Kasih dan Damai  (1 Petrus 3:8-12)

Pendahuluan  

Surat ini ditulis oleh Petrus, rasul Yesus Kristus kepada orang-orang Kristen di lima daerah yaitu Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (1:1), dengan perantaraan Silwanus (5:12) dan salam dari Markus yang adalah anak rohani penulis surat ini (5:13).     

Isi surat ini mencakup banyak hal, seperti tentang keselamatan yang dikaitkan dengan kehidupan etika, hubungan sesama Kristen, penatua, hidup kudus, dan terutama juga tentang hidup dalam penganiayaan. Peringatan yang diberikan Petrus melalui surat ini menekankan pesan supaya jemaat tetap hidup dengan identitas Kristen yang benar walaupun menghadapi penderitaan hidup. Penderitaan ini paling tepat dianggap berada pada masa kaisar Nero, yang membakar hidup-hidup orang Kristen di kota Roma (tahun 64 M). Dari Roma gerakan anti-Kristen bergemuruh dan bisa mengalami imbasnya sampai ke daerah-daerah lain. Karena itu, Petrus menuliskan surat ini untuk mengingatkan dampak penindasan yang bisa menyebar dari Roma ke lima daerah alamat surat ini, meskipun secara lokal mereka sudah mengalaminya.  

Penjelasan Teks

Di antara penjelasan tentang penderitaan hidup karena penganiayaan (lihat 2:18-25 dan pasal 3-4), Petrus menerangkan perihal hubungan orang Kristen, termasuk dalam konteks unit keluarga. Kita bisa melihat bagaimana Petrus menjelaskan tentang hubungan yang ideal antara suami dan isteri. Kini, dalam teks ini, Petrus masih berbicara tentang hubungan. Hubungan ini mencakup dua hal atau dua objek perlakuan, yaitu:
1. Hubungan/cara perlakuan kepada sesama orang Kristen (ay. 8)
Kata “dan akhirnya” (to de telos) tidaklah berarti bahwa surat ini berakhir atau ini merupakan perintah terakhir dari Petrus dalam surat ini. Kata ini bisa diartikan sebagai “dan kelanjutannya” atau “dan kesimpulannya”. Dalam pengertian ini, Petrus mengartikan bahwa pola hubungan yang benar dalam hubungan sesama Kristen, termasuk dalam hal suami istri, disimpulkan di dalam prinsip kasih. Prinsip kasih ini berlaku untuk semua jemaat, yang diartikan Petrus dalam beberapa keterangan, yaitu: a. Seia sekata (homofron) berarti satu pikiran dan harmonis. Seia sekata ini tercapai jika semua saling menyetujui dan mendukung, tetapi bukan sesuai dengan hasrat manusia, tetapi kehendak Allah. Sama-sama sepakat untuk memberlakukan kehendak Yesus untuk memuliakan Allah (bnd. Roma 15:5-6) .
b. Seperasaan (sumpathes) berarti simpati, merasakan apa yang orang lain rasakan. Ini berarti bahwa jemaat dituntut untuk terlibat secara aktif dan mendalam dalam apapun yang jemaat lain rasakan.
c. Mengasihi saudara-saudara (filadelfoi) berarti memiliki kasih persaudaraan, mengasihi seperti saudara. Kasih seperti ini berarti memperlakukan orang lain layaknya saudara sekandung yang memiliki hubungan darah. Di dalamnya terdapat unsur tanggung jawab, saling melindungi, saling melengkapi dan menjaga.
d. Penyayang (eusplagchnoi) berarti mesra, ramah, lemah lembut, berbelas kasih, dan berjiwa penghibur. Sifat ini menekankan kelembutan yang memberi kekuatan.
e. Rendah hati (tapeinofrones) berarti sederhana, sopan santun, berpikiran rendah hati, dan tidak menganggap diri tinggi. Kesemuanya ini diharapkan Petrus kiranya dimiliki oleh jemaat. Di tengah penderitaan mereka, cara hidup utama sesama jemaat adalah saling berlaku di dalam kelima hal tersebut di atas. Penderitaan sebagai tantangan yang datang dari luar tentu saja bisa melemahkan iman. Tetapi dengan adanya kondisi internal jemaat yang saling solider, maka jemaat akan mendapatkan kekuatan untuk bertahan secara rohani maupun eksistensi fisik dan ekonomi.  

