25 Desember 2011

Kemarin, 1 hari sebelum hari Natal ini, saya mengunjungi seorang ibu bersama seorang teman. Dia terbaring di rumah sakit karena baru menjalani operasi pada usus 12 jarinya. Dia bersama tiga orang puterinya yang menjaganya. Sebelum kami pulang, dia meminta kami untuk mendoakannya. Dia bilang bahwa mereka punya banyak pergumulan. Bisikku dalam hati, “Bu, setiap orang punya pergumulan. Ini biasa”. Saya mulai berdoa, pelan2 tapi jelas. Sehabis berdoa, dia menangis. Dia mulai bercerita. Dia sedih karena tak bisa berNatal seperti yang lainnya. Tapi tdak hanya itu, dia teringat akan kematian suaminya percis tahun lalu. Sementara itu, putranya satu2nya menderita sakit ginjal sehingga dulu harus cuci darah 2 kali dalam seminggu. Dan kini dia sendiri terbaring di rumah sakit, sambil membayangkan nikmatnya Natal di rumah dan gereja. Miris memang. Tapi itu fakta.

Dia menangis, aku terdiam. Memberi diri sebagai saluran bagi luapan emosinya. Ternyata itu bukanlah hanya sebatas tangisan dan pergumulan. Itu adalah suara jeritan penderitaan. Suara yang keluar dari hati. Sebelum berdoa, dia bahkan bisa berlelucon. Tapi kini, dia menangis. Hatinya yang menderita meluap deras.
Kemudian, saya meminta teman yang lain berdoa juga untuknya dan teman itu berkata, “Tuhan adil kok.” Saya terkesima dan terperanjat. Penderitaan rupanya sering dikaitkan dengan keadilan atau ketidakadilan Allah. Ya, itu benar. Allah bisa dianggap tidak adil oleh hati yang menderita. Jeritan hati yang meronta itu bisa berkata “Dimana Allah?”

Pada akhirnya, saya hanya bisa mengucapkan sedikit hal saja bagi sang ibu. Saya merenung dan berkesimpulan: Biarlah jeritan itu keluar. Biarkan hati yang menderita itu berbicara dan terekspresi, sebab mendiamkannya hanya akan menimbulkan penderitaan baru: penderitaan karena menolak sang derita. Biarkan penderitaan menunjukkan wajah aslinya. Dan tentang Natal, penderitaan sang ibu menyatakan pada saya (sebagaimana juga saya sampaikan padanya) bahwa Yesus juga hadir di rumah sakit. Justru Natal bisa lebih bermakna jika dipandang dari segi yang lain, yaitu dari sudut seorang yang terkapar karena derita di kamar pesakitan itu. Bahwa Firman yang datang ke dunia menjumpai manusia di dalam kepedulian dan kasih. Dia bersama sang ibu. Immanuel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s