Interfaith Consultation on Religious Life and Public Space in Asia (Hong Kong, 3 – 7 September 2015)

Adalah hal yang mendesak untuk merenungkan ulang makna dan peran agama dalam ruang publik dewasa ini. Dalam kerangka itu, konsultasi antariman digagas oleh The Lutheran World Federation/Federasi Gereja Lutheran Dunia (LWF), yang menggumuli peran kehidupan agama dalam ruang publik, secara khusus dalam konteks Asia. Januari 2014 lalu, konsultasi serupa diadakan di Jerman yang menggumuli konteks Eropa dengan mengangkat refleksi teologis bersama antara Kristen dan Islam. Tahun ini, tanggal 3-7 September 2015, LWF menggumuli konteks Asia dari kacamata Kristen dan agama-agama lain di Asia, yang begitu beragam dan kompleks. LWF bekerja sama dengan Tao Fong Shan Christian Centre dan Areopagos. Konsultasi ini diadakan di Tao Fong Shan Christian Centre Hong Kong.

Peserta konsultasi ini sebanyak 45 orang, yang mayoritas merupakan teolog terkemuka dari 12 negara, mulai dari Tiongkok (termasuk Hong Kong), India, Indonesia, Jepang, Filipina, Jerman, Amerika Serikat, Swedia, Norwegia, Jerman, Myanmar, dan Malaysia. Selain berasal dari latar belakang pendidik di universitas/seminari terkemuka, terdapat juga peserta dari Dewan Gereja Dunia (DGD/WCC), gereja Ortodoks Syria Malankara India, National Council of Churches in India (dewan gereja India), dan peserta pemuda. Peserta dari Indonesia ada 7 orang, yaitu Dr. Joas Adiprasetya dari STT Jakarta, Dr. Leonard Chrysostomos Epafras dari ICRC Yogyakarta, Prof. Bambang Ruseno Utomo yang kini mengajar di Lutheran Theological Seminary Hong Kong, dan empat peserta pemuda yaitu Fernando Sihotang dari Komite Nasional LWF, Hesron Sihombing dari GKPI, Parulihan Sipayung dari GKPS, dan Icce Lolaria Sinaga dari HKBP. Semua peserta pemuda berasal dari Indonesia setelah melalui seleksi tulisan (paper). Jadi, latar belakang peserta menunjukkan keragaman perspektif berdasarkan konteks negara, isu ruang publik yang mengemuka, dan usia.

Agama dan Ruang Publik di Asia

Hari pertama, para peserta disambut dengan makan malam oleh The Chinese  University of Hong Kong. Selama 4 hari berikutnya, para peserta disuguhkan dengan beragam kenyataan dan ide tentang agama dan ruang publik. Pembukaan konsultasi diadakan pada tanggal 4 September 2015 di Lutheran Theological Seminary (LTS) Hong Kong. Kata pembuka disampaikan oleh Dr. Tong Wing Sze dari Tao Fong Shan Christian Centre, Dr. Raag Rolfsen dari Areopagos, dan Dr. Simone Sinn dari LWF. Setelah itu, dilanjutkan dengan presentasi pembicara utama yaitu Prof. Anselm K. Min dan Prof. Notto Reidar Thelle.

Prof. Anselm K. Min menyoroti tentang peran agama dalam ruang publik yang dialektik dalam masyarakat pluralis. Dia menyatakan bahwa semua agama di Asia harus menerima kenyataan bahwa politik adalah bentuk yang paling efektif untuk mempraktikkan kasih dan kemanusiaan. Tugas agama karenanya adalah untuk merenungkan secara mendalam ajarannya tentang bagaimana kita harus memperlakukan orang lain dan juga menerjemahkan pesan agama itu dalam istilah-istilah yang bertanggung jawab dan mampu mempengaruhi publik sehingga berpengaruh pada kebijakan publik, sambil menjadi alat kritik bagi negara. Agama juga harus berhenti untuk menggunakan negara demi kepentingan ajarannya dan menekan pihak agama lain, sebaliknya perlu mengembangkan semangat dialog antarumat beragama. Selain itu, agama harus mengarahkan ajarannya pada asas-asas kesamaan berdasarkan gender, etnik, agama, dan budaya untuk menginklusi manusia dalam semua perbedaannya.

