Tim Stafford, Surprised by Jesus (“Siapakah Gerangan Orang ini?”), Jakarta: BPK GM, 2010

1. Yesus yang Kita Sangka Sudah kita Kenal Baik

Kita merasa mengenal Yesus karena Ia menjadi bagian dari lanskap budaya kita. ketika mulai membaca Injil, penulis tidak menemukan sosok Yesus yang mudah ditebak dan banyak dikenal. Harus memahami Yesus dari konteks-Nya, sebagai orang Yahudi.

2. Mengapa bertobat? Untuk dosa-dosa apa?

Yesus dibaptis bukan karena berdosa—meskipun itu makna pembaptisan Yohanes—tetapi karena ingin mengidentifikasi diri dengan bangsa yang berdosa. Dosa bersifat menyeluruh.

3. Bergabung dengan orang-orang yang mengecewakan anda

Baptisan adalah aksi dari individu yang mengidentifikasikan diri dengan sebuah kelompok. Waspadalah terhadap konsumerisme gerejawi yang berpusat pada kepuasan diri.

Theodor Weld kecewa dan meninggalkan gereja, Lewis Tappan kecewa tapi tidak meninggalkannya.

4. Pencobaan Yesus

Pencobaan Yesus bukanlah kegagalan, melainkan kelanjutan alamiah dari baptisan oleh Roh Kudus. Pencobaan masa kini: alcohol, seks, kegelisahan dan amarah. Iblis berkeinginan agar kita berkarya dengan efektivitas maksimal, tetapi mencapai sasaran yang melenceng sepuluh derajat dari target. Kata “jika” adalah sinisme Iblis dan atau caranya untuk mendesak, supaya berpikir tentang “aku”.

Trik mental tak mampu melawan pencobaan. Yesus mengenal Kitab Suci dan membiarkan Kitab Suci berbicara bagi diri-Nya. Pencobaan 1: Allah menyediakan tepat waktu. Pencobaan 2: sembahlah Tuhan, jangan yang lain. Pencobaan 3: jangan menguji Allah.

5. Pesan Yesus dan Pesan kita

Bukan sebatas kebenaran-kebenaran abadi (N.T. Wright), tetapi “Kerajaan Allah sudah dekat”. Ini kabar baik. Yesus sedang mengubah dunia. Mari datang dan lihat. Kerajaan Allah telah datang ke bumi. Kerajaan itu bisa dilihat dalam ruang dan waktu. Anda bisa menemukannya di mana pun umat Allah berkumpul untuk beribadah dan melakukan karya Allah.

6. Kerajaan dari Orang-orang yang tak Disangka-sangka

Yang terakhir menjadi yang pertama: kepada orang biasa yang sangat membutuhkan pengharapan – orang miskin, lapar, sakit, bersedih, dikucilkan, telah kehilangan respek dari keluarga mereka agar bisa datang kepada Yesus. Undanglah orang miskin (Luk. 14:13-14).

7. Berkhotbah bagi Sebuah Gerakan

Yesus tak berusaha menarik respons massal. “Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” : pesan tak diperuntukkan bagi pendengar yang bersantai-santai. Ia berkhotbah untuk menemukan tanah yang subur, untuk melatih para murid-Nya.

8. Pusat radikal

Keradikalan-Nya saat meminta orang untuk mengikut-Nya. Panggilan yang tiba-tiba dan menentukan. Semuanya dipanggil untuk melayani, tapi tak semua demi pelayanan radikal (penuh waktu).

9. Karya-karya penuh kuasa

Mengapa Yesus menyembuhkan? Karena diminta dan Ia mau. Yesus kelihatannya tak pernah berkarya dalam cara yang sama lebih dari satu kali. Yang ditunjukkan lewat kuasa adalah Kerajaan Allah (Luk. 7:22-23). Yesus jelas-jelas menghendaki para pengikut-Nya melakukan penyembuhan (utusan 70 murid; Luk. 10).

John Wimber menginginkan agar doa-doa kesembuhan menjadi salah satu focus public. Doa secara terbuka dan terpublikasi.

Mujizat tidak selalu penyembuhan, tapi lewat kasih dan iman.

10. Berdoa

Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat sunyi (Luk. 5:16). Yesus mengajar Doa Bapa Kami.

Berdoa bagi Kerajaan Allah, bukan tentang “aku”, supaya nama baik Allah dikenal lewat perbuatan Kristen, untuk menghadapi penampian Iblis dan belajar memperkuat saudara-saudari kita (Rm. 8:34).

11. Peringatan

Ia memberikan sejumlah peringatan yang tajam dan mendesak. Secara khusus kritik pada para pemimpin Israel, bukan para penguasa Romawi. Sisi mendesak peringatan Yesus: Allah murka memegang anda di atas lubang neraka.

Mengkritik kemunafikan yaitu bukan soal kekeliruan teologis, tetapi kesalahan moral. Kemunafikan berarti anda tak hidup mengikuti prinsip-prinsip anda sendiri. Kritik Yesus: tak pernah menunjuk nama dan berpusat pada kemunafikan.

12. Pergi ke Yerusalem

Yesus tak cari kenyamanan, tapi rela mati. Paulus juga (2 Kor. 4:8-11). Cerita Lalani di Sri Lanka.

13. Bahasa Simbolis

Simbolisasi: naik keledai masuk Yerusalem, membalikkan meja pedagang di Bait Allah, mencuci kaki para murid, perjamuan terakhir. Maknanya adalah kehambaan-Nya.

14. Getsemani

Yesus mencari dukungan saat berdoa “Maukah kalian berjaga bersama Aku?” walau didera, Dia tetap merespons dalam kemurahan hati dan kasih. Contoh: Gladys Staines di India yang suami dan kedua anaknya dibunuh, tapi dia mengampuni.

15. Tuhan yang telah bangkit

Kebangkitan adalah pembuktian luar biasa atas klaim-klaim Yesus (1 Kor. 15:16-17).

16. Kehidupan Kebangkitan

Ia menghabiskan keseluruhan kariernya di Palestina yang kecil, dan hanya sempat bertemu dengan beberapa ratus ribu orang yang kebanyakan orang Yahudi, namun kini sekitar dua miliar orang dari segala budaya dan bangsa menjadi pengikut-Nya.

Rene Gigard: setelah Yesus, posisi kekerasan sebagai bahan pembangun masyarakat kian dilemahkan. Semenjak salib, simpati kita pada pihak korban kian bertumbuh.

Andrew Walls: kekristenan menyebar melalui terjemahan ke dalam konteks.

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yoh. 2:6).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s