Wajah Destruktif dan Sifat Misioner Agama

Teringat masa kanak-kanak, ada seorang pemuda – karena kebenciannya pada saya – berkata, “Kalau misalnya Islam dan Kristen berperang, duluan kau kubunuh”. Dia memang seorang muslim, tapi saya yakin itu bukan suara keislaman. Setelah merenung pada masa kini, tampaknya gambaran seperti ini bisa terdapat pada pemeluk agama manapun. Kebencian terhadap seseorang menggeneralisasikan kebencian terhadap kelompok atau umat tertentu. Hal ini bisa diperkuat oleh kebudayaan atau cara berpikir yang kolektif pada budaya timur ini. Perbuatan oknum kerap dianggap agenda kolektif.

 

Memang harus diakui, bahwa kehidupan beragama kerap menimbulkan konflik dan masalah. Pengkhianatan terhadap cara hidup Injili dan Islami lewat fundamentalisme dan anarkisme menimbulkan bayang-bayang ‘kedok’. Memang setiap agama punya wajah konstruktif, tapi juga punya wajah destruktif. Semakin beragama, sebagian orang justru menjadi anarkis.

 

Kedua agama ini punya sifat misioner. Bagi sebagian orang Kristen, Injil lebih merupakan kewajiban2 agama yang ketat. Melihat orang yang beragama lain seperti melihat kesesatan dan wajah kafir. Cara-cara persahabatan dilakukan demi menginjili. Injil dipahami hanya sebatas pemberitaan tok. Persahabatan bahkan kerap dikhianati demi pemberitaan Injil. Ini kedok yang tak Injili.

Sebagian lagi memakai pekerjaan. Bayangkan, sebagian mereka merasa lebih merasa Injili dan Allkitabiah jika bisa memakai pekerjaan untuk memberitakan Isa secara verbal daripada mengerjakan pekerjaan/profesinya dengan baik. Seorang dokter berbangga hati jika bisa melayani ke daerah2 terpencil demi pemberitaan Injil, sementara pasiennya tak terlayani dengan baik. Seorang perawat bisa punya keramahan terhadap pasien, tapi bisa jadi ini semacam kedok belaka.

 

Hal ini pun tak berbeda dengan sebagian orang Islam. Perkawinan bisa dipakai demi misi dakwahnya. Bahkan jika perlu peraturan-peraturan daerah dan otonomi yang memaksa. Tindakan-tindakan penekanan kaum mayoritas bisa dipaksakan. Dan masih banyak lagi.

 

Anehnya, wajah misioner agama-agama, khususnya kedua agama ini kerap berbenturan. Karena penginjilan dan dakwah, konflik bisa terjadi.

 

Sebenarnya, yang menjadi masalah bukan pada penginjilan dan dakwahnya, tetapi pada kedok dan ketidaksiapan para penganutnya menerima perbedaan. Setiap kedok atau metode yang dipakai sebagai bentuk pengkhianatan yang insani dan manusiawi adalah juga pengkhianatan nilai-nilai agama. Sementara itu, ketidaksiapan para penganut agama untuk menerima sifat misioner dengan cara-cara yang terpuji bisa menyebabkan konflik. Menerima dakwahnya Islam dan penginjilannya Kristen adalah sifat tenggang rasa. Tak perlu meninggalkan sifat misioner. Yang perlu adalah bersedia menerima sifat misioner agama lain. Menerima diri didakwahi dan diinjili dan mengambil keputusan secara otoritatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s