Prof. Notto Reidar Thelle menyoroti teologi Lutheran yang berada di ambang ekslusivisme dan keterbukaan. Dia merenungkan ulang makna perbedaan klasik konsep Lutheran tentang “penciptaan” dan “keselamatan”. Konsep “penciptaan” (dunia) Lutheran memang telah memberi keterbukaan bagi orang Kristen untuk berkontribusi dalam ruang publik. Tapi, konsep “keselamatan” yang dihubungkan dengan Yesus Kristus telah memproduksi ungkapan eksklusif/sola (hanya Kristus, hanya Alkitab, hanya anugerah, hanya iman) yang seolah menyekat dan lalu memberi ketegangan pada konsep penciptaan. Karenanya, Prof. Thelle mencoba mendekati persoalan ini dengan konsep Trinitarian. Eksklusivitas konsep sola- itu dimaknai dalam terang pekerjaan Allah Tritunggal.

Setelah sesi keynote speech itu, para peserta kembali ke Tao Fong Shan Christian Centre. Konsultasi dilanjutkan. Secara keseluruhan terdapat 7 panel dengan 3 panelis yang dipimpin 1 orang, kecuali untuk panel 4 yaitu panel pemuda dengan 4 panelis. 7 panel ini dibagi lagi menjadi 2 panel teologi,  3 panel berdasarkan konteks, 1 panel pemuda, dan 1 panel interaksi.

Panel teologi bergumul tentang persoalan teologi yang berkaitan dengan ruang publik. Panel ini menyoroti berbagai pergumulan teologi Kristen dalam memandang ruang publik. Berbagai isu teologi yang diangkat misalnya tentang pertimbangan ulang doktrin keselamatan, konsep Trinitas dan isu ruang publik, Roh Kudus dan spiritualitas dialog yang transformatif, konsep solidaritas di antara komunitas agama, teologi politik dan konsep misi dalam ruang publik. Kesemuanya itu kira-kira hendak mengatakan bahwa teologi Kristen perlu menghargai kekayaan keragaman agama, konsep agama dan negara, serta budaya dalam konteks Asia. Teologi Kristen perlu didaratkan dalam konteks masa kini untuk bisa menjalin kerja sama dan solidaritas dengan umat lain untuk sama-sama berjuang dalam ruang publik demi masyarakat yang adil dan sejahtera. Kita dapat berjalan bersama dengan agama dan budaya lain, tetapi titik berangkat kita tetaplah harus teologi Kristen, teologi kita.

Panel berdasarkan konteks menyoroti konteks Hong Kong, Tiongkok, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Teolog Hong Kong (dan masyarakat Hong Kong) menampilkan 3 isu, yaitu gerakan payung (Umbrella Movement) demi perjuangan menuntut demokrasi dari pemerintah Tiongkok, masyarakat Muslim di Hong Kong dan tempat-tempat ibadahnya, serta penggunaan tenaga nuklir sebagai refleksi atas peristiwa bencana nuklir Fukushima.

Panelis dari Tiongkok menampilkan Kristen Sanshu sebagai sekte Kristen di Tiongkok, gereja migran orang Tiongkok di Perancis sebagai ruang moral, serta suatu survei tentang kehidupan agama di antara para mahasiswa di Tiongkok. Konteks Tiongkok sendiri dipenuhi dengan penindasan terhadap kehidupan agama. Kepentingan negara yang dominan menjadikan kekristenan diasumsikan sebagai produk dan bisa jadi mata-mata barat. Karenanya, seluruh agenda agama harus disesuaikan dengan tuntutan pemerintah. Pertemuan dalam jumlah besar tidak diperkenankan.

Panelis dari Asia Selatan menghadirkan konteks agama dan politik di India yang ditandai kebangkitan fundamentalis Hindu yang bertujuan merekonversi para petobat Kristen, juga kekerasan pada anak dan perempuan. Karenanya, perspektif teologis yang ditawarkan para panelis merupakan upaya teologi pembebasan dan misiologis dari perspektif marjinal, feminis, dan warga kelas dua.

