Memandang Salib

Memandang salib membuat kita teringat akan sosok Yesus yang tersalib. Dia memilih jalan sendiri: dikhianati, ditinggalkan sendirian, dinista, disiksa, dan disalib. Kematian tragis itu merupakan konsekuensi dari perjuangan pemberitaan Kerajaan Allah. Sementara dunianya hidup dengan kemapaman agama, tradisi yang mengkooptasi, dan gerakan revolusioner anarkis, dia menawarkan pilihan sepi. Tak sulit dimengerti, pilihan ini adalah kebodohon menurut para aktor pembunuh itu.

Ketika memandang salib, kita digugah mengenang ribuan orang yang telah disalibkan oleh Aleksander Agung dan para penggantinya. Romawi kuno memang mengadopsi bentuk hukuman ini dari orang Persia, terutama diperuntukkan bagi para pembunuh atau para budak yang memberontak. Karenanya, dikenallah hukuman ini sebagai “hukuman para budak” (servile supplicium (Lat.)). Tujuan utamanya ialah mencegah pemberontakan (Craig A. Evans, 2010). Pantaslah suara Kerajaan Allah dipandang berpotensi pemberontakan oleh mereka yang terusik.

Memandang Salib dan Menyelisik Hukum

Pengadilan Yesus adalah hukum yang diatur. Bahkan sebelum pengadilannya, hukuman telah diputuskan. Setelah ditangkap, berbagai tuduhan dibuat, termasuk ancamannya terhadap Bait Allah. Pengakuannya bahwa dialah Mesias, anak Allah, membuatnya tertuduh sebagai penghujat dan dianggap patut dihukum mati.

Terlibatlah turut beberapa lapisan ini dalam keputusan atas salib itu. Para pemimpin agama ingin membela Ilahi dengan kekuasaan agama. Tradisi agama nan ketat itu selama ini telah terlalu terganggu akan pemberitaan Yesus. “Demi Tuhan” jugalah slogan mereka. Khotbah Yesus tentang Kerajaan Allah mengancam status quo. Tindakannya memporakporandakan perdagangan di Bait Allah mengacaukan ekonomi dan lalu lintas hewan kurban yang menantang para imam yang diuntungkan dari sistem ekonomi monopoli itu. Para monopolislah yang kiranya juga perlu memandang salib di zaman ini.

Herodes Antipas tidaklah juruselamat baginya, melainkan jurusiksa lagi. Keinginan hatinya menyaksikan mujizat tak terkabul, malah menambah geram hati untuk melancarkan siksa dan mengalihkan bola. Sementara itu, kini kita melihat gambaran itu: para birokrat yang menyebabkan sengsara, bukan solusi. Yang ditemui rakyat, tapi mengelak dan menciptakan sengsara lagi.

Pontius Pilatus, gubernur Romawi itu menerima bola tendangan itu. Dia memusatkan perhatian pada tuduhan bahwa Yesus telah menyatakan diri sebagai raja orang Yahudi. Dia, yang secara historis dikenal tegas, kehilangan taring berhadapan dengan dalil pax Romana. Sekelompok kecil, bukan seluruh umat, yang berteriak “salibkan dia!” itu dapat mengancam keamanan. Karena mereka lebih memilih Barabas, si pembunuh, untuk dibebaskan, Pilatus mencuci tangan dan menjatuhkan hukuman mati itu.

Ketika memandang salib kita mengingat para korban ketidakadilan. Pada mereka yang berharap pada hukum tapi ditelantarkan dan disengsarakan demi hasrat birokrat dan pemangku kepentingan.

Memandang salib kita mengingat suara teriakan dan anarkisme di zaman kita, yang tampaknya lebih bertaring daripada hukum. Dimanipulasilah hukum karena uang, kepentingan dan kuasa. Dipinggirkanlah keadilan oleh para birokrat cuci tangan dan takut pada suara teriakan dan anarkisme itu. Bungkamlah hati nurani dan kebenaran karena tradisi yang mapan dan status quo.

Sekali Lagi Memandang Salib
Salib Yesus menjernihkan pesan bahwa kuasa pedang yang ditawarkan para Zelotis dan Makabean tidak punya relevansi dalam kebenaran Ilahi. Anarkisme a la pembebasan Marxis bukan lagi pengharapan, melainkan re-kreasi pembungkaman lagi.

Yesus memilih jalan sepi itu: berpotensi menjadi raja, tapi menolak dimahkotai emas. Baginya, jabatan bukanlah elitis, melainkan karya. Menariknya, karya—karena lebih utama daripada jabatan—dapat berjalan tanpa jabatan. Dicecarlah para elitis kita dengan ini. Yesus mengosongkan diri dan berkeliling bukanlah demi jabatan elitis, bukan pula demi kekuasaan politis, melainkan demi kebenaran Ilahi. Untuk inilah dia telah memilih sendiri jalan itu.

Memandang salib Yesus kita tersadar bahwa mahkota sebenarnya adalah mahkota duri: karya yang dibalut derita, pembebasan yang tercipta dalam perjuangan. Kita yang memandang salib itu pun mempunyai salib sendiri untuk dipikul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s