Kebenaran yang Memerdekakan/Kemerdekaan RI (Yohanes 8:30-36)

Pendahuluan  

Tanggal 17 Agustus tahun ini merupakan hari peringatan kemerdekaan RI (HUT RI). Selama 68 tahun kemerdekaan Indonesia, apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka? Banyak kalangan, mungkin kita juga mempertanyakan hal serupa, terutama karena kita melihat segala keterpurukan bangsa kita ini.

Yesus sendiri hidup dalam konteks penjajahan Romawi yang telah sekian lama menggerogoti bangsaNya. BangsaNya telah sekian lama mengharapkan datangnya seorang pembebas politik, yang mereka kenal sebagai “Mesias”. Label ini pernah diberikan pada kaum Makabe yang berjuang secara revolusioner, namun gagal. Yesus menyadari keadaan penjajahan ini dan dampak yang ditimbulkannya. Karenanya, Dia juga berbicara tentang kemerdekaan, yang berbeda dari yang dipikirkan orang Yahudi pada zamanNya.  

Penjelasan Teks  

Teks ini merupakan kelanjutan dari percakapan Yesus dengan orang banyak di Bait Allah. Di pagi itu, Dia mengajar rakyat Yahudi, yang di antara mereka terdapat orang Farisi dan ahli Taurat yang licik dan berusaha menjatuhkanNya.  Sebelumnya terdapat ketegangan antara Yesus dan ahli Taurat berkenaan dengan perempuan yang berzinah. Setelah berhasil menolong sang perempuan, Yesus melanjutkan pengajaranNya tentang siapa diriNya, bahwa Dia adalah terang dunia. Dia tidak berasal dari dunia, tetapi dari atas, dari Bapa. Bapalah yang mengutusNya ke dunia untuk menyampaikan maksud Bapa.

Ayat 30  Perkataan/pengajaran Yesus di Bait Allah ini merupakan percakapan yang panjang. Dan tampaklah terjadi proses perubahan paradigma dari masyarakat banyak ini. Ketika Yesus berbicara dan menyaksikan siapa diriNya, banyak di antara mereka percaya kepadaNya. Itu berarti tidak semua orang yang mendengar perkataanNya percaya kepadaNya. Di antara mereka yang mendengar itu terdapat juga orang-orang pintar dan faham Kitab Taurat yaitu para ahli Taurat dan orang Farisi (8:2). Mereka mendengar pengajaran Yesus, tetapi tidak menerimaNya. Mereka bertanya pada Yesus (8:6-7), tetapi bukan dengan hati yang mau menerima kebenaran. Mereka hanya ingin mencobai Yesus. Sehingga, betapa teguhnya pun firman Tuhan berbicara kepada mereka, mereka tetap tidak mau percaya.  Tapi, sebagian di antara orang banyak itu mengambil posisi berbeda dari kaum intelektual itu. Mereka mendengar apa yang Yesus ajarkan dengan segenap hati. Mereka tidak mengandalkan logika mereka. Mungkin sebelum Yesus mengajar mereka, mereka sudah pernah mendengar tentang Yesus dan karyaNya. Tapi, begitu jelaslah bahwa cara Yesus memperlakukan perempuan berzinah itu dengan tidak menghukum, malah melepaskannya, menjadi kesan berharga bagi mereka. Perkataan Yesus bahwa diriNya tidak berasal dari dunia memang tak masuk akal secara intelektual. Tetapi, mendengar perkataan Yesus dan melihat karyaNya membuat mereka terbuka di dalam hati dan percaya kepada Yesus.  

Ayat 31-32  Mengetahui respon mereka, Yesus pun semakin menegaskan konsistensi dari makna kepercayaan orang-orang Yahudi itu. Yesus memberikan sebuah pertautan yang berkonsekuensi jika mereka tetap mengikuti Dia. Yesus menegaskan mereka perlu tetap dalam firmanNya. Tetap (meno) dalam firmanNya berarti tinggal dan melanjutkan firmanNya. Hal ini bermakna konsistensi dari kepercayaan mereka berarti konsistensi untuk tetap percaya pada apa yang Yesus katakan. Mereka tidak boleh beralih dari firman Tuhan dan kepercayaan mereka kepada Yesus.  Jika mereka tetap tinggal dalam Yesus, maka ada tiga konsekuensi bagi mereka. Pertama, yaitu bahwa mereka memiliki status baru yaitu sebagai murid Yesus dan status itu adalah status yang benar-benar, sepenuhnya, sungguh-sungguh murid Yesus. Mereka sebelumnya mengikuti dan mendengar Yesus, tapi mereka belum benar-benar murid Yesus. Kini setelah percaya, mereka sudah benar-benar murid Yesus dan Yesus adalah guru mereka. Kedua, mereka akan mengetahui kebenaran. Mengapa? Sebab Yesus adalah kebenaran (Yoh. 14:6). Ketiga, mereka akan dimerdekakan oleh kebenaran itu. Kemerdekaan yang sejati terdapat di dalam Yesus yang adalah kebenaran itu.