Panelis dari Asia Tenggara berasal dari 3 negara berbeda: Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Panelis dari Malaysia menghadirkan peluang toleransi yang dapat dihasilkan bagi perkembangan hubungan antaragama di Malaysia. Perjuangan bersama ini terhasil sebagai dampak dari perjuangan bersama melawan keputusan pemerintah tentang larangan penggunaan nama “Allah” oleh Kristen dan Alkitab Malaysia. Panelis dari Filipina menyoroti isu LGBTQ dengan queer reading atas kisah Daud dan Jonatan, lalu kisah Lilith dalam mitos Yahudi (Midrash) yang lari dari Eden. Panelis dari Indonesia akan dihadirkan berikut.

Selanjutnya, panel interaksi mengasumsikan pentingnya interaksi antar agama-agama sebagai usaha saling menyuburkan. Panelis pertama memaparkan kehadiran organisasi transnasional yoga yang berfokus untuk pengumpulan dana bagi charity. Panelis kedua menceritakan adanya petualang yang berjalan kaki demi perdamaian dalam tengah konteks perdagangan senjata di Swedia, yang merupakan kerjasama antara Kristen dan Buddha. Panelis ketiga dari Myanmar memaparkan tentang potensi konflik karena kehadiran agama-agama lain di tengah dominasi agama Buddha di negaranya. Bagaimanapun, dia melihat kepelbagaian itu sebagai kesempatan untuk membangun hubungan yang sehat antarumat beragama.

 

Agama dan Ruang Publik dalam Konteks Indonesia

            Dari 6 panelis Indonesia, 5 di antaranya berbicara tentang agama dan ruang publik di Indonesia, hanya seorang berbicara dalam tataran teologi. Panel pemuda dilakukan bersamaan dengan menghadirkan 4 pemuda dari Indonesia. Fernando Sihotang berbicara tentang tantangan pluralitas di Indonesia dengan ide bangunan communion (persekutuan) demi perdamaian dan keadilan. Parulihan Sipayung berbicara tentang memaknai ulang agama, apakah di dalam agama kita yang menemukan Allah atau sebaliknya Allah yang menemukan kita. Penulis meninjau ulang doktrin Luther tentang dua kerajaan, menemukan peran Kristen dan agama-agama lain di dalam kedua kerajaan itu, lalu memakainya bagi dialog pembebasan agama-agama. Terakhir, Icce Lolaria Sinaga menyoroti hubungan antara komunitas-komunitas agama, negara dan masyarakat.

Konteks Indonesia yang ditampilkan adalah kemajemukan yang begitu luas, mulai dari agama, aliran agama, suku, ras, bahasa, juga konteks kemiskinan dan ketidakadilan. Kehidupan agama di Indonesia dicirikan dengan dominasi ruang publik oleh agama dominan, terutama ditandai dengan kehadiran dan berkembangnya kelompok fundamentalis Islam yang menginfiltrasi kelompok Islam moderat (yang merupakan mayoritas di Indonesia) pasca reformasi. Pengaruh mereka tampak dengan usaha mengganti dasar negara Pancasila menjadi syariat Islam sebagai ideologi politik. Karena kandas di level nasional, maka usaha tersebut dikerjakan di level daerah dengan memanfaatkan peraturan tentang Otonomi Daerah.

Selain itu, pergumulan tentang perlindungan kaum minoritas juga diperkenalkan dalam konsultasi. Pembangunan dan penutupan rumah ibadat minoritas karena izin, juga penindasan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap sesat/bidah (seperti Ahmadiyah) oleh kelompok arus utama, semuanya menunjukkan ketidakhadiran pemerintah dalam perlindungan kehidupan beragama. Agama-agama tradisional, seperti Parmalim, dll turut mendapat perhatian.

Panelis dari Indonesia sepakat bahwa Pancasila, sebagai dasar hidup bernegara, merupakan dasar utama bagi toleransi di Indonesia. Sebagai negara Pancasila, hubungan agama dan negara bersifat dialektik, bukan bersifat pemisahan total seperti negara sekuler, bukan pula bersifat penyatuan seperti dalam negara agama. Agama dan negara berbeda, tapi saling mengakui dan menyuburkan. Sila pertama Pancasila menunjukkan pengakuan akan theisme, secara historis maupun filosofis. Meskipun demikian, eksistensi ateisme menjadi pergumulan baru dalam konsep negara Pancasila.