2. Hubungan/cara perlakuan kepada orang yang non Kristen (ay. 9-12)
Rasul Petrus menyadari bahwa penganiayaan yang terjadi di masanya itu adalah hal yang harus dihadapi sebagai kenyataan. Karena itu, belajar dari Yesus dan ajaranNya, dia mengajar jemaat untuk berani menghadapi orang-orang yang membenci mereka karena nama Yesus, tetapi dengan cara yang benar. Ini prinsip damai. Cara-cara yang disampaikan oleh Petrus adalah:
a. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan (ay. 9). Petrus mengajak jemaat untuk tidak membalas caci maki dengan caci maki, tetapi justru harus memberkati mereka (tepat seperti perkataan Yesus dalam Mat. 5:44). Jika memperlakukan mereka dengan cara mereka maka jemaat tidak ada bedanya. Sama-sama berbuat jahat, sama-sama mencaci. Kualitas hidup seperti ini memiliki konsekuensi positip yaitu hidup yang diberkati oleh Tuhan. Jemaat diingatkan untuk memberkati orang-orang yang membenci mereka dan akhirnya akan memperoleh berkat.
b. Petrus memberikan resep hidup bahagia di tengah-tengah segala situasi penindasan itu (ay. 10-11). Dari Mazmur 34:13-17, Petrus meneruskannya kepada jemaat. Dalam konteks Mazmur ini, Daud sedang menjadi pura-pura gila dalam pelariannya dari Saul. Jadi dia sendiri merasa teraniaya dan ditindas, namun mengangkat Mazmur ini sebagai pengakuan imannya kepada Tuhan dan kesaksiannya bagi orang lain atas keselamatan yang Tuhan sediakan. Dia sama sekali tidak menciptakan pembalasan terhadap Saul, walaupun mempunyai kesempatan untuk itu. Resep itu adalah menjaga lidah dari yang jahat dan tidak menipu. Lalu menjauhi kejahatan dan melakukan yang baik, mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Hidup di tengah masyarakat yang curiga dan menekan itu, jemaat harus tetap mengusahakan kebaikan, tidak berbuat kejahatan, membuktikan diri dalam kejujuran dan berusaha berdamai dengan mereka.  
c. Jemaat tidak boleh takut menghadapi semua situasi tersebut. Keyakinan dan keberanian ini didapatkan hanya karena mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar (ay. 12). Tuhan mempunyai perhatian khusus kepada mereka yang benar. Tuhan mendengar permohonan mereka yang minta tolong. Dia mempunyai kepedulian terhadap mereka yang tertindas. Berkaitan dengan para orang jahat itu, Tuhan menentang mereka. Maksudnya, Tuhan akan mengerjakan keadilan dan melawan sendiri mereka yang menindas itu. Sambil menolong yang lemah itu, Dia akan melawan orang-orang jahat itu.  

Perenungan/Refleksi
1. Di dalam konteks kita di Indonesia ini, kita memerlukan prinsip hidup dalam kasih untuk dapat bertahan dan mempertahankan keberadaan sesama kita, khususnya dalam lingkungan seiman. Tapi, jika kita mengamati, masih banyak yang belum seia-sekata dan menimbulkan perpecahan atas dasar perbedaan denominasi dan perbedaan pendapat. Kepentingan diri sendiri (egoisme), kesombongan dan saling memburuk-burukkan merupakan hal-hal yang dapat merusak persatuan kekristenan. Karena itu, pesan Petrus menyapa kita untuk saling mengasihi dan mengupayakan kesatuan itu.

2. Dalam konteks penderitaan hidup, baik karena faktor ekonomi dan diskriminasi tidak boleh menghilangkan prinsip hidup berdamai dengan orang lain. Membawa damai (Mat. 5:9) sebagai anak Allah adalah tantangan yang kompleks karena orang Kristen berhadapan dengan situasi yang sulit. Tapi harus tetap diusahakan. Membawa damai berarti tidak membalas dengan kejahatan, tetapi menciptakan kebaikan dan yakin sepenuhnya pada Tuhan, yang adalah Sang Pembela Keadilan itu, yang mataNya tertuju kepada orang benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s