Ayat 33-34  Orang-orang Yahudi yang percaya ini menyangka bahwa mereka sebelumnya tidak sedang dalam perhambaan karena mereka adalah keturunan Abraham. Mereka bingung saat Yesus berkata tentang tentang kemerdekaan. Mereka mengira bahwa yang Yesus maksudkan adalah perhambaan yang bersifat keturunan. Mereka mengenal makna keumatan mereka akibat pemilihan Allah atas Abraham, tetapi mereka masih memandangnya secara nasional/bangsa, bukan rohani.  Yesus memberikan pemahaman yang lebih jauh lagi daripada sekedar keterpilihan yang nasionalis. Maksud Yesus dengan perhambaan adalah keterikatan dan perbudakan secara rohani yaitu hamba dosa. Setiap yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Jadi, kemerdekaan yang Yesus maksudkan adalah kemerdekaan dari perhambaan akan dosa. Jika Yesus mengetahui bahwa kebenaran itu akan memerdekakan mereka, itu berarti bahwa mengetahui kebenaran di dalam firman Tuhan akan membebaskan mereka dari dosa. Sebelum tinggal di dalam firmanNya, mereka adalah orang-orang Yahudi yang belum mengalami pembebasan dari dosa. Itulah sebabnya sekalipun mereka adalah umat pilihan Allah dosa tetap berdiam dalam diri mereka. Kemunafikan, ketidakadilan, kebebalan dan kebobrokan moral akibat dosa menjadi kenyataan nyata dalam hidup mereka. Karenanya, Yesus sedang menawarkan kepada mereka sesuatu yang baru. Kemerdekaan sejati tidak didasarkan atas maksud nasional/bangsa, tetapi kelepasan dari segala dosa dan pengaruhnya yang menghancurkan.

Ayat 35-36  Yesus semakin memperjelas pengertian tentang kemerdekaan ini. Sebagai orang-orang yang terbebas dari dosa, maka status dari orang-orang Yahudi yang percaya ini tidak lagi sebagai hamba, tetapi sebagai anak. Sebagai anak mereka tinggal di rumah, tidak lagi di luar seperti hamba. Maksudnya, mereka punya hak waris tinggal di dalam rumah Bapa. Kemerdekaan sejati menempatkan mereka dalam status dan wilayah yang baru, yaitu wilayah dimana Allah sepenuhnya meraja. Kemerdekaan yang benar-benar merdeka adalah diakibatkan oleh Anak itu, yaitu Yesus. Yesuslah yang sanggup untuk memberikan kemerdekaan sejati. Dan kemerdekaan yang sejati itu adalah kebebasan dari perbudakan dosa.         

Perenungan

1. Pemberitaan firman Tuhan tidak selalu direspons positip. Bisa saja ada penolakan dari orang lain, dalam konteks firman ini yaitu dari mereka yang tidak datang dengan kerinduan mendengar kebenaran firman dan dikuasai oleh logikanya. Tetapi firman Allah tidak akan kembali dengan sia-sia, karenanya akan diterima juga oleh orang lain, yaitu mereka yang dengan tekun dan rendah hati menerima maksud firman itu dalam hidup mereka.

2. Pada HUT RI ke-68, kita diingatkan sebagai bangsa Indonesia, bahwa kemerdekaan secara status telah kita terima. Tetapi kemerdekaan sejati hanya terdapat di dalam kemerdekaan atas dosa. Dosalah penyebab kemelaratan bangsa yang terwujud dalam kerakusan, korupsi, ketidakseriusan, moralitas yang buruk, kemalasan, pola ekonomi yang menindas, ketidakadilan, dlsb. Dosa-dosa inilah yang perlu kita bebaskan demi kemerdekaan sejati sebagai bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s