terucapkan” (TB). Paulus tidak melihat pengalaman kelemahan fisiknya sebagai pertentangan atas kehadiran Roh Kudus. Justru, kelemahannya adalah kondisi utama untuk karya Roh yang lebih efektif. Bagi Paulus iman adalah ketergantungan total dari kelemahan manusia atas anugerah ilahi yang mempersilakan Roh Kudus berkarya paling efektif dalam kondisi manusia.

  1. Wawasan spiritual dan kharisma (1 Kor. 2:13-3:1)

Ini mengacu pada karakterisasi yang dilakukan Paulus tentang orang yang berspiritual (pneumatikos) dalam 1 Kor. 2:13-:1 dan pada diskusinya tentang karunia rohani (pneumatika) dalam 1 Kor. 12-14.

  1. Buah Roh (Gal. 5:22-23).

 

III. Penutup

Pandangan Dunn cukup berdasar secara alkitabiah dan kritis. Meskipun baginya Roh Kudus dan karya-Nya sangat eksperiental, tidak ada absolutisme terhadap pengalaman tersebut. Mengangkat berbagai ulasan kitab dan teks kemudian meramunya menjadi pandangan adalah pekerjaan menarik bagi Dunn sehingga penekanannya terhadap siapa Roh Kudus dan spiritualitas sangat mengakar pada Alkitab. Meskipun demikian, haruslah disadari bahwa apa yang penulis telah kerjakan sebenarnya belum mewakili pandangan yang luas dan rinci tentang Roh Kudus dan spiritualitas oleh teolog besar biblika PB ini, secara khusus untuk spiritualitas. Hal ini terutama karena buku yang sangat terbatas dan juga Dunn yang tidak menjelaskan secara rinci. Hal ini membuat konklusi yang dihasilkan hanyalah merupakan pandangan Dunn terkait konsep Paulus, belum secara keseluruhan teks.

Secara langsung bisa dikatakan, Dunn berhasil mengangkat peran Roh Kudus dalam keberanekaragaman pengalaman kekristenan sebagaimana yang disaksikan PB dan menyatukannya sebagai suatu keindahan yang tidak absolutis.

Dengan mengangkat tema ini, suatu relevansi bisa terjadi dengan penekanan yang lebih mendalam tentang peran Roh Kudus dalam kehidupan gereja –terutama gereja arus utama – yang telah kehilangan momentumnya sebagai suatu gerakan. Institusionalisme gereja yang mengikatnya telah menghilangkan gerakannya. Gereja terjepit, kaku dan kelu karena peraturan-peraturan yang mengikatnya, bahkan karena kekosongan perannya di tengah-tengah dunia. Gereja tidak lagi – sebagaimana dikatakan Dietrich Bonhoeffer – church for others, tapi menjadi church for itself.

Dengan mengingat pengalaman Kristus dan jemaat mula-mula dengan Roh, maka kemendesakan untuk berkarya di dunia menjadi keharusan sebab eskatologi telah terwujud. Kerajaan Sorga di masa datang telah ditarik dan terwujud pada masa sekarang. Roh Kudus yang hadir menandai kuatnya kemendesakan dan kontinuitas yang telah dikerjakan Yesus. Eskatologi telah dimulai dan akan mengalami kepenuhannya secara total dalam agenda pemerintahan absolut Allah. Gereja karenanya harus mendengar suara Roh Kudus yang menginspirasi yang kemudian akan membebaskan dirinya dari hukum Taurat. Gereja harus kembali pada nuansa mengalami Roh Kudus bukan hanya di dalam birokrasinya, tapi juga dalam setiap gerakannya yang membebaskan. Antusiasme gereja harus berkembang ketika konteks secara langsung memperlihatkan pentingnya pembebasan dari gereja untuk membawa pesan kemerdekaan Roh Kudus.

Akhirnya, sukses Dunn menyingkap Roh Kudus ini seharusnya menimbulkan ketertarikan lebih lagi bagi penulis dan gereja untuk membuka diri dalam “berjalan menurut dan dibimbing oleh Roh” yang memampukan gereja untuk menyampaikan keluhan yang tidak terucapkan dalam sapaan hangat “ya Abba, ya Bapa”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s