Romantisme Membalut

Memalingkan arah ke masa lalu

Menepikan memori kelamnya rasa dalam jalinan dua insan.

Tidak selalu dia berhenti pada “ya” dan “sepakat”

Tidak selalu dia berakhir pada romantisme, malah jadi tragedi.

 

Aku merenung, menarik sisi-sisi kelabu dari masa lalumu.

Sejenak terperanjat akan untaian kata menyirat goresan dalam batinmu.

Luluh dan lusuh dalam terpaan tragedi itu.

Aku taklah tahu alurnya.

Tapi tahu bagaimana sakitnya kala memori itu merasuk dirimu

Berharap rasukannya bukan merusak niatmu, menutup pintu hatimu.

Sekali aku berharap padamu, taklah cukup sekali membuka hatimu.

Tak urung niatku, tak goyah diterpa kedinginan lakumu.

Aku paham, goresan luka itu masih di sana, di hatimu.

Tapi sadarilah, aku memapah penawarnya.

Hendak aku melaburnya dengan cinta tulus.

Asaku berderap untuk membalut luka itu.

Ya… tak perlu risaumu membangkit.

Tak baik kalutmu menepisku.

Yakinlah.

Tegarlah.

Berdirilah di atas kakimu.

 

Akankah tangan cinta ini kau sisih?

Ataukah kau pasrah pada tariannya yang memberimu romantisme baru?

Bukan untuk tragedi ulangan,

Bukan demi tangis duka kembali,

Tapi pada “ya” dan “sepakat”,

Pada memori yang kelak kita kenang bersama

Saat aku dan kamu telah menjadi “kita”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s