Apa yang juga cukup menarik dipresentasikan adalah ruang publik Indonesia yang mencakup penggunaan cybersphere. Dr. Leonard C. Epafras mengatakan bahwa ruang publik dalam cybersphere—misalnya dalam penggunaan internet dan media sosial oleh pemuda (millennials; 18-34 tahun) yang masif di Indonesia—ternyata juga dipenuhi dengan ekspresi agama yang berkaitan dengan isu-isu sosial dan politik.

     

Kunjungan ke Tiga Tempat Ibadah Hong Kong

            Pada hari minggu, 6 September 2015, para peserta berkesempatan beribadah di gereja All Saints’ Cathedral yang beraliran Anglikan. Setelah ibadah dan makan siang, para peserta dibawa oleh panitia untuk mengunjungi tiga tempat ibadah di Hong Kong: Kelenteng Wong Tai Sin, Mesjid Kowloon, dan Khalsa Diwan (kuil Sikh) Hong Kong.

Kelenteng Wong Tai Sin merupakan pusat ibadah agama tradisional Tionghoa di Hong Kong, yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha. Kepada para dewa, para umat berdoa memohon pertolongan dan menilik nasibnya.

Mesjid Kowloon merupakan salah satu dari 5 mesjid yang terdapat di Hong Kong dan merupakan yang terbesar. Mesjid ini juga merupakan pusat pembinaan agama Islam. Menurut manajer mesjid ini, toleransi di Hong Kong sangat bagus dan tidak ada larangan dari pemerintah tentang pembangunan mesjid. Yang menjadi masalah adalah keterbatasan lahan di Hong Kong. Di mesjid ini juga disediakan program pembinaan khusus bagi para tenaga kerja Indonesia, karena ternyata tenaga kerja dari Indonesia merupakan tenaga kerja asing yang terbesar di Hong Kong.

Di Khalsa Diwan kami berkesempatan diberikan penjelasan tentang sejarah agama Sikh, menikmati makanan mereka di langar, dan menyaksikan ibadah mereka. Menurut mereka, tugas agama bukan hanya untuk memberitakan ajaran, tetapi juga untuk memberi makan. Itu sebabnya, mereka mewajibkan adanya langar (tempat makan) yang menyediakan makanan bagi siapapun yang datang, apapun agamanya. Selain itu, setiap orang di langar dan kuil duduk di lantai, yang menunjukkan kesamaan derajat manusia, sebagai bentuk melawan praktik kasta terutama di awal munculnya agama Sikh di India.

 

Penutup

Konsultasi agama dan ruang publik ini sungguh menajamkan perspektif para peserta untuk merenungkan makna ulang agama di tengah-tengah dunia. Agama tidak hanya entitas doktrinal dan konfesional, melainkan juga entitas misiologis, yang bertanggung jawab untuk memberi kontribusi dalam ruang publik. Kenyataan-kenyataan, refleksi dan ide teologis yang diberikan oleh para panelis memberi cukup ruang untuk memaknai kehadiran agama dalam beragam perspektif dan konteks. Di dalamnya orang Kristen tidak hanya belajar dari orang Kristen lain di belahan Asia dan dunia lain, melainkan juga dari agama dan tradisi lain untuk menciptakan peran maksimal dalam ruang publik.

Selain menemukan bahwa agama itu punya peran signifikan, agama juga ternyata punya potensi menimbulkan masalah dalam ruang publik, atau paling tidak dijadikan masalah, berkaitan dengan hubungan antarumat beragama, masyarakat dan negara. Konsultasi ini pada gilirannya menjadi jembatan yang baik untuk saling memperkaya, terlebih lagi karena melibatkan tidak hanya suara dari kaum laki-laki, tetapi juga perempuan dan pemuda. Begitulah kira-kira isi panel kesimpulan yang dirembukkan semua panelis. Karenanya, adalah suatu anugerah bagi penulis dan tiga pemuda lain menjadi peserta konsultasi ini. Soli Deo gloria!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s