Keadilan Allah ( Amos 8:4-7)

Pendahuluan  

Tekoa, yang terletak kira-kira 16 km sebelah selatan Yerusalem, merupakan asal dari nabi Amos. Letaknya yang tinggi membuat kota itu secara alami ‘kota pertahanan’ (2Taw. 11:6). Pedusunan di sekitarnya menghasilkan rerumputan bagi ternak peliharaan, dan Amos adalah peternak (1:1). Ia juga adalah ‘pemelihara pohon-pohon ara’ (7:14). Amos karenanya tidak diasuh dalam golongan nabi, juga tidak mengecap pendidikan menjadi nabi di sekolah atau perkumpulan (7:14), sebagaimana yang terdapat dalam zaman raja-raja dan biasa disebut sebagai nabi palsu.

Amos hidup pada zaman pemerintahan Uzia, raja Yehuda (779-740 sM), Yerobeam II, raja Samaria (783-743 sM).  Nabi ini merupakan nabi yang frontal mengkritik pemerintahan Samaria karena ketidakadilan yang terdapat di dalamnya. Terdapat golongan pedagang yang kuat di Samaria, namun kemakmuran itu tidak dinikmati oleh kalangan penduduk jelata. Kemakmuran itu dimonopoli oleh para raja-raja dagang  (3:10, 12, 15; 6:4).  

Penjelasan Teks  

Sekitar tahun 720 sM ke atas, Asyur telah menghancurkan Siria, tetangga Samaria di sebelah utara. Hal ini memungkinkan Yerobeam II memperluas tapal batasnya (2Raj. 14:25) dan membangun perdagangan yang menguntungkan, yang menciptakan golongan pedagang yang kuat di Samaria. Mereka menikmati kekayaan ini namun tidak bagi masyarakat awam, yang pada umumnya adalah petani. Penindasan atas kaum miskin oleh orang kaya adalah biasa (2:6-7), juga sikap acuh tak acuh di kalangan orang kaya terhadap kesengsaraan orang yang lapar (6:3-6). Keadilan terletak pada orang yang menawar paling tinggi (2:6; 8:6). Dalam musim kering (4:7-9) orang miskin hanya dapat meminta pertolongan kepada lintah darat (5:11-12; 8:4-6), yang kepadanya ia sering terpaksa menggadaikan tanahnya dan dirinya sebagai budak.  Dalam situasi ekonomi dan ketidakadilan sedemikianlah Amos bernubuat, mengkritisi pemerintahan yang tidak menciptakan keadilan tersebut.

Ayat 4  Seruan firman Tuhan ini diberikan kepada mereka yang menginjak-injak orang miskin dan yang membinasakan orang sengsara di negeri Samaria. Kata “menginjak-injak” dapat diartikan secara implisit sebagai penindasan dan ketidakpedulian. Siapakah yang menginjak-injak dan menyengsarakan? Yaitu mereka yang tidak peduli kepada orang miskin dan sengsara. Mereka adalah para pedagang yang memonopoli keuntungan itu, para lintah darah yang mencekik, para praktisi ekonomi yang bertindak curang, termasuk pemerintah yang mendapatkan keuntungan dari praktik ketidakadilan dan tidak mau serta mampu menciptakan sistem yang adil.  Mereka ini menikmati kekayaan dan kemakmuran dari proses perdagangan yang terjadi, namun mereka ini hanyalah segelintir orang. Mereka mengambil untung dari proses ekonomi dan mengorbankan orang lain demi keuntungan itu.  

Ayat 5  Para pedagang ini punya pemikiran tentang bulan yang baru dan Sabat yang berlalu. Mereka mengetahui bahwa pada saat Sabat, mereka tidak akan dapat berdagang. Mereka hanya akan beribadah pada hari itu sesuai dengan tradisi hukum Taurat. Melakukan apapun yang bersifat pekerjaan mereka tidak berani. Mereka tetap menjaga diri untuk tidak melakukan pekerjaan pada hari itu. Karena itu, mereka menanti-nantikan Sabat berlalu. Dalam hal ini, terdapat 3 keberatan utama dari Amos:
1. Mereka begitu menanti-nantikan hari Sabat berlalu dan bulan yang baru. Mereka terus memikirkan tentang perdagangan dan keuntungan mereka sehingga tidak sedang fokus dalam ibadahnya. Mereka fokus pada hal-hal dunia dan berharap Sabat dan bulan lama berlalu sehingga walaupun mereka mengadakan ritual Sabat, pikiran dan jiwa mereka tidak sedang menyembah Tuhan. Mereka berada dalam penantian akan keuntungan dan berharap segala halangan, termasuk Sabat segera cepat berlalu, demi keuntungan dan harta duniawi.
2. Mereka merupakan orang yang dualistik/dikotomi. Mereka memisahkan secara tegas antara ibadah dalam pengertian ritual dan ibadah dalam pengertian hidup yang menyembah. Mereka tetap beribadah secara ritus, tetapi dalam kesehariannya mereka tidak beribadah. Saat hari Sabat, mereka melakukan ritus dengan benar. Mereka mempersembahkan korban, memberi persepuluhan dan berdoa, tetapi hal itu sama sekali tidak mempunyai dampak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam hal ini, agama sedang diputarbalikkan. Upacara-upacara agama tetap dipelihara (4:4-5), tetapi hal itu diadakan bergandengan dengan sifat kefasikan yang tak mengenal Allah dan menyalahi kesusilaan. Mereka menyukai acara-acara agama, tetapi tidak mencintai keadilan dan kebenaran.
3. Mereka ini melakukan perdagangan dengan cara yang tidak benar. Mereka berdagang terigu, tetapi dengan mengecilkan efa dan membesarkan syikal. Efa merupakan ukuran volume/isi sebesar kira-kira 36 liter. Dengan mengecilkan efa, maka ukuran/takaran sebenarnya menjadi berkurang dan untung  didapat dari pengurangan efa itu. Syikal merupakan ukuran massa sebesar 11,4 gram. Ini merupakan timbangan di Israel. Dengan memberatkan syikal maka ukuran sebenarnya massa barang menjadi berkurang, meskipun terlihat benar. Cara berdagang sedemikian merupakan cara yang salah dan termasuk ke dalam penipuan. Mereka memakai neraca palsu yang ukurannya tidak benar.  

Ayat 6  Harapan akan berlalunya sabat dan bulan berarti harapan akan keuntungan yang baru dalam perdagangan. Tujuan mereka secara ekspilisit disebutkan oleh Amos sebagai usaha untuk membeli orang lemah karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut, dan menjual terigu rosokan. Ketiga hal ini menunjukkan bahwa orang miskin menjadi korban dari ketidakadilan. Pada akhirnya orang miskin akan semakin miskin dan menjadi budak dari orang kaya. Bahkan itu berarti bahwa harga seorang lemah dan miskin tidak lebih berharga daripada sepasang kasut di mata para orang kaya. Demi uang, mereka rela menjual terigu yang sebenarnya tidak layak jual.

Ayat 7  Teks ini menjadi dasar untuk meyakini keadilan Allah melampaui segala ketidakadilan tersebut. Allah akan bertindak. Melalui teks ini, Amos mengatakan bahwa Allah telah bersumpah, maksudnya telah mengikat perjanjian bagi dan demi diriNya sendiri. Dia akan benar-benar bertindak demi bangsa yang menderita itu. Allah tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan ketidakadilan itu. Di dalam murkaNya itu, Dia tidak akan melupakan segala perbuatan mereka. Artinya, Dia tidak akan mengampuni segala ketidakadilan itu. Dia akan bertindak dan melawan ketidakadilan itu.  

Perenungan/Refleksi

1. Konteks keadilan tentu saja tidak dimaksud hanya berkaitan dalam hal berdagang saja, tetapi mencakup semua aspek hidup dan profesi. Kita dituntut untuk pertama-tama melakukan keadilan dan membelanya. Kita harus hidup di dalam kepedulian terhadap sesama, secara khusus kepada orang miskin dan lemah.

2. Sifat dikotomi dualistik haruslah dihindarkan. Masih ada anggapan bahwa ibadah secara ritus terpisah dari ibadah sebagai kehidupan. Padahal, kedua-duanya haruslah terintegrasi. Ibadah yang benar haruslah nampak di dalam cara hidup dan cara menjalankan profesi masing-masing.

3. Hidup di dalam ketidakadilan adalah tidak mudah. Tapi mengingat bahwa Tuhan mengingat perbuatan ketidakadilan dan akan bertindak, menjadi kekuatan bagi kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s